
Dion duduk berhadapan dengan dokter bersama Dina. " Kondisi kaki dan tangan Bapak Dion sudah mulai membaik, mulai seminggu ke depan sudah mulai bisa beraktivitas seperti sedia kalah", papa Dokter sopan.
" Terima kasih dok", ucap Dion dan Dina bersamaan dan pamit untuk pulang.
Betapa bahagia nya Dion mendengar kabar baik ini, dia tidak pernah berhenti mengucap syukur sambil menitik kan air mata haru.
" Mas jangan terlalu memaksa, pelan - pelan saja, nanti juga terbiasa berdiri sendiri", ucap Dina memperingati ketika melihat Dion berusaha berjalan.
" Bantu pegangin Mas, sayang".
Dina memegangi lengan suaminya dengan sabar, awalnya Dion agak susah tapi lama kelamaan Dion pun lancar berjalan.
" Yei Mas, udah bisa jalan sayang", ucap bahagia Dion.
Nyata nya tidak harus menunggu satu minggu ke depan Dion sudah bisa berjalan layak nya seperti biasa, itu semua atas izin yang maha kuasa, apa pun yang ia kehendaki akan terjadi dan manusia hanya bisa berserah dan memohon pada pemilik semesta.
" Alhamdulillah Mas, sekarang Mas bisa seperti dulu", binar Dina bahagia.
" Papa udah bisa jalan nya", Naila bahagia melihat papa nya sudah bisa berjalan.
" Iya sayang Papa udah bisa jalan", Dion langsung menghampiri putrinya yang masih di pintu kamar mereka.
Sedangkan di kediaman Wijaya di jakarta, Tina mulai melakukan aksinya menghasut kedua orang tua itu, Dia tau kalau Dion tidak akan berani menolak perintah Kakek nya, sebab jika Dion menolak Dion tidak akan mendapatkan apa pun dari kakek, setidak nya itu yang ada di pikiran Tina saat ini.
" Nenek, apa kabar, kakek Mama kok enggak kelihatan", ucap Tina manja kepada Nenek Malika.
" Nenek baik sayang , bagaimana kabar kamu, kalau kakek lagi di kantor", ucap lembut nenek Malika.
" Nenek tau enggak, kalau Dion sekarang nikah sama perempuan kampung yang ingin mengambil harta keluarga Wijaya", kompor Tina pun mulai keluar.
" Emang dasar ya perempuan itu, nenek dari awal udah enggak suka sama Dia, nenek pengen nya Dion nikah sama kamu, nenek tidak akan membiarkan wanita kampung itu menjadi nyonya Dion".
" Iya nek aku juga enggak nyangka, Dia begitu licik, pokok nya nenek harus membuat dia menjauh dari kehidupan Dion, aku sayang banget sama Dion nek dan aku enggak rela Dia merebut Dion dari ku", Tina mulai mengeluarkan air mata palsu nya untuk mengambil simpati sang Nenek Malika.
__ADS_1
" Kamu enggak usah sedih sayang, nenek akan membantu kamu, kamu sudah nenek anggap seperti cucu nenek sendiri, dan tidak ada yang bisa merebut Dion dari kamu", ucap Nenek Malika lembut ke pada Tina.
Tanpa Nenek Malika sadari, bahwa Dion sudah milik orang lain, dan ucapan nya barusan mengatakan bahwa Tina lah sang perebut jika Dia membiarkan Dion meninggalkan Dina, sungguh Tidak habis pikir dengan keluarga ini.
Tina sengaja melakukan ini karena merasa bahwa mengandalkan Mama Tika bukan harapan lagi, Makanya Tina mulai menyusun strategi menghasut Nenek Malika.
" Eh tuan sudah bisa jalan", ucap Bik Sumi ketika melihat majikan nya berjalan menuju meja makan.
" Iya bik, ini semua berkat doa kalian", balas Dion ramah. Bik Sumi pun mengangguk tersenyum dan melangkah pergi membiarkan keluarga itu sarapan.
Mereka mulai duduk dan Dina dengan telaten melayani suami dan anak nya mengambilkan nasi serta lauk.
" Terima kasih sayang".
" Sama² Mas ", senyum Dina tak henti mengembang bahagia melihat suaminya sudah bisa berjalan seperti sedia kalah.
" Assalamualaikum", ucap Abraham ketika sampai di rumah Dion. Ya karena Dion memutuskan membeli rumah sendiri dan membawa Bik Sumi juga sebagai asisten rumah tangga nya setelah meminta ijin Abraham dan Di perbolehkan.
" Ayo Papa sama Mama kita sarapan bersama", Dina mulai mengambilkan nasi serta Lauk untuk mertua nya, ya walaupun Tika masih dingin dan tidak memperdulikan nya, tetapi Dina tetap menjadi mantu yang baik.
" Eh Yon, kursi roda kamu kemana", heran Abraham yang belum tau tentang Dion yang sudah bisa berjalan.
" Ada di kamar, Dion enggak membutuhkan itu lagi pa, Dion udah bisa jalan", ucap bahagia Dion.
" Alhamdulillah papa seneng dengar nya", Ucap Abraham sambil melirik ke arah istrinya yang mulai merasa bersalah.
" Iya Pa, ini semua berkat doa kalian semua".
Sedangkan Tika, yang merasa malu atas sikap nya sebisa mungkin bersikap biasa saja, Dia tidak ingin Dina merasa menang dan besar kepala.
" Jangan kamu kira saya akan baik sama kamu ya, sampai kapan pun saya enggak akan menerima kamu", Sinis Tika ketika berdua dengan Dina di dapur membuat cemilan, Tika yang terpaksa karena takut Suaminya marah.
Mendengar ucapan Mertuanya, Dina berusaha bersikap biasa saja dan tidak mengambil hati, walaupun kini sangat sakit Dina akan berjuang untuk pernikahan mereka.
__ADS_1
" Mama tidak mau menerima Dian tidak apa, Dina tidak keberatan yang jelas suami Dina menganggap Dina ada dan sangat menyayangi Dina", balas Dina sambil tersenyum Dina tidak akan membiarkan mertua nya ini semena terhadapnya.
" Berani kamu ya sekarang dasar wanita kampung", emosi Mama Tika yang tidak menyangka kalau Dina akan berani menjawabnya.
" Perlu Mama tau aku bukan wanita lemah yang akan terus mengalah, dan aku akan mempertahankan pernikahan ku dari mertua yang tidak pernah menginginkan ku".
Karena geram dengan tingkah Dina yang sudah mulai berani Mama Tika pun Pergi begitu saja tanpa memperdulikan Abraham yang memanggilnya.
" Mama kenapa pa", heran Dion melihat Mama Tika pergi entah kemana tanpa mendengar panggilan Papa nya.
" Biarkan saja, mungkin Mama mu ada urusan", ucap Abraham yang pahan pasti telah terjadi sesuatu di antara menantu dan istrinya.
" Ini pa ,mas silahkan di cicipin", ucap Dina santai seolah tidak terjadi apa pun.
" Terima kasih sayang", ucap Dion dan papa Abraham.
" Aku pamit ke kamar Naila dulu ya Pa, Ma", pamit Dina yang di angguki mereka.
Tap.. tap.. tap.
Dina berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar putrinya, bagi nya Dina tidak akan pernah termakan dengan omongan receh mertua nya yang selalu mencari gara² dengan nya hanya karena dia berasal dari wanita kampung, dan tidak berada.
Klekkk.. Pintu pun di buka.
" Sayang, Mama boleh masuk".
" Iya Ma, masuk aja Naila seneng Mama nemuin Naila".
Dina duduk di dekat Naila yang sedang main game memasak di hp nya, kamu jangan terlalu sering main ya. "kamu harus belajar supaya pinter", pinta Dina.
" Iya Ma", Naila selalu menurut dengan Dina karena ya memang Naila sudah menyayanginya.
" Bagus Anak pintar", Dina mengusap kepala Naila lembut.
__ADS_1