Nasib Wanita Malang

Nasib Wanita Malang
Dina kesakitan


__ADS_3

Setelah pulang dari mengantar Naila. Dion langsung mengajak Dina untuk berangkat ke rumah Paman Broto


Dapat di lihat pancaran kebahagiaan Dina sepanjang perjalan. Dion fokus ke jalan dan sesekali melihat ke arah samping sambil tersenyum lembut.


" Makasih Mas udah mau nganter aku", ucap Dina dan langsung memeluk lengan Dion. Ya Dina semenjak hamil memang sangat manja dan tidak jarang menguras sabar Dion.


" Sama - sama Sayang, Ini sudah menjadi tugas mas", ucap lembut Dion.


Dina kembali ke posisinya semula karena melihat Dion yang sepertinya kesusahan menyetir.


" Apakah aku mengganggu".


" Hei! Tidak sayang, siapa yang bilang gitu".


" Aku lihat sepertinya begitu".


" Enggak kok Mas malahan senang kamu peluk apa lagi ini", ucap Dion sambil menunjuk pipinya sendiri.


Dan cup Dina melalukan apa permintaan suaminya. Dion terkejut melihat istrinya menanggapi dengan serius. Padahal barusan Dion hanya menggodanya saja.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh barulah mereka sampai di depan rumah paman Broto.


Dion keluar duluan dan membukakan pintu untuk istrinya, Mereka berjalan beriringan, Dion menenteng banyak oleh - oleh buat keluarga Dina karena mereka memang sangat jarang ke sini hanya paling Dina yang mentransfer uang kepada Tasya atau pun Paman Broto.


" Assalamualaikum".


" Wa'alaikumsalam".


Dina bersama Dion masuk, tapi yang ada hanya Tasya. Mungkin Paman sama Bibi mereka sudah ke toko. Ya memang begitu keseharian mereka membuka toko tapi itulah Paman sampai menerima karyawan baru karena sekarang toko sangat banyak pembelinya.


Tasya yang sejak tadi sudah siap. Membereskan bawaan Kakak ipar nya langsung menuju makam, karena Dina dan Dion tidak bisa lama.


Di dalam mobil Tasya tak henti - hentinya bercerita tentang hari hanya, baginya Dina dan Dion sudah seperti orang tua nya. Apalagi Dion yang selalu baik kepadanya jadi membuat Tasya dekat dan sangat akrab.


Setelah sampai di makam, Mereka mulai menabur bunga di makam kedua orang tua Dina dan Tasya yang bersampingan.


Dina sekuat hati menahan supaya tidak menangis, karena konon para orang tua dahulu ngomong jangan menangis di makam karena mereka akan sedih dan tidak bisa tenang. Ya begitulah entah itu benar atau tidak tapi Dina tidak ingin menangis saat ini.


" *Bapak, Ibu! Dina datang membawa suami Dina, Dina sudah bahagia sekarang Pak, Bu. Dina mendapatkan lelaki yang baik dan sayang kepada Dina dan keluarga, dan Dina sekarang lagi mengandung cucu kalian cucu yang selama ini Bapak Dan Ibu idamkan. Doa kan Dina dan Tasya ya semoga bisa menjadi anak yang bisa membanggakan kalian", Batin Dina.

__ADS_1


"Pak, Bu Tasya datang bersama Kaka Dina dengan Kaka Ipar, Mereka sangat baik loh kepada Tasya, Tasya janji akan nurut sama kak Dina dan akan selalu mendoakan kalian semua, semoga Bapak Sama Ibu tenang ya di surga nya Allah", Tasya tidak kuasa menahan air mata nya.


" Pak, Bu! Aku berjanji akan menjaga kedua putri kalian terutama Dina istri ku, aku sangat menyayangi nya dan semoga kalian bisa tenang di alam Sana*".


Dion mulai mengucap punggung sang istri memberi ketegaran. Setelah selesai mereka pulang dan akan selalu mendoakan kedua orang tua mereka di setiap sujud.


Kini Dion dengan Dina langsung pulang ke lampung setelah mengantar Tasya terlebih dahulu. Awal nya Tasya tadi menyuruh mereka menginap saja tapi mereka menolak lantaran Naila mereka tinggal dan pasti akan mencari.mereja ketika pulang sekolah nanti.


Dina terus Diam dan melamun sejak dari makam tadi, Dion bisa merasakan kesedihan sang istri.


Dion menepikan mobilnya dulu karena tidak ingin terjadi hal buruk dengan mereka.


" Menangis lah sayang jika ingin menangis, Mas ada untuk kamu", Dion langsung menarik Dina ke pelukanya.


Dina langsung menangis mencurahkan kesedihanya. dan lagi - lagi Dina teringat mertua nya yang sama sekali tidak berniat menerima nya.


" Mas apakah aku bukan mantu yang baik".


" Enggak sayang kamu mantu yang baik, ibu yang baik dan istri yang baik, Mas sangat bersyukur menikahi kamu".


Dina langsung meringis merasakan perut nya yang teramat saki.


" Mas perut ku sangat sakit", ucap Dina meringis dan wajah nya memucat.


Dion langsung menjalankan mobilnya mencari rumah sakit terdekat. Setelah sampai Dion membawa Dina dengan sedikit berlari.


" Dokter tolong istri saya".


Para perawat dan dokter langsung menyiapkan alat periksa.


" Bapak silahkan tunggu di luar dulu".


Dion menunggu dengan gelisah sedari tadi hanya mondar mandir yang dilakukanya sakit merasa khawatir dengan keadaan Dina dan bayi mereka.


Dion sangat takut saat ini, apalagi melihat wajah pucat Dina yang menahan sakit.


klek. pintu ruang Dina terbuka.


" Dok, bagaimana keadaan istri saya dok".

__ADS_1


" Silahkan ikut keruangan saya sebentar pak, Nanti akan saya jelaskan di sana".


" Baiklah jadi begini pak Dion, istri bapak kondisi kandungan nya sangat lemah saat ini dan harus di rawat inap dahulu, harap tidak membuat nya banyak pikiran,


karena kondisi ibu Dina saat ini sangat memperihatinkan".


" Jadi apakah bayi kami bisa kembali normal Dok".


" Bisa hanya saja jangan sampai membuat pasien Setres dan kondisi ibu hamil usahakan selalu baik, nanti saya akan memberikan vitamin untuk istri bapak".


" Terima kasih dok".


Dion langsung keluar dengan wajah sedih, Dion tau penyebabnya Dion sangat merasa bersalah saat ini, belum bisa membuat Dina di terima oleh Mamanya.


Bukan tidak ingin Dion mengusahakan tapi mamanya yang keras tidak bisa di kasari, karena beliau ada penyakit jantung.


" Sayang kamu sudah bangun", ucap Dion mengusap sayang kepala istrinya dan tanpa bisa di cegah air mata nya lolos begitu saja.


" Mas kok nangis kenapa, aku enggak apa - apa mas", Ucap Dina karena merasakan tubuh suaminya bergetar.


" Maaf kan Mas sayang, Mas laki- laki tidak berguna mas enggak bisa jaga kamu dan bayi kita dan belum bisa membuat kamu bahagia".


" Mas aku bahagia kok bersama mas, aku sayang sama kalian".


Dion tidak bisa berucap lagi Dion sendiri heran kepada dirinya sendiri, seharusnya saat ini Dion yang memberi Dina kekuatan kok malah Sebaliknya, dan Dina malah terlihat tanpa beban apa sepintar itu Dina menyembunyikan kesedihan nya.


" Mas aku ingin pulang".


" Enggak sayang kata dokter kamu harus rawat inap dulu, kondisi kandungan kamu sedang lemah saat ini".


" Tapi aku bosen Mas di sini, Apa lagi aku enggak suka bau obat- obatan", Dina cemberut.


" Yang sabar sayang tunggu kondisi kamu dan bayi kita sehat baru kira pulang", bujuk Dion.


Dion memeluk erat istri nya, sedangkan Dina yang merasa nyaman semakin menenggelamkan wajah nya di dada bidang Dion menghirup dalam - dalam wangi tubuh sang suami.


**jangan lupa dukungan nya readers. beri like komen vote dan hadiahnya yaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ’ͺ🏼


dan terima kasih buat yang sudah mampir dan memberi itu semua. salam hangat dari Bisma😍😍😍😍😍😍**

__ADS_1


__ADS_2