
Dina tidur di kursi dekat tempat tidur suaminya, karena Dina tidak ingin jauh. Dion membuka mata saat merasakan kulit Dina menyentuh kulitnya.
" Emm, Mas apakah aku menggangu tidur mu", ucap Dina lembut.
" Enggak kok sayang, mas belum tidur kok dari tadi", ucap Dion meyakinkan.
" Selamat pagi Bapak Dion", ucap dokter rama, dan melihat Dina yang masih tidur.
" Pagi Dok", senyum Dion tulus.
Dina pun langsung membuka mata mendengar suara dokter, dan segera menyingkir supaya dokter itu bisa memeriksa keadaan suaminya.
" Bapak harus melakukan pemeriksaan rutin, supaya bisa melihat perkembangan kaki dan tangan bapak, karena keadaaan bapak masih bisa di bilang patah nya belum terlalu parah jadi masa penyembuhan nya tidak akan memakan waktu lama", papar dokter.
" Baik dok, berapa lama waktu pemulihan nya", ucap Dina.
" Tidak akan lama hanya memakan waktu dua minggu", jawab dokter ramah, baiklah kalau begitu saya permisi dulu.
" Iya dok, terima kasih". Dokter pun pergi meninggal kan ruangan Dion.
" Dion bagaimana keadaan kamu", ucap papa Abraham ketika mereka tiba di ruangan anaknya.
" Dion cuma patah tulang sedikit aja Pa, enggak terlalu serius", ucap Dion.
" Ini semua gara² istri kamu yang enggak becus ngurus kamu", ucap Tika menyalahkan Dina.
" Ma ini sama sekali enggak ada hubungan nya dengan Istri Dion, Dion yang ingin pulang menemui istri Dion, makanya Dion memutuskan untuk pulang", ucap Dion masih menyimpan dulu kejadian yang sebenarnya.
" Maaf kan Ma, Aku bukan istri yang baik", ucap Dina menunduk menahan Tangis.
" Memang kamu bukan istri yang berguna, bisanya hanya menyusahkan anak saya saja".
" Ma jaga bicara mu, ini semua bukan salah menantu kita".
" Papa berhenti nyebut Dia menantu kita, karena Mama enggak akan sudi menerima nya sampai kapan pun".
" Mama kenapa sih sangat benci pada Istri Dion, Dina salah apa sama Mama", ucap Dion yang tidak tahan dengan sikap Mamanya.
" Gara² perempuan ini kamu jadi enggak nurut Mama lagi, dan lebih membela wanita ini, dan gara² Dia kamu enggak mau mama jodohin sama Tina padahal apa kurang nya Tina coba", ucap Tika sinis.
__ADS_1
" Cukup Ma, Mama tidak bisa memaksakan kehendak dengan Dion, karena Dion sekalipun tidak pernah cinta dengan Tina, Dan perlu mama ingat kalau Dion sangat mencintai istri Dion", tegasnya membela Dina.
" Sudah Ma, Dion lagi sakit kenapa mama membuat keributan", ucap Abraham yang sudah jengah dengan sikap istrinya.
" Terus aja papa bela anak dan mantu papa itu", ketus Tika.
" Yon maaf kan sikap Mama mu ya, sekarang Papa sama mama mau pulang dulu", ucap Abraham yang tidak enak hati atas perilaku istrinya.
" Bukan Papa yang salah", ucap Dion datar.
Abraham pun mengajak istrinya pulang. " Ayo Ma pulang, kamu sangat keterlaluan sekali sama anak sendiri", ucap Abraham pada istrinya dan berjalan menuju mobil mereka.
" Kamu enggak apa² sayang ucap Dion ke pada istrinya", ketika orang tua nya sudah pergi.
" Aku enggak apa² Mas, Mas enggak usah khawatir", ucap Dina tersenyum menahan tangis.
" Mas harap kamu enggak mengambil hati sikap Mama, karena walau bagaimana pun Mama orang tua kita".
" Iya mas aku paham dan aku enggak akan ambil hati". Dina pun mendekat kearah suami nya lalu memeluk kan mencari ketenangan.
" Kamu yang sabar ya sayang, Mas janji akan selalu melindungi kamu", ucap Dion mengusap kepala istrinya lembut dengan tangan kiri, karena tangan kanan masih dalam proses penyembuhan.
" Kamu jangan lupa sarapan juga sayang, mas enggak mau, saat mas sembuh malahan kamu yang sakit", gurau Dion mencairkan suasana.
" Iya mas, setelah ini aku sarapan kok, sekarang mas dulu yang sarapan aku suapin", ucap Dina menyuapi suaminya.
" Gimana mas apakah enak makanan rumah sakit", goda Dina.
" Enggak enak sih sayang, cuma ya mau gimana lagi".
" Maka nya mas jangan sakit lagi,kalau enggak enak".
Dion tersenyum mendengar candaan istrinya, didalam hati Dion selalu mengucap syukur, karena tidak masuk ke dalam jebakan Tina, Dion tidak bisa membayang kan bagaimana hancurnya hati Dina kalau itu terjadi, dan tidak akan pernah bisa membayang kan bagaimana nasib rumah tangganya.
" Mas kok ngelamun, Apa ad yang sakit", ucap Dina panik.
" Enggak sayang, Mas hanya merasa sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan kamu", jujur Dion.
" Aku yang lebih bersyukur bisa memili suami kayak Mas, yang selalu bersikap lembut dan selalu ada untuk ku", ucap Dina tersenyum sangat manis.
__ADS_1
" Sudah sayang Mas udah kenyang", ucap Dion.
Dina pun meletakan sarapan itu kembali. " Sebentar lagi Naila sama Mbak Lala kesini sekalian nganter pakaian ganti", ujar Dina memberi tahu.
" Kita mau kemana Mbak", tanya Naila.
" Kita akan ke rumah sakit, jenguk Papa non yang lagi sakit sekalian kita bawa makanan dan pakaian ganti buat Mama", ucap Mbak Lala sopan.
" Mama, Papa sakit apa", Kata Naila sedih melihat keadaan Papanya.
" Papa enggak apa² kok sayang, jangan nangis dong biar Papa cepat sembuh", ucap Dion lembut dan pura² sehat supaya Putri kecil nya tidak menangis.
" Nyonya ini saya bawain pakaian sama sarapan buat nyonya, nyonya pasti belum sempat sarapan", ucap Mbak Lala sopan.
" Terima kasih Mbak, saya memang belum sempat sarapan, saya ganti pakai dulu ya, tolong jagain Tuan sebentar", pinta Dina lalu melangkah ke kamar mandi yang ada di ruangan suaminya.
" Papa kok bisa sakit, apa Tante Tina yang bikin Papa sakit", ucap polos Naila sambil menunjukan wajah kesal dengan Tina.
Dion tidak menjawab pertanyaan putrinya. " Sini sayang peluk Papa, Papa kangen loh sama putri cantik papa ini", pinta Dion dan Naila pun berjalan memeluk sang Papa.
" Papa cepat sembuh ya, Naila sayang sama Papa".
" Naila doain Papa ya, supaya cepat sembuh dan bisa nemenin Naila main".
" Ya Allah tolong sembuhin Papa Naila ya Allah, Naila sayang sama papa", doa Naila.
Dion tersenyum mendengar doa putrinya, dan mengusap punggung Naila lembut.
" Ayo sarapan bareng Mbak, Naila", ucap Dina ketika sudah duduk di sofa ruangan suaminya.
" Saya sudah sarapan pun, silahkan ibu sama non Naila saja, soal ya dari tadi non Naila enggak mau sama sekali sarapan", ucap Mbak Lala.
" Ayo sini sayang sarapan bareng Mama, kamu harus sarapan supaya enggak sakit dan bisa jagain Papa", bujuk Dina dan Naila pun mengangguk mendekati Dina.
" Mama suapin ya sayang, Anak mama harus banyak makan biar enggak sakit".
" Iya Ma", ucap Naila. Mereka pun makan Dengan lahap nya, jujur saja Dina sudah sangat merasa lapar dari tadi.
" Mama jangan banyak² mulut Naila enggak muat nampung nya", ucap Naila cemberut karena Dina menyuapinya dengan porsi Dina.
__ADS_1
" Hahhaha. Maaf sayang Mama lupa", ucap Dina cengengesan.