
Uwek... wukkk.. Dina memuntahkan semua isi perut nya, yang serasa di aduk - aduk, Dina langsung pucat dan lemas setelah memuntahkan isi cairan bening dari mulut nya, Tiba - tiba saja Dina merasakan pusing teramat dan Brukk, Dina pun langsung tak sadarkan diri di dekat wastafel.
Sedangkan Dion yang sudah berada di kantor sejak tadi, tiba - tiba merasa firasat tidak enak dengan istrinya, Dion langsung mengambil hp dan menghubungi istri, tapi sudah berapa kali tidak ada panggilan terjawab, akhirnya Dion menelpon telpon rumah.
tut..tutt....
Sedangkan bik Sumi yang mendengar telpon rumah berbunyi segeran mungkin berlari mengangkat nya.
" Halo bik, Nyonya Dina dina kok dari tadi saya telpon enggak di jawab".
" Nyonya lagi di kamar tuan, belum turun",
" Tolong panggilkan Nyonya dan bilang kalau Saya menelpon".
" Baik tuan", Bik Sumi pun langsung berjalan ke lantai du kamar Nyonya nya, Ya semenjak Dion sudah bisa berjalan mereka memutuskan untuk menempati kamar lama lagi.
Tok.. tok...tok.. " Nyonya ini saya Bik Sumi".
Tapi sudah berapa kali pintu di ketok tidak ada sautan dari dalam, dan bik Sumi jadi panik, untuk saja pintu nya enggak di kunci jadi Bik Sumi langsung memberanikan diri masuk, tetapi tidak mendapati Dina di sana, Bik Sumi pun mencari di kamar mandi dan alangkah terkejutnya dia melihat Dina yang sudah tergeletak di lantai dekat wastafel dengan wajah yabg pucat dan keringat dingin.
" Nyonya kenapa, nyonya bangun, Ya ampun gimana ini ucap Bik Sumi panik", dan keluar memanggil sekuriti di depan.
" Min tolong, nyonya pingsang di kamar mandi", panik Bik Sumi langsung menarik Karmin ke dalam.Karena Karmin masih dalam mode bingung.
" Gimana bisa pingsan sih Bik, coba hubungin Tuan bisa gawat ini kalau taun tau Nyonya seperti ini", ucap Karmin ikut panik ketika sudah meletakan Dina ke tempat tidur.
Bik Sumi pun menghubungi Dion ketika Karmin sudah pamit keluar untuk menjaga gerbang kembali.
" Tuan nyonya pingsan di kamar mandi tua, dan belum sadar wajah nya sangat pucat", ucap Bik Sumi gemetar.
__ADS_1
" Apa... Gimana bisa, Baiklah saya akan segera pulang, Bibi hubungi dokter keluarga dan suruh datang secepat nya", ucap Dion tak kalah panik dan langsung bergegas pulang dan membalas sapaan karyawan nya.
Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dion takut terjadi sesuatu dengan istrinya, tidak butuh lama mobil pun sampai barengan dengan mobil dokter keluarga yang akan memeriksa Dina.
" Mari masuk dok", ucap Dion dan dokter pun mengikuti langkah Dion dari belakang, dokter bisa melihat dengan jelas raut khawatir Dion ketika turun dari mobil barusan.
Dokter mulai memeriksa keadaan Dina, tapi aneh nya dokter itu tersenyum yang membuat Dion geram karena pasal nya Dina yang pucat membuat Dion sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Dina.
" Gimana keadaan istri saya dok".
" Istri anda tidak apa - apa hanya kecapean dan perlu banyak istirahat, karena istri anda sekarang sedang berbadan dua", doker dengan senyum menawan.
" Apa dok, saya enggak salah dengar kan", ucap Dion langsung menangis bahagia. Pasalnya Dion tidak menyangka mereka hanya dua kali melakukan nya dan langsung jadi.
" Iya tuan itu benar, dan sebentar lagi Nyonya akan sadar, harap menjaga kesehatan Nyonya dan jangan membuat nya terlalu capek, Kalau begitu saya permisi dulu", ucap dokter.
" Terima kasih Dok", ucap Dion dan dokter pun keluarga.
" Sayang kamu enggak boleh banyak gerak dulu, kamu harus jaga kesehatan, karena sekarang kamu lagi hamil anak kita", ucap Dion sambil mengelus perut rata sang istri.
" Mas enggak bercanda kan", ucap Dina dengan air mata tidak kuasa menahan haru dan bahagia, Dina langsung memeluk erat tubuh sang istri.
Tok.. tok.. Belum sempat Dion menjawab terdengar suara pintu di ketuk.
" Masuk".
kelekkm.. Pintu pun di buka menampilkan Bik Sumi membawa nampan.
" Ini Tuan teh hangat untuk nyonya, supaya mengurangi rasa mual nya".
__ADS_1
" Iya terima kasih bik". Dan bik Sumi pun keluar untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Hoekkk. hoekk. Dina langsung berlari ke kamar mandi karena merasa mual mencium aroma teh yang di bawah Bik Sumi barusan.
Dion langsung menghampiri sang istri dan memijit tekuk nya supaya meredakan rasa mual itu, betapa kasihan nya Dion melihat wajah pucat istrinya, lama mereka di kamar mandi di rasa sudah agak mendingan Dion menggendong Dina menuju tempat tidur mereka.
" Kamu mau makan apa sayang, biar Mas suruh Bik Sumi bikinin", ucap lembut Dion sambil memijit lembut kening Dina yang merasa pusing.
" Mau peluk Mas aja", ucap Dina manja dan langsung memeluk Suaminya menenggelamkan wajah nya di dada bidang Dion.
" Kamu harus isi perut dulu sayang, dari tadi isi perut udah keluar semua".
" Entar aja Mas, Aku masih nyaman dengan posisi seperti ini", Dina terus menciumi dada Dion beralih ke rahang dan kembali lagi ke dada, membuat Dion kegelian.
" Sayang jangan gitu geli tau Mas nya", ucap Dion karena memang sangat geli atas ulah sang istri yang iseng.
" Ih.. Mas ini mau nya dedek tau", Dina terus menguselkan wajah nya di dada Dion.
Mau tidak mau Dion menahan nya, dan mendekap erat tubuh sang istri. Dina sangat bahagia dengan posisi seperti ini, karena sekarang Dina tidak malu alasan sang anak lah yang menginginkan nya padahal memang Dina nya, sama bayi yang belum terbentuk sudah bisa mengerti.
Tapi Dion tidak mempermasalahkan itu, Dion malahan senang melihat tingkah manja istrinya. Ketika merasa Dina sudah tidur Dion meletakan Dina dengan perlahan, lalu mengambil hp dan keluar untuk menghubungi Papa Abraham dan Mama Tika, walau bagaimana pun mereka tetap harus tau dan sekalian Dion akan menghubungi Tasya supaya memberitahu berita bahagia ini kepada Paman dan Bibinya.
" Halo Yon, ada apa".
" Dion mau memberi kabar bahagia pa, sebentar lagi Papa akan memiliki cucu lagi", ucap Dion senang.
Papa Abraham yang mendengar berita itu sangat senang karena akan mendapat kan lagi cucu. " Kamu serius kan Yon, kalau begitu kamu harus jagain mantu dan cucu Papa, Papa sangat senang mendengar nya".
" Iya Pa, Papa tenang aja Dion akan jaga mereka kok, Dion matiin dulu ya pa, mau ngasi kabar sama Tasya adik nya Dina", dan telpon pun terputus.
__ADS_1
Abraham tidak henti - hentinya tersenyum karena merasa bahagia dengan kabar kehamilan mantunya, apa lagi jika anak nya laki - laki dan Abraham akan memutuskan cucu nya itu yang akan menggantikan Dia yang di bantu Naila.