
Ketika tengah malam saat istrinya sudah tidur, Dion mengambil kunci mobilnya untuk pergi kehutan tempat Tina yang di sandera nya.
" Selamat malam tuan'", ucap anak buah nya yang menjaga di depan gudang.
Dion tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis, Dion berjalan masuk mendekati Tina yang sedang menatap nya.
" Jangan pernah menatap ku dengan mata menjijikan mu wahai nona Tina yang terhormat", ucap Dion penuh penekanan.
Mmm. mmm.. mmm. Tina hanya bisa seperti itu karena mulut nya yang masih di bungkam oleh anak buah Dion.
" Ini belum seberapa Tina, kamu sudah sangat keterlaluan, kamu selalu mengusik saya dengan tingkah laku mu yang sangat menjijikan dan membuat saja muak".
Dion melepaskan perekat itu untuk mendengar pembelaan apa yang akan Tina kata kan.
" Kamu jahat Dion, ini semua gara - gara kamu, kamu yang telah menyakiti kakak ku saat dia begitu mencintai mu tapi kamu malah lebih memilih Dewi sialan itu, dan sekarang saat aku mulai suka kepada kamu, dan kamu malah menikah dengan Dina wanita kampung itu, kamu laki - laki brengsek Dion Aku benci kamu", teriak Tina mengeluarkan unek - unek nya selama ini.
Dion mencoba mencerna setia kata yang di keluarkan Tina, dan tidak menyangka Kalau dulu Bunga Kakak nya Tina juga mencintai nya, padahal mereka tau kalau Dion hanya menganggap mereka adik dan keluarga tidak lebih, dan lebih yang Dion sesali Bunga meninggal karena melihat dia menikah Dengan Dewi.
" Aku tidak ada sangkutan nya dengan kematian Bunga, karena seperti yang kalian tau aku hanya menganggap kalian adik ku tidak lebih".
" Aku tidak sudi menjadi adik seorang pembunuh kakak ku", Tina meludahi tepat di samping Dion.
Dion yang langsung tersulut emosi mencekik Tina dengan sekuat tenaga, hingga membuat tidak hampir kehabisan nyawanya. Barulah Dion melepaskan cekikan nya.
" Jaga bicara mu Tina, aku tidak suka mendengar nya, kau boleh pergi sekarang dan jangan pernah ganggu keluarga ku, jika sampai itu terjadi jangan salahkan aku jika nyawa mu yang akan melayang".
" Kau tidak akan berani melakukan nya Dion, kau lelaki pengecut", Tina pun tersenyum mengejek.
" Silahkan coba jika ingin kau merasa kan nya, dan ingat jangan pernah menyesal karena telah menantang ku, plakkk", Dion menampar Tina sangat keras dan pergi dari situ.
Dion sangat frustasi saat ini, Dion tidak menyangka kalau Bunga dulu yang selalu Dion manja kan ternyata menyukainya dan malah bunuh diri saat Dion menikahi Dewi, padahal Bunga tau saat itu Dion sangat mencintai Dewi mendiang istrinya itu.
__ADS_1
Dewi yang lembut, cantik dan yang paling Dion senang Dewi tidak pernah menaruh dendam dengan siapa pun.
Dion melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, Dion akan ke klub malam ini, untuk menghilangkan rasa pening yang melanda.
" Silahkan pergi aku tidak ingin di temani", ucap Dion saat seseorang wanita penghibur mendekatinya.
Melihat penolakan Dion wanita itu bukan nya pergi malah dengan santai duduk di pangkuan Dion. Dion yang geram atas sikap lancang nya, mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai.
" Sudah ku bilang aku tidak ingin di temani, kenapa kau tidak tau diri", ucap dingin Dion yang membuat perempuan itu langsung pucat.
" Maaf kan saya tuan", ucap wanita itu langsung pergi, karena takut melihat wajah Dion yang siapa saja melihat nya serasa akan dikuliti hidup - hidup.
Karena sudah kesal Dion memutuskan pulang saja dengan keadaan yang setengah oleng, Dion memasuki kamar nya sambil terus mericau tidak jelas.
" Dewi sayang, kenapa kamu tinggalin Mas sayang, mas enggak kuat hidup sendiri", racau Dion langsung masuk ke kamar.
Dina yang merasa terusik tidur nya, terbangun dan melihat keadaan suaminya yang mengenaskan.
" Mas kamu mabuk, kenapa bisa seperti ini".
Sedangkan Dina memberontak, Dina tidak ingin suaminya masih mengingat Almarhumah Dewi dan menciumnya karena mengira Dewi.
" Mas lepasin", Dina terus memberontak tapi Dion tidak memperdulikan itu karena Dion sangat merindukan Dewinya.
Plak. Dina langsung menampar Dion untuk menyadarkan nya, karena dada Dina seketika sesak menahan cemburu, suami nya ingin menggaulinya karena menanggap Dewi.
Seketika Dion langsung merasakan pipinya yang memanas.
" Maaf kan aku", lirihnya merasa bersalah karena sekarang yang di lihat nya Dina bukan Dewi.
Dina tidak menjawab dan menutupi seluruh tubuhnya samping menangis.
__ADS_1
" Jika kamu tidak mencintai ku kamu bisa melepaskan ku", ucap Dina dingin dan sangat Dingin.
" Maafkan Mas sayang bukan maksud mas seperti itu", ucap Dion langsung menyesal atas kesalahan nya.
" Papa harus balas Dion pa, dia sudah menyiksa putri kita", ucap Istri Edgar sambil menangis memeluk putrinya.
" Hiks. Hiks, Dion jahat pa, Tina benci Dion".
" Kalian tenang saja papa akan membalas perlakuan Dion, Dion telah menjatuhkan Harga diri keluarga kita", geram Edgar.
Bukan nya Tina kalau akan diam saja tidak membalas, Tina sekarang sedang menyusun rencana lagi untuk menghancurkan Dion, Karena bagi Tina setiap penolakan Dion adalah penghinaan terbesar di hidupnya.
Seorang Tina yang menjadi incaran semua pria, dan pria itu yang memohon kepada nya, dan hanya Dion yang berani menolaknya, itu artinya Dion sudah mengibarkan bendera perang.
Dion mendekat ke arah Dina berusaha memeluknya, tapi Dina selalu mundur menjauh seolah Dion orang asing.
" Maaf kan Mas sayang", suara parau Dion karena terlalu lama menangis hingga tubuhnya bergetar.
Dina yang melihat itu menjadi iba, bukan salah Dion juga sebenar nya wajar Dion masih menyayangi mendiang istrinya, toh mereka berpisah bukan kehendak mereka, Dina tidak boleh egois. Setelah Di kira sudah tenang Dina mendekat ke Dion langsung menenggelamkan wajah nya di dada bidang Dion.
" Maaf kan aku Mas, tidak seharusnya aku marah hanya karena mas mengira aku Dewi", entahlah Dina juga heran semenjak hamil dia terlalu sensitive mungkin hoon kehamilan.
" Kamu enggak salah sayang, Mas sayang salah", Dion mengeratkan pelukan nya betapa Dion takut kehilangan Dina.
Dina mendongak menatap Suaminya yang semakin tambah tampan saja, walaupun perbedaan usia mereka lumayan, tapi Dion bisa mengimbanginya malahan mereka sangat serasi, Dina sangat bersyukur menemukan cinta pertama seperti Dion.
Dina mengulurkan tangan nya mengusap air mata yang mengalir di pipi Dion dengan lembut.
" Jangan nangis lagi Mas, nanti ganteng nya ilang loh", goda Dina yang mood nya sudah membaik.
Dion tersenyum mendengar godaan istrinya, lalu mengacak - acak rambut Dina dan menjatuhkan kecupan singkat di pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
" Jangan tinggalin Mas ya sayang, Mas enggak akan sanggup".
" Iya Mas aku janji enggak bakal ninggalin Mas", ucap Dina sambil tersenyum.