
Tidak lama mobil yang di kendarai Dion sampai di halaman rumah mereka. Dion segera turun dan membuka kan pintu untuk sang istri tercinta.
" Terima kasih Mas", ucap Dina datar.
Dion pun tidak mempermasalahkan sikap datar istrinya, bagi Dion Dina sehat dan mereka bisa berkumpul itu sudah lebih dari cukup.
Dion sangat mengerti perasaan Dina saat ini yang masih terpukul dengan kehilangan calon bayi mereka, bukan berarti Dion tidak merasa sedih juga hanya saja tertutupi dengan kepulangan Dina itu sudah cukup bahagia.
Mereka berjalan bersama memasuki rumah yang sudah seperti kapal pecah.
Dina yang melihat nya pun langsung syok tidak percaya bagaimana bisa rumah mereka sudah seperti habis berperang saja.
" Mas bisa di jelaskan semua ini", Dina melotot ke arah Dion.
" Dan kemana semua orang kenapa sepi".
" Ayo masuk dulu sayang nanti mas jelasin semua nya", ucap Dion menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Dina menurut walaupun masih kesal.
" Mas bisa jelaskan sekarang kenapa, dan kemana Naila serta Bi Sumi".
" Kamu janji ya sama Mas jangan marah",
Dina tidak menjawab dan hanya ingin mendengar penjelasan Dion saja.
" Baiklah mereka semua mengungsi di rumah Mama, karena saat itu aku sangat frustasi dan hampir gila", Ucap Dion akhirnya.
Dina langsung memeluk Dion, Dina tidak menyangka Dion sangat takut kehilangan nya dan Dina sekarang semakin yakin Dion memang pria yang terbaik untuk nya.
Mereka berbaring saling memeluk menumpahkan semua kerinduan uang amat berat bagi kedua insan yang sedang di mabuk cinta.
" Mas pijitin ya sayang", Kode Dion.
" Boleh Mas", ucap Dina yang sama hal nya menginginkan Dion.
" Kamu sangat cantik sayang, Mas enggak kebayang jika harus kehilangan kamu selama nya, hidup Mas serasa enggak berarti".
" Aleh Mas bisa aja, nanti sekarang aja ngomong gitu lama juga Mas cari istri baru kan".
" Enggak dong sayang, Mas mau nya kamu istri Mas yang paling cantik".
" Mas boleh ya sekarang".
" Iya Mas", jawab Dina malu - malu.
__ADS_1
Pagi hari Abraham datang ke rumah Dion sendirian karena mendapat kabar dari Doni kalau Dina sudah kembali. Tapi Abraham tidak ingin Naila serata Tika mengetahuinya dahulu sebelum memastikan kebenaran nya.
Tok... Tok. Tok.
Clek.
Pintu terbuka dan menampilkan Dion dengan rambut acak - acakan persis orang baru bangun tidur.
" Apakah Papa mengganggu tidur mu?" Abraham memicingkan mata.
" Tidak Pa, hanya saja Dion baru saja bangun dengan Dina", Jujur nya.
" Bagus ya enggak bilang sama Papa Dina udah pulang, dan malah yang ngasih kabar Doni hebat kamu ya".
" Ya Maaf pa enggak sempat dan oh ya nanti Jangan tanya perihal bayi kami ya pa Dina sedang sedih sekarang", ucap Dion sendu.
" Papa kapan datang kok enggak di suruh masuk Mas", ucap Dina tiba - tiba datang.
Seketika mengurungkan niat Abraham bertanya lebih lanjut.
Tapi dari sudut mata Abraham menuntut penjelasan dari Dion.
" Eh iya sayang, Papa bary saja datang".
Setelah menyalimi Abraham Dina pergi ke dapur untuk membuatkan minum, Dina tidak ingin terlihat sedih di depan mertua nya.
" Pa Dion mandi dulu ya sebentar".
" Iya jangan lama, Papa tunggu kamu di taman nanti".
Dion langsung berjalan ke kamar nya untuk mandi. Karena dapat di pastikan sebentar lagi Dion akan di tuntut pertanyaan dari sang Papa.
" Bagaimana kabar kamu Din".
" Seperti yang Papa lihat, Dina sekarang baik saja", ucap nya tersenyum.
" Papa turut prihatin atas yang terjadi kepada mu dan Papa akan memastikan semua nya akan mendapatkan balasan".
" Terima kasih Pa, Papa sudah sangat baik dengan Dina", Dina tidak bisa menahan haru.
" Kamu tidak perlu berterima kasih, dan maaf karena Mama kalian belum bisa menerima mu, Papa janji akan terus berusaha supaya Mama kalian bisa baik".
Tap. Tap.
" Lagi ngomongin apa sih, kok pada sedih gitu", ucap Dion yang tiba - tiba sudah berada di samping Dina.
__ADS_1
" Enggak ada apa - apa Mas, ya sudah aku tinggal ke dapur dulu ya Mas".
Sepeninggalan Dina. Abraham langsung menyuruh Dion mengikuti nya ke taman.
" Bisa kamu jelaskan kepada Papa", Abraham menatap lurus ke depan.
" Seperti yang telah kita tau kejadian itu membuat kandungan keguguran Pa".
" Kita harus membalas orang itu dengan setimpal dia telah berani mengusik ketenangan keluarga Wijaya".
" Iya Pa, Yang lain sudah terbalas dan Dion rasa masih ada dalang nya hanya saja Dion tidak ingin gegabah dulu", papar nya.
" Papa harap kamu bisa menjaga istri mu karena kita tidak tau, apa lagi kita hidup di dunia bisnis yang kebanyakan resiko aman nya sangat minim", Abraham menepuk pundak Dion dan duduk menikmati kopi buatan Mantu.
" Oh ya pa, Naila tinggal dulu di rumah Papa ya, Dion hanya ingin mengurus Dina yang mental nya sedikit tertekan atas kehilangan bayi kami".
" Ya Naila cucu ku dan aku dengan senang hati merawat nya, jika saja kamu tidak keberatan Naila biar tinggal sama Papa saja lagian di rumah sepi banget".
" Enggak bisa gitu dong Pa, nunggu Naila besar dulu Dion hanya ingin memberikan kasih sayang yang cukup untuk Naila".
" Dari kecil Naila sudah kehilangan Mama nya, dan Dion tidak ingin membuat Naila kehilangan Dion juga", lanjut nya lagi.
Dion masuk ke rumah setelah Abraham pamit pulang karena ada kerjaan mendadak.
Ya begitulah Abraham selalu saja bekerja di hari nya yang sudah tidak mudah lagi kadang Dion kasihan hanya saja perusahaan masih sangat membutuhkan Papa nya.
" Loh, Mas kok di sini Papa kemana", heran Dina.
" Papa sudah pulang Mas usir ganggu aja", canda Dion.
" Ya enggak boleh gitu Mas, Papa kan orang tua Kita, Masak di usir mana aku sudah masak banyak lagi", Dina menunjuk semua makanan yang di buat nya.
" Hahahah. Mas enggak usir kok sayang, Papa lagi ada urusan penting, dan soal inj semua biar Mas abisin", jawab nya enteng.
" Yakin Mas sanggup ngabisin sebanyak ini".
" Yakin lah, ayo buruan makan mas udah lapar dari tadi", Dion menarik tangan Dina duduk di samping nya.
" Mas aja yang makan aku belum lapar".
" Jangan gitu dong sayang, Mas enggak mau makan kalau kamu enggak mau juga".
" Kamu harus banyak makan dan jangan terbebani dengan hal yang akan membuat mu sakit".
" Baiklah Mas aku makan juga", akhirnya Dina pasrah dan mereka pun makan bersama.
__ADS_1
Dion tau Dina masih saja kepikiran dengan kejadian ini, bukan Dion tidak sedih hanya tidak ingin terlarut.