Nasib Wanita Malang

Nasib Wanita Malang
Kabar duka


__ADS_3

Dion yang menerima telpon dari orang suruhan nya,untuk mengusut peristiwa kecelakaan yang di istrinya sekitar dua tahun lalu.Orang kepercayaan nya mengabarkan belum menemukan bukti yang cukup kuat,hanya informasi yang mengatakan kalau memang keadaan mobil saat itu ada yang sengaja menyabotase nya.


"Jadi sampai ketemu siapa dalang dari kecelakaan itu",ucap Dion dingin berbicara dengan orang suruhan nya.


"Baik tuan saya akan segera mungkin mengusut dan mencari tau siapa motif dari pembunuhan itu",ucap seseorang di seberang sana.


"Baiklah saya tunggu kabar selanjutkan",ucap Dion langsung mematikan telpon.


"Naila dimana",tanya Dina saat sudah berada di dekat Dion,karena sedari tadi setelah selesai membereskan bekas piring kotor Dina tidak lagi melihat keberadaan Naila.Terakhir Naila di gendong Dion ke depan.


"Naila lagi ngerjain tugas dikamar",ucap Dion lembut dan membalik tubuhnya menghadap Dina.


Ketika Dina hentak memutar tubuhnya menuju kamar Naila,tiba² Dion memeluk Dina dari belakang,"Biarkan seperti ini dulu",ucap Dion sendu.


Dina yang kaget sekali gus bingung melihat raut sedih Dion akhirnya mengijinkan Dion memeluk nya sebentar.


Dan tiba² saja Dina merasakan kalau Dion sedang menangis lama mereka berpelukan setelah Dion mulai tenang Dion pun melepaskan pelukan nya.


"Maaf sudah lancang",ucap Dion ketika sudah tenang.Dion menatap lekat mata Dina yang menyiratkan kebingungan.


"Tidak ada apa² saya hanya teringat dengan mendiang istri saya",ucap Dion yang mengerti dengan tatapan bingung Dina.


Dina pun langsung pergi ke dapur dan memberikan air putih ke pada Dion,Dion pun meminumnya hingga habis tak tersisa.


Tiba-tiba suara hp Dina berbunyi tanda panggilan masuk."Maaf pa saya permisi dulu mau angkat telpon",pamit Dina yang di anggukan oleh Dion.


Dina pun menjauh dan menerima telpon yang ter tara di layar hp dengan nama Tasya.


"Halo mbak,Mbak bisa pulang enggak sekarang ibu masuk rumah sakit tadi terjatuh di teras", ucap Tasya menangis.

__ADS_1


"Apa kok bisa ibu jatuh sih, iya iya besok mbak langsung pulang,kamu jagain ibu ya ",ucap Dina cemas dan tak terasa air mata nya lolos tak tertahan.


"Iya mbak, tadi pagi waktu ibu nyapu di teras depan tiba² udah pingsan",ucap Tasya diseberang sana.


"Pokok nya kamu jagain ibu ya kalau ada apa² cepat kabarin mbak,Mbak mau ijin dulu sama Bos mbak", ucap Dina,sudah mbak tutup dulu telpon nya kalau ada apa² kabarin mbak.Telpon pun berakhir.


Dina langsung mencari keberadaan Dion yang ternyata ada di ruang kerjanya. Dina mengetuk pintu dulu setelah di suruh masuk baru Dina melangkah mendekati Dion yang sedang mengecek berkas.


Dion yang melihat Dina sepertinya baru habis menangis pun bertanya. "Ada apa Din",tanya Dion lembut.


"Ibu saya masuk rumah sakit pak,saya mau ijin untuk pulang kampung beberapa hari",ucap Dina sedih dan menyorotkan permohonan.


"Baik lah saya antar,dan saya tidak menerima penolakan",Kata Dion langsung menyela ketika Dina hendak menolak bantuan nya.


Dina pun akhirnya pasrah membiarkan Dion yang mengantarnya."Tapi Naila gimana pak Naila kan sekolah",ucap Dina beralasan.


"Naila bisa tinggal sama bik Sumi",ucap Dion santai dan tersenyum manis.


Keesokan paginya Dina sudah siap dan begitu pun dengan Dion,mereka mengantarkan Naila dulu ke sekolah setelah tadi sudah ijin untuk pulang kampung menemui orang tua Dina di rumah sakit,Naila sempat tidak mau ditinggal tadi setelah melakukan bujuk membujuk akhirnya Naila pun mengijinkan.


Setelah mengantar Naila,Dion pun langsung mengantar Dina,Dina yang sedang sedih pun tidak bicara hanya termenung menatap lurus ke depan.


"Kamu tenang aja banyak² berdoa, ibu kamu enggak kenapa² kok",kata Dion lembut menenangkan Dina.


Dina hanya diam tanpa membalas ucapan Dion,karena sedari tadi hati dan pikiran nya tidak tenang, seolah² akan terjadi hal yang tidak di inginkan.


Dion yang merasa kalau Dina belum tenang pun Diam dan kembali fokus ke jalanan.setelah memakan waktu 4 jam baru lah mereka sampai Di rumah sakit,dan langsung menanyakan ruangan kepada suster yang kebetulan lewat.


Setelah diberi tau mereka pun langsung berjalan ke ruang melati no 40. Di sana sudah ada Tasya yang menangis segugukan.

__ADS_1


Tasya yang melihat kedatangan Dina langsung memeluk Mbak nya.


"Gimana keadaan ibu dek",tanya Dina berusaha kuat.


"Barusan dokter bilang kalau ibu sudah kecik harapan untuk bertahan, Tasya enggak mau kehilangan ibu mbak siapa yang akan nemenin tasya",ucap tasya menangis sejadi² nya.


Dina yang mendapat kabar itu seketika dunia nya terasa hancur, air mata yang sedari tadi di tahan nya lolos tanpa permisi.


"Mbak mau liat keadaan ibu dulu",ucap Dina melepaskan pelukan sang adik dan masuk dimata keadaan ibunya yang belum sadarkan diri yang terbaring lemah.


Dina pun mendekat dan membekap hangat sang ibu. "bu bangun bu Dina udah pulang",ucap Dina pelan di dekat ibunya sambil menangis,.


Dion yang melihat dari jendela dimana keadaan Dina sangat memperhatikan pun menghampiri Dina dan memeluknya memberikan kekuatan.


Dina yang merasa di peluk seseorang pun menoleh."Sudah jangan nangis kalau ibu dengar ibu pasti sangat sedih kamu,kamu dan tasya harus kuat demi kesembuhan ibu mu,ucap Dion lalu melepaskan pelukan nya.


tidak lama daru itu ibu Marni kejang² dan segera mungkin Dion memanggil dokter.Tim dokter pun berjalan memasuki ruangan dengan tergesa².


"mohon tunggu diluar kamu akan memeriksa keadaan ibu Marni",ucap dokter dan Dina Dion Tasya keluar menunggu di kursi tunggu.


Tidak lama setelah itu tim dokter pun keluar."keluarga buk Marni",ucap dokter.


"Saya pak bagaimana keadaan ibu saya",ucap Dina yang saat ini berusaha untuk tegar.


"Maaf dengan berat hati sapa sampaikan bahwa Bu Marni Sudah meninggal",ucap sang dokter sedih.


Dan seketika Dina dan Tasya pun langsung menangis histeris dan berlari menghampiri jenazah ibu Marni.


"Ibu kenapa ibu ninggalin Dina dan Tasya bu,ibu bangun bu Dina udah pulang, ibu teriak Dina histeris dan mengguncang² tubuh janazah Bu Marni.

__ADS_1


Setelah jenazah Ibu Marni telah di makam kan,Dina terus termenung sambil menangis. "bu kenapa ibu pergi secepat ini kenapa ibu ninggalin Dina sama Tasya,Gimana nasib kami ke depan nya nanti,dan air mata pun terus lolos membasahi pipi mulus Dina.


Dina yang sejak tadi mengurung diri di kamar karena sangat terpukul atas kepergian ibunya,terus menangis hingga mata cantik Dina sembab,lelah menangis akhirnya Dina pun tertidur sambil memeluk poto mereka bertiga.


__ADS_2