
Sekitar 3 jam mobil yang membawa keluarga Wijaya sampai di depan rumah,supir pun membukakan pintu untuk majikan nya.
"Pa, Ma Dion ke kamar dulu ya ma istirahat",pamit Dion ketika mereka sudah memasuki rumah.
Dion pun langsung menuju kamar nya,Naila putrinya Dion tidak ikut di acara lamaran tadi.Karena Naila harus sekolah apalagi perjalanan yang harus di tempuh jauh.
Naila yang sedang bermain boneka pun menoleh ke arah pintu yang di buka. "Papa, tante Dina mana",tanya Naila yang tidak melihat Dion sendirian menghampirinya.
"Tante Dina lagi belum kesini saya",kata Dion sambil mencium pipi Naila.
"Jadi kapan Papa bawa Tante Dina pulang kesini.
"Nanti kalau Papa sama tante Dina sudah menikah,Tante Dina akan tinggal sama kita",kata Dion memberi pengertian.
"Nikah itu Apa pa",tanya Naila yang belum mengerti.
Dion lalu berpikir bagaimana cara menjelaskan supaya mudah di mengerti Naila.
"Jadi Tante Dina akan menjadi Mama nya Naila sayang,Bukan nya itu keinginan kamu",ucap Dion lembut. dan akhirnya Naila memberi anggukan tanda sudah paham.
"Hore.. berarti bentar lagi Naila punya Mama dong pa",ucap Naila girang.
Dion jadi gemas melihat tingkah Naila Dion pun tak henti² nya menciumi pipi gembul sang putri.
"Papa tinggal dulu ya sayang",ucap Dion lembut.
"Iya pa", kata Naila.
Dion pun keluar dari kamar putrinya menuju ke kamarnya sendiri untuk istirahat.Tapi sebelum istirahat Dion membersihkan diri dulu.Dion yang sudah segar sehabis mandi memakai baju santai dan membaringkan tubuhnya yang lelah ke tempat tidur.
Tidak butuh lama Dion pun tidur dengan begitu pulas nya.
__ADS_1
Di rumah pak Broto ,Naila yang baru selesai mandi memutuskan memakai baju kaos biru dan celana training berjalan keluar kamar menuju dapur untuk sarapan.
"Din sini sarapan bersama",ucap paman Broto yang melihat Dina keluar kamar.
"Iya paman,Dina pun mendekat dan duduk di samping Tasya.
"Din paman boleh tanya sesuatu",kata broto serius.
"Boleh lah,masak enggak boleh paman ada² saja", ucap Dina untuk mencair kan suasana yang sudah bisa ia tebak.
Broto pun tersenyum melihat tingkah Dina yang tidak berubah daru dulu.", Apakah benar kamu menikah dengan Nak Dion atas dasar suka", tanya Broto meminta kebenaran.
"Kok Paman nanya gitu",ucap Dina berusaha setenang mungkin.
"Karena Paman tadi sempat memperhatikan kamu sepertu ada kebingungan di diri kamu,Apa kamu di paksa oleh Dion.
"Enggak kok paman,itu hanya perasaan paman saja,lagi pula Dina sama Dion saling mencintai.Ya walaupun belum terlalu lama deket",ucap Dina sedikit gugup.
"Ya Bibi dan paman harap apa yang kamu katakan benar",ucap Bibi marni menimpali.Kami hanya ingin melihat kamu dan Tasya bahagia kelak bersama pasangan yang tepat.
"Paman sama Bibi enggak usah khawatir, Dina yakin kok dengan pilihan Dina",ucap Dina menyakinkan broto dan Marni. Broto dan Marni pun tersenyum hangat dan mengangguk.
Mereka pun melanjutkan makan dengan tenang dan sesekali bercanda, Marni yang merasakan suasana yang berbeda dengan kedatangan keponakan nya pun hanya bisa mengucap syukur. Dimana yang tadinya rumah sunyi tanpa canda dan tawa sekarang sudah ramai.
Acara makan pun selesai dina dan Tasya membereskan meja makan, Dina yang mencuci piring kotor dan Tasya yang membersihkan meja makan. Marni sangat senang melihat keponakanya yang akur dan saling menyayangi,Marni hanya bisa berdoa semoga keponakan nya itu bisa menemukan kebahagian suatu saat nanti.
Selesai beres² Dina dan Tasya pun bergabung bersama Paman dan Bibinya yang sedang menonton televisi.Sambil bercanda gurau.
Tak terasa hari sudah malam Dina memutuskan untuk ke kamar duluan untuk istirahat dan mereka pun mengiyakan.
"Hoam capek ini badan udah serasa mau patah saja", gumam Dina dan langsung merebah kan tubuhnya.
__ADS_1
Dina bangun dari tidur nya dengan malas.Dan beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, selesai mandi dan berpakaian.Telpon Dina berbunyi,Dina mengambil telpon dan melihat Dion yang memanggil, Dina yang bingung kenapa Dion menelpon pun akhirnya menggeser ikon ijau.Panggilan pun terhubung.
"Halo Din Kamu sibuk enggak hari ini",tanya Dion.
"Ya halo.Enggak kok emang kenapa",Din pun balik bertanya.
"Aku jemput kamu ya kamu tinggal di apartemen ku aja biar enggak kejauhan,soal nya lusa kita harus ke butik buat pesan baju untuk acara nikahan kita",ucap Dion memberi tahu Dina.
Dina yang baru ingat kalau acara mereka akan di adakan minggu ini."Apa enggak terlalu berlebihan.kata Dina yang sukses membuat Dion merasa kalau Dina tidak menginginkan pernikahan mereka.
"Enggak kok sekarang kamu siap² aku lagi di jalan".ucap Dion yang awal nya lembut menjadi datar.
Dina yang menyadari perubahan dari nada bicara Dion pun bingung dan hanay bisa menuruti keinginan Dion.
Telpon di putuskan sepihak oleh Dion karena kesal dengan sikap Dina yang seperti tidak bahagia dengan pernikahan mereka. Bukan salah Dina juga sih dia yang mendadak tanpa menyakinkan Dina kalau memang Dia sudah mencintai Dina.
"Arkh...Kenapa aku jadi bodoh gini sih,wajar saja Dina bersikap seperti itu karena Dia pasti berpikir kalau dia cuma menjadi pelarian ku saja untuk menolak dengan pilihan Mama,bodoh...bodoh...bodoh", ucap Dion memukul kepala nya karena gemas sendiri.
Pokok nya akan ku buat seorang Dina permatasari mencintai Dion anugrah wijaya dengan ketampanan dan pesona yang aku miliki Pikir Dion percaya diri.
Tidak terasa mobil yang di kendarai Dion pun sampai di depan rumah broto. Dion berjalan dengan santai menuju pintu dan mengetok nya.Keluarlah Tasya yang membukakan pintu.Silahkan masuk pak mbak Dina nya masih di kamar nanti saya panggilkan",ucap tasya mempersilahkan Dion.
"Dion pun masuk dan tersenyum ke pada tasya, terima kasih",ucapnya.
"Mau minum apa pak",tanya Tasya menawari.
"Apa aja,oh ya paman sama Bibi dimana",Tanya Dion yang tidak melihat keberadaan sepasang suami istri itu.
"Paman Lagi keluar jagain toko,kalau bibi di kamar nya mbak Dina,sebentar pak saya panggilkan mereka dulu", Tasya pun pergi menuju kamar Dina",.
Tok...tok... tok... mBak di depan ada pak Dion nungguin mbak",ucap Tasya Dibalik pintu.Tanpa masuk karena ingin membuat minuman.
__ADS_1
""Bi pak Dion udah dateng ayok kita temui",ucap Dina kepada Bibinya.
Mereka pun keluar menemui Dion yang sedang Duduk sendiri.