Nasib Wanita Malang

Nasib Wanita Malang
jebakan Tina


__ADS_3

" Tina ketemu mereka lagi liburan kemaren, kebetulan Tina sedang liburan juga di sana".


" Mama jangan terlalu memihak Tina, kasian dengan Dina yang sudah menjadi menantu kita, Mama enggak bisa terlalu ikut campur rumah Dion".


" Papa apa² sih, Mama cuma pengen lihat Dion dengan perempuan yang tepat, dan Mama rasa cuma Tina perempuan itu", Ucap Tika masih keras kepala.


Melihat istrinya yang keras kepala, Abraham pun pergi meninggalkan Tika menuju ruang kerja, Abraham butuh waktu untuk memenangkan pikiran nya.


Sedangan Tika terus mengomel karena kesal suami nya tidak lagi sejalan dengan nya.


sedangkan saat ini Dion dan Dina tertidur saling memeluk memberi kenyamanan.


Dina membuka mata nya perlahan menetralkan cahaya, lalu melihat kesamping suaminya sedang tersenyum ke arah nya.


" Kamu sudah bangun sayang", ujar Dion mendekatkan tangan nya di wajah Dina.


Dina pun mengangguk dan tersenyum manis. "Jangan tersenyum seperti itu kalau enggak Mas akan khilaf".


Dion menarik Dina ke dalam pelukan nya, memberi kenyamanan untuk sang istri. Sementara Dina hanya menurut, sebenarnya Dia juga merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini.


" Mas apakah Tina di suruh Mama untuk mengawasi kita?"


" Mas enggak tau, Tapi yang jelas Mama enggak tau keberangkatan kita, Karena mas hanya mengabari Papa saja", ucap Dion jujur.


" Apakah mas mencintai ku", ucap polos Dina keluar begitu saja.


" Ya, Mas mencintai mu, dan mas baru sadar ketika mas merasa takut kehilangan kamu".


" Terima kasih mas", Dina langsung mengeratkan pelukan nya.


Dion yang sedang santai bersama Dina di teras di ganggu dengan suara panggilan dari handphone Dion.


" Siapa Mas?" Dina yang penasaran.


" Tina sayang, sebentar ya mas angkat dulu takut penting", Dion pun menjauh mengangkat panggilan Tina.


" Halo Tin, ada apa?".


" Dion tolong ke kamar ku sebentar, kepala ku sangat sakit, antar aku untuk ke dokter", Pinta Tina dengan suara yang di buat seperti orang sangat kesakitan.


Dion yang kasihan dengan Tina pun akhirnya mengiyakan, walau bagaimana pun Tina adalah keluarga nya.


" Sayang mas nemenin Tina ke dokter dulu ya, Tina telpon barusan bilang kalau dia sakit kepala", Pamit Dion ke pada Dina.

__ADS_1


" Tapi mas, apakah tidak ada orang lain yang mengantar nya", ucap Dina yng sebenarnya keberatan.


"Walau bagaimana pun Dina masih keluarga Mas, Mas enggak mau nanti keluarga tau dan mengira mas yang tidak²", ucap Dion memberi pengertian.


Mau Tidak mau Dina memberi izin. " Mas hati² ya kabarin aku kalau ada apa²".


" Iya sayang, mas pergi dulu", Dion menghampiri Dina mencium kening nya dan pergi menemui Tina.


Tok..tok...tok..." Tina ini aku Dion".


Tina yang sedang santai pun pura² tidur dengan lemah. " Masuk aja Yon pintu nya enggak di kunci", ucap Tina dengan suara lemah.


" Tin kamu kenapa", ucap Dion sedikit khawatir.


" Kepala ku sangat sakit berdiri saja aku tidak mampu".


" Ayo sekarang kita ke rumah sakit".


" Tidak usah Yon, Aku minta tolong beliin obat aja di apotik depan", pinta Tina.


Dion pun mengangguk dan pergi ke apotik.


" Sebentar lagi kamu akan masuk ke perangkap ku Yon, jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka perempuan itu pun tidak boleh", ucap Dina sinis setelah kepergian Dion.


" Kami harus tetap pura² sakit dan membuat Dion malam ini menemani kamu", ucap Tika senang karena sebentar lagi rencana mereka akan berhasil.


" Sudah dulu Tan, sepertinya Dion sudah pulang", telpon pun terputus.


Klekkk...


Pintu pun terbuka. " Ini Tin obat nya kamu minum sekarang ya", ucap Dion pergi mengambil kan air untuk Tina.


" Bisakah kamu menemaniku hari ini, karena aku tidak yakin bisa melakukan apa² sedangkan untuk berdiri saja belum sanggup dan kepala ku masih sedikit sakit", ucap Tina dengan wajah Dibuat² seperti akan mati saja detik ini.


Dion kesal dengan kelakuan Tina, tetapi Dion tidak bisa berbuat apa² karena merasa kasihan.


" Baiklah aku ijin dulu dengan istriku, jika Dia mengijinkan maka aku akan menemanimu", kata Dion mengalah.


" Dina pasti akan mengerti kok", ucap Tina meyakinkan Dion.


Dion tidak menanggapi ucapan Tina, Dion perjalan keluar untuk menelpon Dina meminta ijin.


Dina yang sedang asik bermain bersama Naila, menoleh ke arah handphone yang berbunyi di atas meja.

__ADS_1


" Halo mas, ada apa", tanya Dina lembut.


" Kamu lagi ngapain sayang".


" Aku lagi main sama anak kita Mas, Ada apa ya mas nelpon".


" Tapi kamu janji jangan marah ya, Mas mau ijin nemenin Tina dulu hari ini karena Tina masih sakit", ucap Dion takut Dina akan marah.


Mendengar ucapan suaminya yang ingin menemani Tina, membuat hati Dina sedikit cemburu. Tapi apalah daya Dina tidak boleh cemburu, karena Dia sadar posisinya saat ini yang belum di terima oleh Tika.


" Halo sayang, kalau kamu enggak ngizinin enggak apa² sayang mas bisa membuat alasan nanti", ucap Dion karena tidak mendapat jawaban apa² dari Dina.


" Iya mas temenin aja dulu, aku enggak apa² kok", ucap Dina berusaha tersenyum, walaupun senyum nya tidak terlihat oleh Dion.


" Kamu enggak marah kan sayang".


" Enggak kok mas, Mas temenin dulu aja Tina apa lagi dia sakit takut entar kamu di bilang enggak peduli lagi sama Mama".


" Mas matiin dulu ya telpon nya, see you". Telpon pun terputus.


Dina menahan sesak dengan posisinya saat ini, bagaimana tidak. Dina yang harus mau tidak mau memberi ijin suaminya menemani wanita lain apa lagi wanita itu yang akan di nikah kan oleh mertua nya.


" Mama kok Nangis", ucap Naila melihat air mata Dina menetes.


Dina buru² menghapus air mata nya. " Mama enggak nangis kok saya", bohong Dina. Lalu mendekat dan memeluk Naila yang keheranan dengan sikap Dina.


" Apa Papa yang sudah membuat mama menangis?"


" Enggak sayang Papa enggak bikin mama nangis, malahan papa sayang banget sama Mama", ucap Dina menyombongkan diri.


" Bagaimana Yon, Dina memberi ijin kan?"


" Iya istri ku sangat baik, memberi ijin suaminya menemani wanita yang dia tau akan di jodohkan dengan suaminya", tekan Dion dalam setiap katanya supaya Tina sadar diri.


" Iya Dina memang baik, kamu beruntung mendapatkan nya", ucap Tina pura² setuju dengan ucapan Dion.


" Kamu mau makan apa, nanti aku pesan online aja", ucap Dion.


" Aku mau makan ikan bakar kakap aja", ucap Tina.


Dion pun mengangguk dan segera memesan lewat aplikasi hp nya. " Sekarang kamu istirahat saja, Nanti kalau pesanan nya udah datang aku bangunin".


Tina pun menurut dan segera istirahat supaya Dion tidak curiga dengan rencana yang sudah Dia susun.

__ADS_1


__ADS_2