Nasib Wanita Malang

Nasib Wanita Malang
gara - gara kerupuk


__ADS_3

Prov Dion.


Hari itu aku cukup tersiksa, wanita yang teramat aku cintai meninggal kan ku dengan cara yang terlalu cepat. Bagaimana tidak saat itu Dewi istriku rencana nya akan ke kantor untuk menjenguk ku.


Lama aku menunggu tapi Dewi belum sampai juga, Padahal jarak dari rumah ke kantor tidak membutuhkan waktu yang lama, Aku sangat cemas dan tiba - tiba saja ada telepon dari nomor tidak di kenal.


Aku memutuskan untuk mengangkat nya, dan benar saja itu telpon dari pihak rumah sakit.


" Dengan Bapak Dion".


" Iya dengan saya sendiri".


" Kami ingin mengabarkan bahwa Ibu Dewi mengalami kecelakaan, dan dan sudah meninggal di saat di bawah seseorang ke rumah sakit".


Bagai di sambar petir di siang hari, Aku langsung mematung sesaat ditempat mencerna setiap ucapan dokter itu, setelah kesadaran kembali Aku langsung berlari menaiki mobilku menuju rumah sakit.


Oh tuhan apakah salah ku, hingga kau begitu kejam kepada ku, Aku tidak kuasa lagi menahan air mata ketika Jenazah Dewi istriku di bawah ke ruang mayat.


" Dewi kenapa bisa seperti ini, bangun Dewi, Aku terus mengguncang tubuh Dewi berharap ini mimpi dan Dewi bangun, namun lagi - lagi aku harus menerima kenyataan Dewi ku sudah meninggal.


Ketika Jenazah Dewi sudah di makam kan, di sanalah aku mulai terjatuh pingsan tidak kuasa menahan kenyataan yang pahit ini, Semua orang di salah berusaha membantu ku setelah itu aku tidak ingat apa - apa lagi.


Prov author.


Dion tersadar dari lamunannya ketika seseorang mengetuk pintu berapa kali.


" Masuk!"


" Hai Bro lama amat nyuruh masuk nya, udah pegel aja nih kaki nangkring di depan pintu".


" Biasa sibuk aku".


" Ya elah sibuk mulu kerja, hidup itu harus di nikmati jangan lah terlalu fokus kerja, kau pun tega bener aku dapat kabar udah nikah aja sama daun muda pula", goda Ronald teman masa kecil Dion yang baru pulang dari malaysia.


" Ya mau bilang juga, kau tidak akan pulang kau kan sibuk dengan bisnis mu itu", sinis Dion.

__ADS_1


" Ya jangan begitu lah, kan jika aku tau aku bisa kirim doa", ucap Ronald sambil bercanda.


" Yaya, Kau kapan nikah nya, aku udah dua kali loh masak kau kalah satu pun belum", goda Dion sambil menarik turunkan alis nya.


" Ya kau ni, jangan lah ngomong gitu, sebentar lagi aku lagi nyari calon nih, bukan aku enggak laku lah, aku mah mesti cari yang pas gitu".


" Ya kau selalu saja beralasan, hingga sudah seperti pria lapuk saja, enggak laku - laku".


" Oh ya sudah lah ngeledek aku, Tante sama Om gimana kabar nya, Aku belum sempat mampir".


Setelah perbincangan itu Ronald memilih pulang karena harus istirahat, bagaimana tidak setelah sampai tadi Ronald memilih menghampiri Dion dulu.


Dion mulai serius bekerja, dan rencana nya Dion minggu depan akan mengajak Dina pindah ke jakarta, karena Dion akan mengurus perusahaan di sana, dan yang di sini akan di urus oleh Papa Abraham.


Perusahaan Di jakarta belum ada Yang mengurus, Karena kakek nya Dion memutuskan untuk menikmati masa tua nya, ya itu sih memang benar selama ini Dia sudah terlalu lelah mengurus perusahaan.


Lama berkutat dengan kerjaan, Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam delapan malam, Dion mulai merapikan berkas mengambil jas nya dan berjalan pulang.


Sedangkan Dina saat ini sedang duduk di meja makan menunggu kepulangan Dion.


Dina duduk termanggu sambil bertopang dagu dengan kedua tangan nya, Ya Dina mulai bosan menunggu, itulah efek kehamilan nya yang selalu berubah - ubah suasana.


" Hem jangan melamun tidak baik untuk ibu hamil".


Mendengar bisikan Dion, seketika Dina kaget untung saja tidak terjungkal ke belakang.


" Eh Mas kapan pulang, kok enggak kedengaran".


" Bagaimana bisa denger lah wong istri Mas aja sibuk melamun, Melamun apaan sih?"


" Enggak ada Mas, bosan aja nungguin Mas lama banget pulang nya", rajuk Dina mengerucutkan bibirnya.


" Maafin Mas ya sayang udah bikin kamu nunggu, Mas banyak banget kerjaan hari ini", ucap Dion mengusap kepala Dina sayang.


" Mas aku mau rujak mangga", ucap Dina seketika berubah manja.

__ADS_1


Dion langsung menggaruk tekuk yang tidak gatal atas permintaan istrinya, bukan tidak masuk akal sih cuma waktu nya yang tidak tepat.


" Baiklah Mas akan carikan, tapi mas mandi dulu ya".


" Iya Mas jangan lama nya, Entar aku ngambek loh kalau lama".


" Iya sayang", Dion langsung ke kamar untuk mandi sebentar menghilangkan penat yang melanda jiwa eak.


Tidak butuh waktu lama Dion sudah rapi dengan pakaian santainya, Yang tambah membuat nya semakin kayak masih mudah saja.


Dion mendekati sang istri yang terlalu bersemangat sampai - sampai sudah menunggu Dion di depan pintu.


***************


Mereka jalan bergandengan menuju mobil, Dion membukakan pintu mobil untuk Dina, dan barulah setelah itu Dion membuka pintu untuk nya.


Dion terus memperhatikan di pinggir jalan melihat di mana jualan rujak, setelah menempuh perjalanan lima belas menit untung ketemu dengan abang penjual rujak itu.


" Mas rujak nya Dua ya, pedas semua", ucap Dina langsung memotong ketika Dion hendak memesan.


" Eh sayang jangan pedas ya, enggak sehat buat bayinya".


" Tapi kan ini permintaan anak kita Mas", ucap Dina beralasan Anak mereka.


Mau tidak mau Dion menyetujuinya, Padahal kalau di pikir mana anak janin yang belum terbentuk bisa mau makan itu makanan ini, ya toh tapi itu lah hebat nya Dina, dan hanya Dina yang tau.


Ketika pesanan sudah jadi, Dion membayarnya dan langsung mengajak Dina pulang. Awalnya Dina menurut tapi ketika melihat seorang pedagang kerupuk keliling, Dina langsung ingin membeli kerupuk itu.


Tidak mau satu kantong tapi Dina memborong semua kerupuk itu. Tapi Dion tidak masalah asal yang istri senang, Ya walaupun bingung harus di kemana kan kerupuk sebanyak ini, masak Di makan enggak akan habis sebulanan.


Bagi siapa saja yang melihat keadaan mobil Dion saat ini pasti akan mengira Dion jualan kerupuk, sungguh ajaib istrinya mengidam.


" Mas kok Liatin nya gitu, Mas nyesel ya beli kerupuk nya", ucap Dina yang akan menangis.


" Eh enggak sayang, Mas cuma mastiin aja kerupuk nya enggak jatuh", ucap Dion beralasan padahal bukan itu Dion bingung mau di kemana kan kerupuk sebanyak itu.

__ADS_1


" Jangan nangis sayang entar anak kita cengeng loh", ucap Dion lembut sambil menarik Dina ke pelukan nya.


" Mas entar kerupuk nya Mas sama b Bi sumi sama yang lain di rumah ya makan nya, dan oh iya bawa aja ke kantor mas", ucap Dina semangat mood nya sudah baik.


__ADS_2