
Tubuh Nilam kembali tergetar saat Riki masuk ke kamarnya, menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Nilam sudah bisa menebak jika Riki pasti akan menanyakan perihal kepergiannya selama 5 hari ini. Mengingat Ibunya sudah tahu dan tentu Riki pun pasti juga sudah tahu.
Tak berapa lama, Vandam kembali masuk ke kamar Nilam.
"Kamu kenapa bisa kayak gini dek?" sedih Riki dengan mata berkaca.
Riki tahu jika Ibunya sangat marah hanya saja Ia tak menyangka Ibunya akan sekejam ini memperlakukan Nilam.
"Aku baik baik aja Kak, nggak perlu khawatir." balas Nilam dengan suara berat.
"Kita ke dokter ya, biar kamu cepet sembuh." ajak Riki.
Nilam menggelengkan kepalanya begitu juga dengan Vandam yang langsung menepuk bahu Riki, "Nyokap Lo bisa bahaya kalau Lo bawa Nilam kerumah sakit."
Riki mengerutkan keningnya tak mengerti, "Maksud Lo gimana?"
"Nilam sakit karena digebukin sama Nyokap Lo, jelas dokter bakal nanya kenapa Nilam bisa kayak gini, bisa bisa nyokap Lo diproses Bro, inget... Nilam itu masih bocah dibawah umur."
Riki terdiam, memikirkan ucapan Vandam yang memang benar. Jika Nilam dibawa kerumah sakit bisa bisa Ibunya diproses hukum dan Riki tidak mau Ibunya dipenjara jadi kali ini Ia akan ikut dengan saran Vandam.
"Gue takut Nilam kenapa napa." gumam Riki yang seketika membuat Nilam menangis karena tahu kakaknya sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Maafin Nilam ya Kak."
Vandam yang melihat Nilam menangis pun mendadak kesal dan emosi.
"Nggak usah nangis!" sentak Vandam.
Riki menatap Vandam tak terima, "Lo kenapa jadi bentak adek gue!"
"Ck, gue nggak suka ngeliat cewek nangis!"
"Ya tapi jangan tambah dibentak, dah lo keluar aja sana!" omel Riki namun Vandam tak bergeming masih berdiri ditempatnya membuat Riki kesal dan menyeret Vandam keluar.
Nilam menghentikan tangisnya, Ia kembali berbaring karena tak tahan merasakan nyeri juga sakit kepala.
Nilam memejamkan matanya, berharap Ia segera terlelap pergi ke alam mimpi yang mungkin lebih indah dari kenyataan hidupnya.
Entah berapa lama Ia terlelap, Nilam membuka matanya saat merasakan tangan dingin menyentuh pipinya.
"Kak..." Nilam terkejut melihat Vandam duduk di pinggir ranjang.
"Aku harus kembali ke kota." ucap Vandam.
Nilam mengangguk perlahan tanda mengerti,
__ADS_1
"Jaga dirimu baik baik, jika memang kau tidak tahan dengan keadaan ini, katakan padaku, aku akan membawamu pergi." kata Vandam.
Nilam tersenyum, sangat manis membuat Vandam ikut tersenyum.
"Aku membelikan obat dan cemilan untukmu, makanlah jangan sampai ibumu tahu." Vandam menunjuk ke arah plastik yang ada dimeja belajar Nilam.
"Terima kasih banyak kak."
Sebelum keluar, Vandam sempat mengecup kening Nilam lebih dulu.
Kini Nilam hanya bisa memandangi punggung Vandam yang keluar dari kamarnya.
Nilam menghela nafas panjang, rasanya aneh untuknya. besok Ia tidak akan bertemu dengan Vandam lagi.
Diluar kamar Nilam, Vandam baru saja pergi dari rumah. Riki hendak menutup pintu namun melihat Ibunya dari kejauhan.
Marni terlihat pulang dengan membawa banyak barang belanjaan.
"Ibu dari mana?" tanya Riki.
"Nih abis shoping." Marni memperlihatkan barang belanjaan dengan senyum merekah.
"Kok bisa punya uang buat pergi shoping?" curiga Riki.
"Tadi itu Ibu dikasih uang sama..." Marni menghentikan ucapannya seolah tak ingin Riki tahu.
"Nggak sama siapa siapa, ini tabungan Ibu sendiri." kata Marni tak ingin Riki marah karena Ia diberikan uang oleh Vandam.
Riki menghela nafas panjang, Ia tahu jika Ibunya berbohong namun Ia tidak bisa memaksa Ibunya untuk mengaku.
"Bu, kenapa tega banget sama Nilam?" tanya Riki akhirnya.
Marni berdecak, "Dimana anak itu sekarang?"
"Istirahat dikamar, Riki tahu Ibu kesel karena Nilam udah bohong sama kita tapi nggak harus dipukul kan Bu?"
Marni mendengus sebal seolah tak terima jika Riki membela Nilam, "Ibu cuma mau Nilam ngaku tapi dia nggak ngaku pergi kemana jadi terpaksa Ibu nglakuin cara itu."
"Tapi cara Ibu itu bisa bikin Nilam nggak ada."
Marni mengangguk paham, "Malah bagus jika Ia mati, kita bisa menguasai rumah ini."
Riki menatap Marni tak percaya, "Jangan gila bu, bagaimana kalau Ibu malah berurusan dengan polisi? Riki cuma nggak mau Ibu kenapa napa." ungkap Riki.
Marni terlihat jengah dengan ucapan Riki, Ia malah menguap dan beranjak dari duduknya, "Ibu capek mau tidur, bilangin sama Nilam kalau dia masih nggak mau ngaku kemana dia pergi selama 5 hari ini, Ibu nggak akan kasih dia makan!" ucap Marni lalu pergi meninggalkan Riki.
__ADS_1
Lagi lagi Riki hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ibunya.
Riki ikut beranjak dari duduknya, Ia tak pergi ke kamarnya melainkan pergi ke kamar Nilam.
"Sudah mau tidur?" tanya Riki melihat Nilam sedang duduk sambil makan cemilan pemberian Vandam.
Nilam menggelengkan kepalanya, mulutnya sedang banyak jadi Ia tidak bisa menjawab.
Riki ikut duduk disamping Nilam, Ia bahkan ikut menyomot cemilan yang sedang dimakan oleh Nilam.
"Apa rasanya masih sakit?"
Nilam mengangguk, "Rasanya nyeri sekali kak."
"Maafkan Ibu..." kata Riki merasa bersalah.
Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah kak, lagipula memang aku yang salah."
Riki menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia bertanya, "Sebenarnya kau kemana selama 5 hari ini?" tanya Riki.
Nilam terlihat menghentikan kunyahannya, "Aku... Aku..." tak mampu menjawab Riki.
"Katakan padaku, aku tidak akan mengatakan pada Ibu."
Nilam menelan ludahnya, rasanya Ia tak enak jika tidak menjawab pertanyaan kakak tirinya yang sangat baik padanya itu.
"Aku pergi ke... Emm sebenarnya beberapa temanku mengajak study tour ke pantai. Aku ingin sekali kesana jadi aku terpaksa membohongi Kakak dan Ibu, maafkan aku." ungkap Nilam berbohong.
Riki ingin menatap mata Adiknya, Ia ingin mencari kejujuran disana namun karena Nilam menunduk, Riki tidak bisa mengetahui apakah Nilam jujur atau tidak.
"Karena itu kau berbohong pada kami?" tanya Riki yang langsung diangguki oleh Nilam.
"Maafkan aku kak."
"Baiklah aku bisa mengerti tapi besok cobalah jujur dengan Ibu agar Ibu tidak marah dan memukul mu lagi."
Nilam mengangguk, Besok Ia akan mengatakan pada Ibunya seperti apa yang sudah Ia katakan pada Riki saat ini.
Ia harus berbohong dan menciptakan drama seperti ini hanya untuk melindungi Vandam.
Benar benar gadis bodoh!
Keesokan harinya, Nilam keluar dari kamar dan langsung menemui Ibunya yang tengah duduk sambil menikmati teh hangatnya.
Nilam mengatakan pada Marni jika selama 5 hari ini Ia pegi liburan bersama teman temannya namun jawaban Marni sungguh tak terduga.
__ADS_1
"Kau pikir aku percaya? Kau bisa membodohi Riki namun kau tidak membodohiku!"
Bersambung...