
Tidak ingin melihat Nilam sedih berlarut larut, Vandam mengajak Nilam ke sebuah danau dengan pemandangan yang sangat indah.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Vandam sambil mengulurkan segelas coklat hangat untuk Nilam.
"Sedikit, tadi aku hanya shock saja Kak."
Vandam tersenyum, "Apa rencanamu sekarang?"
"Mungkin aku akan mulai menabung dan membeli kembali rumah itu."
Vandam kembali tersenyum dan kali ini ditambah mengelus kepala Nilam, "Nah, seperti itu lebih baik. Ada banyak jalan. Tidak perlu sedih berlarut larut." kata Vandam.
Nilam memaksakan senyumannya, "Sekarang aku benar benar sudah sebatang kara kak."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." kata Vandam yang lagi lagi membuat jantung Nilam berdegup kencang.
Nilam memeluk Vandam, entah mengapa rasanya sangat nyaman saat bersama Vandam. Pria yang dulu Ia benci nyatanya sudah berubah dan membuatnya aman saat bersamanya.
Cukup lama keduanya berada didanau hingga petang barulah mereka kembali ke mobil untuk perjalanan pulang kerumah.
"Rasanya aku masih ingin disana." ucap Nilam merasa belum puas.
"Nanti jika ada waktu luang kita kesana seharian." kata Vandam.
"Kakak sudah janji." balas Nilam dengan senyum mengembang.
Vandam terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia bertanya sesuatu pada Nilam, "Kau sudah tidak membenciku lagi?"
Nilam menggelengkan kepalanya,
"Jika aku kembali seperti dulu, memaksamu untuk melakukannya lagi, apa kau akan membenciku lagi?"
Nilam tersenyum, "Aku percaya Kak Vandam sudah berubah."
"Kenapa kau bisa seyakin ini?" heran Vandam.
"Jika Kak Vandam belum berubah mungkin sudah melakukannya sejak dulu. apalagi Kak Vandam memiliki akses keluar masuk kamarku, bukankah mudah jika ingin melakukannya lagi?"
Vandam tersenyum, apa yang dikatakan Nilam memang benar. Ia bisa saja memaksa seperti dulu namun Vandam tidak melakukan itu karena Ia ingin mendapatkan cinta dari Nilam dan jika Ingin mendapatkan cinta, Vandam harus memperlakukan Nilam dengan baik.
Tak terasa perjalanan panjang mereka sudah berakhir. Nilam dan Vandam akhirnya sampai ditoko kue Nilam, Tepat pukul 10 malam.
"Mobil siapa itu?" gumam Vandam saat ada mobil yang parkir didepan toko kue.
Nilam yang penasaran pun segera turun dan Ia terkejut saat melihat Fandi berdiri didepan mobilnya.
"Fandi, kok disini?" heran Nilam.
"Kamu pasti lupa ya?" tanya Fandi dengan wajah kesal apalagi melihat ada pria lain disamping Nilam.
"Lupa tentang apa?"
__ADS_1
"Kita mau nonton malam ini. Harusnya tadi jam 8 tapi aku telepon kamu nggak diangkat, aku pencet bel rumah kamu juga nggak ada respon jadi aku tunggu disini. Ternyata kamu baru aja pergi sama cowok lain." ungkap Fandi dan barulah Nilam sadar jika Ia ada janji menonton film dengan Fandi.
"Ya ampun, aku lupa. Maaf Fandi, aku minta maaf ya." Nilam terlihat merasa bersalah.
"Gimana kalau minta maafnya diganti sama nonton besok malam?"
"Nggak, Nilam nggak akan kemanapun malam ini sama besok malam!" balas Vandam membuat Nilam terdiam.
"Kenapa ikut campur? Emang kamu siapanya Nilam?"
"Gue emang bukan siapa siapanya Nilam, tapi mulai sekarang Nilam udah jadi tanggung jawab gue!"
Fandi tersenyum sinis, "Gue tunggu besok malam jam 8." kata Fandi pada Nilam lalu memasuki mobilnya, tak memperdulikan protesan Vandam yang masih terdengar.
Fandi melajukan mobilnya dengan kencang, Ia sangat kesal hari ini karena gagal mengajak Nilam keluar padahal Ia sudah mempunyai rencana jika Ia bisa membawa Nilam keluar malam ini.
"Sial, aku harus mengganti agendaku!" umpat Fandi lalu menghubungi salah satu anak buah Ayahnya.
"Aku butuh bantuan kalian untuk besok malam!" ucap Fandi lalu tersenyum menyerigai.
Sementara itu, Vandam ikut masuk bersama Nilam didalam. Vandam memang belum ingin pulang, masih ingin menemani Nilam.
"Apa kau akan tetap pergi bersamanya besok?" tanya Vandam memastikan.
"Aku belum tahu kak."
"Jangan pergi."
"Tapi kak..." Nilam ingin protes namun seketika Ia mengurungkan niatnya.
Nilam akhirnya memilih diam, Vandam mengatakan jika Fandi bukan pria baik tapi Nilam berpikir sebaliknya. Fandi adalah mahasiswa berprestasi di kampusnya. Dia juga selalu bersikap baik dengan semua orang jadi rasanya aneh jika Vandam menganggapnya bukan pria baik padahal Vandam belum mengenal Fandi.
"Kau tidak akan pergi kan?" tanya Vandam memastikan sekali lagi.
"Aku tidak tahu kak, aku sudah berjanji jadi aku-"
"Kau akan tetap pergi?" potong Vandam tersenyum hambar.
"Maafkan aku."
"Baiklah, pergi saja. Aku bukan seseorang yang penting yang bisa melarangmu." ucap Vandam membuat hati Nilam terasa nyeri.
"Aku harus pergi ke club sekarang." kata Vandam melihat jam dipergelangan tangannya, "Semoga tidurmu nyenyak, aku pergi sekarang."
"Kak..." panggil Nilam namun Vandam tak mengubris, Ia tetap pergi meninggalkan kamar Nilam.
"Dia pasti marah, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mau ingkar janji." gumam Nilam dengan raut wajah sedih.
Hari berikutnya...
Setelah menutup toko, Nilam bergegas untuk mandi dan bersiap sebelum Fandi datang menjemputnya.
__ADS_1
Anehnya, jika setelah menutup toko biasanya Nisa langsung pulang namun kali ini tidak. Nisa ikut ke kamar Nilam.
"Tumben Nis, biasanya langsung pulang?" tanya Nilam selesai mandi, melihat Nisa asyik menyentuh koleksi tas miliknya.
"Bosen mbak dirumah, eh mbak mau pakai tas yang mana?" tanya Nisa.
"Yang warna cream itu aja."
"Bagusan yang hitam mbak, simpel."
Nilam akhirnya menyetujui pilihan Nisa, "Ya sudah, yang hitam aja kalau begitu."
Nisa membantu Nilam mempersiapkan diri, "Nggak usah cantik cantik mbak."
"Kenapa emang?"
"Ya biar dia suka sama mbak apa adanya gitu."
Nilam tersenyum lalu mengangguk.
Tepat pukul 8 malam, Mobil Fandi sudah terparkir didepan toko kue Nilam.
Nilam keluar bersama Nisa, "Aku balik dulu ya mbak, hati hati dan jangan pulang larut malam." pamit Nisa yang langsung diangguki oleh Nilam.
Nilam sempat melihat ke kanan dan kiri, memastikan jika Vandam tidak datang dan memang benar, Vandam tidak datang untuk mencegahnya pergi.
"Kita berangkat sekarang?" tawar Fandi.
Nilam mengangguk dan langsung menaiki mobil mewah Fandi.
Fandi melajukan mobilnya menuju bioskop terdekat. Keduanya menonton film romance komedi yang mengundang gelak tawa.
Selesai menonton film, Fandi mengajak Nilam makan malam. Awalnya Nilam menolak namun karena Fandi memaksa akhirnya Nilam tidak bisa menolak lagi.
Selesai makan malam, Fandi ingin mengantar Nilam pulang namun saat dimobil, tubuh Nilam rasanya lemas seperti tak memiliki tenaga.
"Kamu baik baik saja?" tanya Fandi terdengar khawatir.
"Nggak tahu rasanya lemas banget, mungkin aku salah makan." kata Nilam mengingat Ia belum pernah makan direstoran mahal seperti tadi.
"Kalau gitu kerumah sakit aja ya?"
Nilam menggelengkan kepalanya, "Enggak perlu."
"Nggak boleh nolak." kata Fandi melajukan mobilnya.
Nilam pikir Fandi akan membawanya ke rumah sakit namun ternyata Nilam salah karena ternyata Fandi membawanya ke hotel, Meski lemas dan pandangan matanya kabur namun Nilam masih bisa melihat sedikit jika saat ini Ia berada dihotel.
"Kenapa kita malah kesini?"
Fandi tidak menjawab, Ia malah melempar tubuh Nilam ke ranjang.
__ADS_1
"Tentu saja untuk menikmatimu baby."
Bersambung ...