
Seolah tak percaya dengan apa yang Vandam ucapkan, Nilam pun mencicipi kopi dicangkir Vandan yang masih tersisa sedikit dan Ia langsung memuntahkan diwastafel karena rasanya sangat asin.
Nilam merasa terlalu gugup karena ini kali pertamanya Ia bekerja dan membuatkan sarapan untuk Tuannya hingga tak bisa membedakan antara garam dan gula.
"Mau kemana?" tanya Vandam saat Nilam berjalan keluar dari dapur.
"Jangan menganggu Tuan yang sedang istirahat, kau bisa kena marah." Vandam memperingatkan mengingat Nilam berhenti didepan kamar Arga.
"Tapi aku ingin minta maaf, aku sudah salah menaruh garam dikopinya."
Vandam menghela nafas panjang, "Nanti saja, biarkan Tuan istirahat lebih dulu."
Nilam akhirnya mengangguk, Ia kembali ke dapur untuk mencuci piring dan gelas bekas Vandam.
"Kenapa kopinya kau habiskan jika rasanya asin?" tanya Nilam pada Vandam yang kini berdiri disampingnya, menatap Nilam.
"Bagaimanapun rasanya jika kau yang membuat aku akan tetap menikmatinya."
Nilam tersenyum kecut, "Dasar perayu, aku tidak akan tergoda lagi dengan ucapan busuknya!" batin Nilam.
"Setelah ini bersiaplah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Nilam langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, aku ingin disini saja."
Vandam berdecak, "Kau pasti akan menyesal karena menolak." kata Vandam lalu pergi meninggalkan Nilam.
Nilam memanyunkan bibirnya, melihat Vandam masuk ke kamar Ia memilih duduk di balkon apartemen untuk melihat pemandangan kota pagi ini.
Makin lama berada disana, Nilam merasa bosan hingga akhirnya Ia memutuskan untuk masuk ke kamar. Melihat Vandam tidur terlelap diranjang. Nilam menghela nafas panjang, Ia benar benar tak tahu apa yang harus Ia lakukan saat ini.
Mata Nilam tertuju pada 2lembar kertas yang ada dimeja. Nilam menghampiri meja itu dan melihat kertas apa itu.
"Tiket wahana, bukankah ini wahana yang sangat terkenal itu?" batin Nilam lalu menatap Vandam.
Nilam akhirnya sadar jika Vandam akan mengajaknya ke tempat itu, sayangnya Ia malah menolak. Sedikit ada rasa penyesalan karena jujur sudah lama Nilam ingin pergi ke tempat itu.
Nilam kembali meletakan 2tiket itu, lalu memilih keluar lagi karena tak ingin larut dalam kecewa.
Diluar, Ia terkejut melihat Arga sedang berdiri didapur sambil minum segelas air mineral.
"Kalau bosan, nonton Tv atau pergilah jalan jalan keluar." kata Arga melihat wajah masam Nilam.
__ADS_1
Nilam menggelengkan kepalanya, "Tuan, maafkan saya tentang kopi yang saya buat ternyata saya tidak menaruh gula melainkan malah garam."
Arga tertawa, "Apa kau gugup?"
"Sedikit karena ini kali pertamanya saya bekerja." ungkap Nilam.
Arga tersenyum, "Tidak masalah, aku terkejut dengan rasanya hingga memuncratkan kopinya keluar membuat meja dan semuanya kotor, maafkan aku." kata Arga lalu pergi meninggalkan Nilam yang terlihat bingung.
"Kotor? Bukankah tadi mejanya terlihat bersih?" heran Nilam mengingat saat Ia keluar meja makan memang bersih bahkan piring kotor Arga sudah tidak ada.
"Apa mungkin? Ah tidak mungkin." Nilam menggelengkan kepalanya saat mengira Vandam lah yang mencuci piring Arga dan membersihkan meja makan.
Nilam mengikuti saran Arga untuk jalan jalan keluar karena dia sangat bosan berada di dalam apartemen.
Nilam berjalan tanpa arah hingga Ia malah masuk ke kolam renang yang sangat besar dimana ada banyak pria yang sedang berenang disana.
"Wow, lihatlah siapa yang datang." teriak salah satu pria membuat semua mata menatap ke arah Nilam.
Karena takut dan bingung, Nilam akhirnya memutuskan untuk berbalik namun sayang salah satu pria yang berada disana tampak berlari menghampirinya.
"Mau ikut berenang bersama kami Nona?"
Nilam segera menggelengkan kepalanya, "Maaf, saya masih belum tahu tempat sekitar sini sampai nyasar kesini." kata Nilam mencoba untuk pergi namun sayang pria itu terus menghalangi Nilam untuk pergi.
"Cuaca hari ini sangat panas, ikutlah berenang bersama kami." ajaknya ingin menarik tangan Nilam namun dengan cepat Nilam menyembunyikan tangannya ke dalam kantong.
Kedua pria itu tak menyerah ingin menyentuh Nilam membuat Nilam sangat ketakutan beruntung sebuah suara yang tak Nilam sukai datang untuk menyelamatkannya.
"Jadi kau disini sayang?"
Dua pria itu berbalik dan menatap seorang pria yang berdiri dibelakang mereka.
Nilam yang melihat jika itu Vandam pun segera menghampiri Vandam dan mengenggam lengan Vandam.
"Aku mencarimu kemana mana." kata Vandam mengelus kepala Nilam.
"Maafkan istriku, dia baru pindah kesini kemarin jadi mungkin belum tahu jika kolam renang ini khusus untuk para pria." kata Vandam para 2 pria yang kini terlihat malu itu.
Vandam terlihat menahan emosinya lalu membawa Nilam kembali ke apartemen.
"Bagaimana bisa kau keluar tanpa izinku?" tanya Vandam dengan emosi saat keduanya sudah kembali ke kamar.
__ADS_1
Nilam menundukan kepalanya karena tahu dirinya salah, "Aku bosan dan Tuan menyuruhku jalan jalan keluar jika bosan."
Vandam memeganggi kepalanya yang berdenyut, "Tak tahukah jika para pria tadi sangat berbahaya, mereka mungkin akan mengincarmu!"
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Nilam terlihat ketakutan.
"Jangan keluar dari sini tanpa aku, jika kau masih mengeyel, aku tidak akan menanggung kalau sampai terjadi sesuatu padamu!" ancam Vandam.
Nilam benar benar sangat ketakutan hingga akhinrya Ia mengangguki ucapan Vandam,
"Lagipula aku sudah mengajakmu keluar untuk jalan jalan tapi kau malah menolak!" sindir Vandam.
"Aku tidak tahu jika kau ingin mengajak ku kesana." kata Nilam sambil menunjuk ke arah tiket yang masih bergeletak dimeja.
Vandam menghela nafas panjang, "Bersiaplah jika kau ingin pergi kesana."
Nilam terdiam sejenak, memikirkan tawaran Vandam hingga akhirnya Ia mengambil baju ganti di lemari dan memasuki kamar mandi.
Vandam tersenyum kecil melihat tingkah Nilam.
Kini Nilam sudah siap untuk berangkat dan keduanya pun segera keluar.
"Apa tidak pamit dulu dengan Tuan?" tanya Nilam.
"Tidak perlu, aku akan mengiriminya pesan."
"Bagaimana jika Tuan marah?"
Vandam menatap Nilam lalu diam tak menjawab hingga keduanya memasuki mobil barulah Vandam menjawab, "Apa kau menyukai Tuan Arga?"
Nilam terkejut lalu segera menggelengkan kepalanya.
Vandam tersenyum kecut, Ia menarik dagu Nilam menatap Nilam dengan tatapan yang tak biasa, "Kau ini milik ku, jangan sekali kali menyukai pria lain!"
Nilam yang kesal dengan ucapan Vandam pun melepaskan tangan Vandam dari dagunya, "Aku bukan milik siapapun jadi terserah jika aku menyu-"
Belum sempat Nilam menyelesaikan ucapannya, Vandam sudah mencium bibirnya dengan brutal lalu memberi gigitan disana membuat Nilam menjerit kesakitan.
Vandam tersenyum puas melihat Nilam kesakitan seolah sudah melampiaskan kekesalannya pada Nilam.
"Dasar gadis nakal, lihat saja nanti aku akan menghabisimu." kata Vandam dengan senyuman nakalnya.
__ADS_1
Bersambung....