NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
15


__ADS_3

Setelah 2 minggu libur sekolah kini akhirnya Nilam kembali bersekolah seperti biasa dan sepulang sekolah, Nilam berjualan donat.


Hari semakin terik dan panas, Nilam mencari tempat untuk berteduh, istirahat sejenak sebelum kembali berkeliling.


"Haus sekali." keluh Nilam mengeluarkan uang disakunya yang hanya ada 2ribu saja itupun dari Riki, kembalian saat Nilam diminta membelikan rokok semalam.


"Rasanya aku ingin minum itu, tapi uangku tidak akan cukup." gumam Nilam menatap sekumpulan gadis yang sedang minum es boba.


Nilam melamun, masih menatap ke arah para gadis yang sangat beruntung karena bisa membeli segala yang di inginkan, tidak seperti Nilam saat ini. Bahkan Nilam sudah bekerja keras pun tidak bisa menikmati hasil kerjanya.


"Minumlah." ucap seseorang yang tiba tiba duduk disamping Nilam mengulurkan satu gelas boba untuk Nilam.


"Apa ini dan siapa kau?" heran Nilam tak mengenal pria yang ada disampingnya itu.


"Tidak perlu tahu siapa aku, jika kau ingin minum Boba, minumlah ini." kata Pria itu namun Nilam langsung menggelengkan kepala, menolak karena Ia tidak mengenal pria itu.


"Tidak mau, aku bahkan tidak mengenal siapa kamu."


Pria itu malah tersenyum, "Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, aku disini untuk menjagamu." kata Pria itu dan Nilam ingat akan sesuatu.


"Jangan jangan kau..."


"Ya, aku adalah anak buah dari Bos Vandam."


Nilam terlihat lega dan langsung menerima boba itu. Tanpa protes lagi, Nilam segera menghabiskan 1 gelas Boba yang teramat menyegarkan itu.


"Katakan padanya jika aku berterima kasih atas segala bantuannya." kata Nilam.


"Baiklah Nona."


Pria itu segera pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


"Pria itu benar benar, bagaimana bisa dia melakukan ini padaku." gumam Nilam lalu tersenyum senang.


Tak berapa lama, ada 3 orang ibu ibu pasar datang mendekatinya dan memborong semua donatnya.


"Apa kalian juga suruhan Kak Vandam?" tanya Nilam pada ketiga ibu ibu pasar itu.


"Vandam siapa? Kami membeli karena butuh untuk menjenguk teman kami yang sedang sakit."


Seketika Nilam tersenyum malu karena sudah salah paham.


"Maaf, saya kira..."


Setelah membayar donatnya, ketiga Ibu itu segera pergi dan Nilam bisa pulang lebih cepat.


jarang sekali Nilam bisa pulang cepat saat sudah sekolah, biasanya Nilam pulang sore kadang petang baru pulang, tidak ada waktu untuk belajar dirumah.


Sampai dirumah, Nilam menyetorkan uangnya pada Marni dan Ia segera pergi ke kamarnya untuk istirahat.

__ADS_1


Sebenarnya Marni masih penasaran dengan siapa yang sudah menjaga Nilam akhir akhir ini namun Ia tak mau mencari tahu lagi mengingat terakhir Ia mengerjai Nilam malah Marni sendiri yang mendapatkan getahnya.


Marni segera keluar rumah untuk belanja dan ini menjadi kesempatan Nilam memasak mie instan pemberian Vandam.


Kebiasaan Nilam memasak mie untuk dirinya saat Ibunya sedang tidak dirumah.


Namun hari ini sepertinya Nilam sedikit sial karena saat Ia sedang memasak mie, tiba tiba Ibunya kembali pulang.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Marni membuat Nilam terkejut dan hampir menjatuhkan mangkoknya.


"Ibu..."


"Kau masak mie? Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Marni lagi melihat Nilam membawa semangkok mie.


Nilam berpikir cepat agar bisa memberikan jawaban untuk ibunya, "Semalam Kak Riki suruh Nilam buat beliin rokok trus kembaliannya nggak mau jadi Nilam belikan mie ini."


Marni berdecak lalu meminta mangkok mie Nilam, "Enak saja kau!"


Nilam menunduk takut, Tak peduli jika mie nya diambil oleh Marni asal Marni tidak tahu ada banyak makanan di kamarnya.


"Mulai besok kalau ada uang kembalian dan Riki tidak mau, berikan padaku! Jangan sekali kali kau menggunakan uang itu!" kata Marni tegas.


Nilam menunduk lesu, "Baiklah Bu."


Nilam kembali ke kamarnya, meninggalkan Marni yang tengah menikmati mie buatannya.


"Jika saja waktu itu Ayah tidak menikah dengannya, mungkin hidupku tidak seperti ini. Aku bisa berjualan dan hasilnya bisa ku nikmati sendiri." gumam Nilam lalu menghela nafas panjang.


Nilam memang masih belum mengakui jika Ia merindukan pria itu hanya saja kadang Nilam dilanda kegalauan saat mengingat pria itu.


Dan siang ini, sepulang sekolah Nilam bersiap untuk berjualan donat. Nilam keluar dari gerbang sekolahan dan terkejut melihat pria yang Ia kenali tengah berdiri didepan mobil, seperti sedang menunggu seseorang.


"Kak Vandam..." gumam Nilam menatap ke arah pria yang tersenyum ke arahnya lalu berjalan mendekatinya.


"Ayo masuk ke mobil." ajak Vandam lalu merangkul Nilam.


Sebelum masuk ke mobil, Nilam melihat ke sekitar, Ia tak mau ada teman sekelasnya yang melihat dan akan menjadikan bahan gosip serta bullyan mereka.


Setelah dirasa aman, Nilam segera memasuki mobil Vandam.


"Kakak libur?" tanya Nilam saat sudah berada didalam mobil.


Vandam menggelengkan kepalanya, "Izin satu hari karena aku sudah tidak tahan dengan ini."


"Dengan apa?"


"Menahan rindu padamu." ucap Vandam yang seketika membuat Nilam tersipu malu.


"Dasar perayu!''

__ADS_1


Vandam tertawa mendengar ucapan Nilam, "Aku mengatakan yang sebenarnya."


Nilam terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia mengucapkan sesuatu pada Vandam, "Terima kasih kak."


"Untuk apa?"


"Karena selama tidak disini Kak Vandam sudah menjaga dan memberiku makan."


Vandam tersenyum, "Apa kau bahagia?"


Nilam mengangguk, "Ya, aku merasa aman dan tidak pernah kelaparan lagi."


"Berapa lama lagi kau lulus?" tanya Vandam.


"Setengah tahun lagi, sebenarnya aku ingin berhenti berjualan sementara agar aku bisa fokus belajar tapi Ibu pasti tidak akan membiarkan itu." ungkap Nilam.


Vandam tersenyum, "Aku punya ide agar kau bisa fokus belajar tanpa harus berhenti berjualan."


"Ide apa kak?"


Vandam menghentikan laju mobilnya didepan rumah makan, "Nanti saja ku jelaskan, sekarang sebaiknya kita makan siang dulu." ajak Vandam yang langsung diangguki Nilam karena Ia juga sudah lapar.


"Aku senang melihatmu makan dengan lahap seperti ini." kata Vandam membuat Nilam tersenyum malu.


"Aku jarang bisa makan sebebas ini kak jadi aku tidak akan menyianyiakan makanan yang sudah ada." ungkap Nilam.


Vandam tersenyum, "Habiskan dan jika perlu kau bisa tambah lagi."


Nilam mengangguk, kembali menikmati makan siangnya kali ini.


Selesai makan, keduanya kembali ke mobil.


"Aku harus berjualan kak." kata Nilam.


Vandam menggelengkan kepalanya, "Ku bilang aku memiliki ide agar kau tidak harus berjualan."


"Ide seperti apa kak?"


Vandam hanya tersenyum, Ia segera melajukan mobilnya menuju panti asuhan yang tak jauh dari sekolahan Nilam.


"Kak Vandamm..."


"Kak Vandamm..."


Semua anak kecil tampak keluar dari rumah panti untuk menyambut kedatangan Vandam.


Nilam cukup terkejut dengan ini, Jika anak anak itu sudah mengenal Vandam artinya Vandam sering datang kesini untuk membantu mereka pikir Nilam.


Nilam tersenyum lalu keluar dari mobil bersama Vandam.

__ADS_1


"Dia pria baik."


Bersambung....


__ADS_2