NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
25


__ADS_3

Vandam menatap wajah gadis yang kini sudah terlelap direngkuhannya.


Sesekali senyuman mengulas dibibir tipisnya.


Vandam mengambil tangannya yang ada dibawah leher Nilam, Ia membalikan badan Nilam membiarkan tubuh gadis itu berbaring dengan nyaman.


Melihat tubuh polos Nilam membuat nafsu Vandam kembali memburu namun Vandam menahan dirinya, Ia tidak ingin menyakiti Nilam lebih dari ini.


Vandam mengelus perut Nilam yang masih rata, Ia gemas lalu menciumnya, setelah itu Vandam menyelimuti tubuh polos Nilam.


Vandam keluar dari kamar, Ia duduk diruang tamu lalu menyalakan rokoknya. Vandam menghisap perlahan rokoknya, matanya tak sengaja menatap ke arah tas Nilam yang tergeletak dimeja.


Vandam mengambil tas Nilam, Ia penasaran dengan isi tas Nilam. Saat membuka tas, Vandam terkejut melihat ada tespack yang masih baru didalam tas Nilam.


"Gawat jika dia memakai tespack ini." gumam Vandam segera mengambil tespack itu lalu Ia bawa keluar rumah.


Dengan korek api, Vandam membakar kedua tespack yang dibeli Nilam.


Ia terpaksa melakukan ini karena Vandam tak ingin Nilam tahu tentang kehamilannya yang membuat Nilam shock hingga semakin membencinya.


Vandam sudah mempunyai rencana untuk Nilam, Setelah Nilam lulus sekolah, Ia akan segera menikahi Nilam, mengajak gadis itu tinggal dikota dan barulah Vandam akan mengatakan tentang kehamilan Nilam.


Vandam memasuki rumah, terkejut melihat Nilam bangun. Berdiri didepan ruang tamu dan sudah mengenakan piyama.


"Kenapa bangun?" tanya Vandam.


Nilam hanya diam, Ia malah mengambil tasnya dan membawanya kembali masuk ke kamar.


Vandam sedikit lega karena sudah menutup tas Nilam dengan benar sehingga tidak membuat Gadis itu curiga.


Vandam mengerus rokoknya, Ia mengikuti langkah kaki Nilam memasuki kamar.


Vandam melihat Nilam kembali berbaring sambil memeganggi perutnya.


"Sakit?" tanya Vandam.


"Lapar."


Vandam tersenyum, "Mau makan apa?"


Nilam kembali diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bakso tapi ini sudah malam, apa masih ada yang jualan?"


Vandam kembali tersenyum, "Akan ku carikan."


Vandam bergegas pergi keluar rumah. Nilam masih berdiri ditempatnya, memandangi punggung Vandam.


"Kenapa dia baik sekali, aku tidak bisa membencinya jika dia sebaik ini padahal dia sudah mengkhianatiku dan kak Riki." gumam Nilam lalu menghela nafas panjang dan duduk disofa menunggu Vandam kembali.


Tak lama, Vandam sudah kembali membawa sebungkus bakso untuk Nilam.


"Kenapa hanya sebungkus?" tanya Nilam.


"Aku sudah kenyang sayang, untukmu saja." kata Vandam mengambil mangkok didapur lalu menyajikan dan diberikan pada Nilam.


Nilam menyantap semangkok bakso dengan lahapnya dan Vandam hanya memandangi Nilam dengan bibir tersenyum, rasanya menyenangkan melihat Nilam makan dengan lahapnya seperti ini.

__ADS_1


"Besok aku akan kembali ke kota."


Nilam menghentikan suapanya, "Bagus, jadi tidak ada penganggu lagi." batin Nilam.


"Jaga dirimu baik baik selama aku tidak ada." tambah Vandam.


Nilam hanya menganggukan kepalanya,


"Aku akan kembali seminggu lagi."


Hampir saja Nilam tersedak, "Kenapa cepat sekali?" heran Nilam mengingat biasanya Vandam kembali setelah satu bulan berada dikota.


"Kenapa? Tidak suka?"


Nilam menunduk takut.


"Besok senin kau sudah mulai ujian sekolah kan?" tanya Vandam memastikan.


Nilam hanya mengangguk,


"Berapa hari?"


"Empat."


"Baiklah, selesai ujian aku akan mengajakmu liburan."


Seketika Nilam menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau kak!"


"Kau menolak?" Vandam menatap Nilam dengan sinis.


Hati Vandam terasa sakit saat mendengar Nilam mengatakan itu padanya.


"Tidak, kau milik ku sampai kapanpun akan jadi milik ku!" balas Vandam penuh penekanan.


"Kau egois kak!"


Vandam tersenyum, "Tidurlah, sudah malam."


Tanpa mengatakan apapun, Nilam beranjak dari duduknya, pergi memasuki kamar meninggalkan Vandam.


Dan Vandam yang masih duduk disofa kembali mengambil 1 batang rokok lalu Ia hisap perlahan untuk menghilangkan rasa emosi karena ucapan Nilam.


Setelah menghabiskan sebatang rokoknya, Vandam memasuki kamar Nilam, ikut berbaring disamping Nilam, memeluk Nilam yang entah sudah tidur atau hanya pura pura tidur.


...****************...


Tidur Nilam terusik kala mendengar suara berisik dari luar. Nilam bangun, disampingnya sudah tidak ada Vandam padahal Ia ingat semalam Vandam tidur memeluk dirinya.


Nilam keluar kamar dan melihat Riki dan Marni baru saja pulang.


"Cepat buatkan sarapan untuk kami!" perintah Marni yang terlihat kelelahan.


Tanpa protes, Nilam segera pergi ke dapur. Memasak bahan seadanya karena ini masih subuh, penjual sayur belum datang.


"Hanya nasi goreng?" tanya Marni saat Nilam baru saja selesai membuat nasi goreng.


"Hanya itu bahan yang tersisa Bu, sudah tidak ada lagi." kata Nilam.

__ADS_1


"Sudahlah bu, kita makan saja. Sudah beruntung ada Nilam yang membuatkan kita makanan." kata Riki mengingatkan.


Marni mendengus kesal lalu menyantap nasi goreng buatan Nilam.


"Selama 5 hari ku tinggal apa kau berjualan donat?" tanya Marni.


Nilam menggelengkan kepalanya pelan,


Brakk... Suara meja digebrak terdengar.


"Beraninya kau bersantai saat aku dirumah!"


Nilam menunduk ketakutan, tak berani menatap Marni. "Maafkan aku Bu, besok senin Nilam sudah ujian sekolah jadi Nilam ingin fokus belajar. Setelah ujian selesai, Nilam janji akan berjualan lebih giat lagi." kata Nilam meskipun sebenarnya Nilam bisa saja mengambil uang dari atm yang diberikan Vandam namun Nilam sudah tidak mau melakukan itu, Ia tidak mau bergantung pada pria brengsek itu lagi.


"Benar Bu, biarkan Nilam belajar lebih dulu. Jangan terlalu menekannya." Riki kembali mengingatkan.


Marni berdecak, "Kau ini selalu saja membela adikmu itu!" omel Marni, "Sekarang kau cuci semua baju kotor itu!" perintah Marni menunjuk ke arah tas besar yang mereka bawa liburan.


"Baik Bu."


Nilam segera mengambil tas besar itu lalu Ia bawa ke belakang untuk di cuci. Hari ini libur jadi Ia sedikit santai.


Setelah selesai mencuci dan menjemur semua pakaian, Nilam keluar, melihat Riki sedang duduk santai didepan sambil merokok.


"Kak..." panggil Nilam yang kini ikut duduk di kursi yang sama.


"Kau baru selesai? Maaf aku tidak membantu." kata Riki terlihat tak enak.


Riki memang tidak pernah merepotkan Nilam perihal mencuci pakaian karena biasanya Ia akan mencuci pakaiannya sendiri namun hari ini berbeda, Riki sangat lelah jadi Ia membiarkan Nilam mencuci pakaiannya.


"Tidak apa apa kak, santai saja."


"Kau sudah siap dengan ujianmu besok?" tanya Riki.


Nilam mengangguk,


"Kau harus semangat." kata Riki.


"Ya pasti Kak, setelah lulus aku akan membantu Kak Riki mencari uang."


Riki tertawa, "Tidak seharusnya kau kuliah dulu agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."


Nilam hanya tersenyum,


"Apa Kak Riki sangat mencintai Kak Anjani?" tanya Nilam tiba tiba.


Riki mengerutkan keningnya heran, "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin tahu saja kak." balas Nilam.


Riki tersenyum, "Ya aku sangat mencintai Anjani, dia gadis yang baik dan sangat pengertian."


Nilam tertunduk sedih, mendengar pengakuan Riki.


Dia tidak sebaik itu, Nilam tidak tahu cara mengatakan pada Riki.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2