NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
08


__ADS_3

Nilam merutuki kebodohannya, Ia mencium Vandam sama saja Ia sudah menyulut api gairah Vandam.


Seharian ini Vandam menahan diri agar bisa membuat Nilam luluh padanya namun kini Nilam malah menggodanya.


"Jika kau menciumku seperti ini, aku bisa melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan." omel Vandam membuat Nilam tertunduk.


"Apa kau ingin mencobanya? Selama ini kau tidak bisa menikmati setiap permainan kita, jika kau bisa menikmatinya rasanya pasti akan menyenangkan." kata Vandam.


Nilam hanya diam tidak menjawab dan Vandam pikir Nilam juga menginginkannya.


Vandam mengelus pipi Nilam dengan lembut, Ia mencium bibir Nilam dengan perlahan dan tangannya menyusuri setiap bagian tubuh sensitif milik Nilam, membuat Nilam mabuk kepayang.


Vandam tersenyum senang saat melihat tatapan mata Nilam yang menginginkan lebih.


Tak menunggu lama, Vandam menyatukan milik keduanya dan malam ini adalah malam pertama dimana keduanya mengeluarkan suara kenikmatan bersama. Tanpa ada tangis dan jeritan dari Nilam lagi.


Vandam melepaskan penyatuannya setelah baru saja Ia menyemburkan benih ke rahim Nilam. Ia mengecup kening Nilam sangat lama lalu berbaring disamping Nilam.


"Bagaimana? Menyenangkan bukan?"


Mau tak mau Nilam menganggukan kepalanya, Karena malam ini Vandam memperlakukan dirinya sangat lembut tidak sekasar biasanya jadi Ia bisa merasakan betapa nikmatnya melakukan hal seperti ini meskipun Nilam sadar jika apa yang dia lakukan saat ini adalah sesuatu yang salah.


Tak berapa lama mata Nilam terpejam dan suara dengkuran Nilam terdengar yang menandakan jika gadis itu sudah terlelap.


Vandam tersenyum, "Kau tidak bisa tidur karena kita belum melakukannya, sekarang setelah kita melakukannya kau langsung tidur." gumam Vandam lalu ikut terlelap bersama Nilam.


Pagi ini Nilam bangun tidur terlihat lebih bahagia dari biasanya.


Ia lebih banyak mengulas senyuman apalagi pagi ini mereka akan pulang kerumah.


"Kau terlihat senang, apa karena setelah ini kita akan berpisah dan membuatmu senang?" tanya Vandam membuat Nilam menghentikan gerakan tangan saat akan mengemas baju miliknya.


"Senang? Ya seharusnya aku senang karena aku tidak lagi harus melayani hasrat pria itu lagi tapi berpisah kenapa rasanya terdengar menyakitkan?" batin Nilam mendadak merasa sedih.


"Sudahlah, sebaiknya kita segera berkemas karena aku harus berangkat ke kota nanti sore." ajak Vandam membuyarkan lamunan Nilam.


"Ke kota?"


Vandam mengangguk, "Ya, aku bekerja dikota dan tinggal disana, tidak tahu kapan akan kesini lagi."


Nilam masih diam, hatinya terasa hancur mendengar ucapan Vandam.


"Dia meninggalkanku, dia membuangku, dia benar benar pria brengsek. Seharusnya dia tidak mengucapkan kata sampah jika dia mencintaiku!" umpat Nilam dalam hati.


Vandam merangkul Nilam, "Ayo segera masuk ke mobil."


Nilam langsung menyentak Vandam, "Aku bisa jalan sendiri." ucap Nilam lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Vandam.

__ADS_1


"Kenapa dia mendadak marah." gumam Vandam lalu tersenyum mengikuti langkah kaki Nilam.


Sepanjang perjalanan Nilam lebih banyak diam, bahkan saat Vandam menanyakan sesuatu, Nilam menjawab seperlunya.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Nilam saat Vandam menghentikan mobilnya disebuah rumah makan.


"Kita akan makan dulu sayang."


"Sayang? Dia mudah sekali memanggilku sayang padahal sebentar lagi dia akan meninggalkanku ke kota!" batin Nilam bertambah kesal.


"Aku tidak lapar, sebaiknya kita segera pulang." pinta Nilam.


"Aku sangat lapar, jika kau tidak lapar dan tidak mau makan tunggu saja disini." kata Vandam santai lalu keluar dari mobil.


Mata Nilam melotot, tak percaya Vandam akan meninggalkan dirinya sendiri didalam mobil.


"Apa dia pikir aku akan menyusul? Dia terlalu percaya diri." ucap Nilam dengan kesal.


Nilam berada didalam mobil hampir 30 menit dan masih belum ada tanda tanda Vandam kembali.


Krucuk... Krucuk... Suara perutnya pun terdengar. Nilam merasa lapar.


"Ck, apa aku harus menyusulnya?"


Nilam segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah terbiasa menahan lapar."


Nilam segera keluar dari mobil dan menyusul masuk ke rumah makan dimana Vandam masih duduk disana menikmati secangkir kopi sambil merokok dan makanan yang masih utuh belum tersentuh.


"Apa kau ingin makan? Aku sudah memesan untukmu." kata Vandam saat Nilam menghampirinya.


Nilam melihat ada dua porsi nasi dan ayam goreng lengkap dengan sambal juga lalapannya. Sangat menggoda dan membuat perut Nilam semakin lapar.


"Ayolah kita makan, aku sudah sangat lapar, lama sekali menunggumu kemari." kata Vandam.


Nilam akhirnya ikut duduk bersama Vandam, "Kau menungguku?"


Vandam mengangguk, "Aku tahu kau lapar jadi aku menunggumu karena aku yakin kau pasti akan datang kemari."


Nilam menunduk malu, tak menyangka Vandam mengetahui apa yang Ia rasakan.


"Makanlah." ajak Vandam yang sudah mengerus rokok lalu mulai makan bersama.


"Apa kau tidak akan kembali lagi kesini setelah ini?" tanya Nilam disela sela makannya.


"Aku tidak tahu, jika ada yang mengharapkan kedatanganku mungkin aku akan datang lagi tapi jika tidak..."


Nilam menunduk sedih.

__ADS_1


"Kau ingin aku kembali lagi atau tidak?" tanya Vandam seketika membuat Nilam gugup.


"Terserah kakak saja."


Vandam tersenyum, "Baiklah."


Selesai makan, keduanya kembali ke mobil dan Vandam segera melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan pulang.


"Apa kau yakin tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Vandam.


Nilam menggelengkan kepalanya,


Vandam mengangguk dan menghentikan mobilnya didekat gang masuk rumah Nilam.


"Ambillah ini." kata Vandam mengulurkan sebuah kartu atm.


"Untuk apa Kak?"


"Aku sudah mengisi uang di atm ini, ambillah jika ingin membeli sesuatu."


Nilam langsung saja menggelengkan kepalanya, "Tidak kak, aku tidak mau."


Vandam berdecak, "Kau menolak saat aku ingin membelikan ponsel, baju, tas dan sepatu tapi jika ini ku mohon jangan menolak." pinta Vandam.


"Jika aku menerima ini bukankah sama saja aku sudah menjual diriku padamu selama 5 hari kak?"


Vandam terdiam, Ia bisa melihat sorot mata Nilam yang tengah tersiksa.


"Maafkan aku sayang, aku memberikan ini bukan karena merasa membeli dirimu aku hanya ingin kau fokus belajar dan tidak perlu berjualan donat lagi." jelas Vandam tak ingin Nilam salah paham.


Nilam tersenyum, "Maafkan aku kak, tapi aku tetap tidak bisa menerima ini."


Setelah mengatakan itu, Nilam segera keluar dari mobil. Berjalan meninggalkan Vandam yang masih menatap ke arahnya.


"Kau benar benar berbeda Nilam, jika itu gadis lain mungkin tidak akan menolak tawaran ku ini tapi kau..." Vandam tersenyum dan masih menatap punggung Nilam yang kini sudah memasuki gang masuk rumahnya.


Nilam berjalan pelan menuju rumahnya, Ia tak tahu apa Ia merasa senang atau sedih saat ini. Ia hanya berharap Vandam tak cepat melupakannya dan menemuinya lagi suatu hari nanti.


Nilam memasuki pekarangan rumah, terlihat sepi karena mungkin Kak Riki masih bekerja dan Ibunya pasti sedang pergi arisan.


Nilam membuka pintu rumah yang tak terkunci, Ia terkejut saat melihat ibunya sudah berdiri dibelakang pintu.


Ibunya tersenyum ke arahnya namun senyumannya terlihat mengerikan,


"Kau sudah pulang sayang?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2