NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
33


__ADS_3

Vandam menghela nafas panjang, lagi lagi Nilam kembali memberontak dan tidak menerimanya. Ia mencoba bersabar karena ingin merebut hati Nilam kembali setelah apa yang terjadi.


Vandam hanya diam saat Nilam masih menatapnya tajam dan kembali berteriak ingin pulang.


"Jika pulang, kau akan mati jadi aku tidak akan membiarkanmu pulang." balas Vandam santai.


"Lebih baik aku mati dari pada bersama denganmu!"


Vandam tersenyum, "Kau tidak mau melihatku? Kau ingin aku pergi? Baiklah, aku tidak akan masuk kesini tapi berjanjilah untuk disini sampai kau sembuh."


Nilam terdiam menatap Vandam tak percaya, selama ini Vandam selalu memaksa apapun namun tidak kali ini, Vandam berbicara lembut padanya.


Tidak ada jawaban dari Nilam membuat Vandam mengerti, "Aku akan pergi." kata Vandam lalu keluar dari ruangan Nilam.


Diluar, Vandam terlihat menghela nafas panjang, Ia tak menyangka bisa sebaik ini dengan Nilam padahal biasanya Ia sangat pemaksa dan tidak memperdulikan perasaan Nilam.


Vandam mencari kursi lalu duduk disana, Vandam merogoh ponselnya untuk menghubungi Arga.


"Maaf Tuan, sepertinya saya tidak bisa kembali dengan cepat." kata Vandam terdengar tidak enak.


Arga menghela nafas panjang, "Kenapa? Apa gadismu sulit diatur?"


"Bukan begitu Tuan, saya-"


"Jika dengan cara baik tidak bisa membuatmu mendapatkannya, lakukan dengan cara licik seperti biasa, jangan terlalu lemah didepan wanita." kata Arga.


"Baik Tuan."


Vandam mengakhiri panggilannya dengan Arga, Ia termenung sejenak memikirkan ucapan Arga yang memang benar.


Cara baik sulit untuk mendapatkan Nilam, mungkin Ia harus menggunakan cara licik agar Nilam bisa ikut dengannya ke kota.


Lamunan Vandam buyar saat ponselnya berdering, Ia melihat nama Riki yang tertera memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Vandam saat menerima panggilan dari Riki.


"Gue bingung banget mau cari Nilam kemana, gue khawatir bro." jawab Riki dari dalam telepon.


"Trus Lo maunya gimana?"


Terdengar Riki berdecak, "Lo nggak ada orang khusus yang kerjanya cari orang apa?"


"Ada tapi mahal, Lo mau?" tawar Vandam.


"Duh, gimana ya? Gue cuma takut Nilam kenapa napa."


Vandam tersenyum sinis, "Utang Lo itu udah banyak, kalau saran gue baiknya Lo tunggu aja si Nilam pulang."

__ADS_1


"Ya kalau pulang, kalau mati gimana?"


"Ya Lo seneng dong kan bisa dapet warisan rumah sama Nyokap Lo!"


"Anjir, Lo kok ngomong gitu!" Riki terdengar kesal.


"Hahaha gue bercanda, serius amat!"


Riki mengakhiri panggilan membuat Vandam semakin terbahak, "Marah dia."


Vandam mengantongi kembali ponselnya. Hari semakin gelap karena ini sudah pukul 7 petang.


Vandam merasakan dingin karena Ia tak memakai jaket, hanya kaos oblong yang Ia pakai sejak siang tadi.


Vandam mencoba tak mengubris hawa dingin yang manusuk kulitnya, Ia tetap duduk didepan ruangan Nilam meskipun bisa saja Ia menunggu dimobil namun Vandam tidak melakukan itu.


Seorang perawat akan masuk keruangan Nilam namun langkahnya terhenti saat melihat Vandam, "Tuan, kenapa tidak menunggu didalam" tanyanya heran.


Vandam menggelengkan kepalanya, "Aku menunggu disini saja, kau ingin memeriksanya?"


Perawat itu mengangguk, "Aku harus menyuntik dan memberikan obat."


"Baiklah lakukan tugasmu dan pastikan dia baik baik saja." kata Vandam yang langsung diangguki lagi oleh perawat itu.


"Apa mereka sedang bertengkar?" batin perawat itu lalu segera masuk keruangan Nilam.


"Kenapa suamimu menunggu diluar padahal diluar sangat dingin." kata Perawat itu membuat Nilam terkejut karena tadinya Nilam pikir Vandam pulang namun ternyata Vandam masih disini menemaninya diluar.


"Biarkan saja!"


"Apa kalian sedang bertengkar?"


Nilam hanya diam tak menjawab pertanyaan perawat yang sangat kepo ini.


"Sayang sekali, padahal dia terlihat baik dan sangat mengkhawatirkanmu." kata perawat itu lalu pergi meninggalkan Nilam yang masih terdiam.


"Baik? Mengkhawatirkanku? Dia hanyalah pria jahat yang sudah tega mengkhianati dan juga menghamiliku seperti ini. Dia benar benar pria jahat!" ucap Nilam sambil tersenyum sinis.


Tiga hari berlalu, Vandam masih setia menemani Nilam meskipun Ia tidak masuk ke dalam. Vandam selalu memastikan jika keadaan Nilam semakin membaik.


"Jika mau kau bisa membawanya pulang hari ini." kata Dokter Vano.


"Apa tidak masalah jika aku membawanya pulang sekarang?"


"Ya, keadaannya sudah membaik, Ia hanya perlu istirahat saja."


Vandam terdiam sejenak, memikirkan nasib Nilam jika kembali kerumah pasti akan disiksa habis habisan oleh Marni namun Ia tidak mungkin membiarkan Nilam berada disini semakin lama karena Ia harus segera kembali ke kota.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak masalah jika harus pulang." kata Vandam.


Vano mengangguk dan langsung meminta para perawat untuk membereskan ruangan Nilam.


"Jadi aku sudah bisa pulang?" tanya Nilam dengan raut wajah senang.


"Ya, kau sudah boleh pulang, suamimu menunggu diluar."


Raut wajah Nilam berubah saat mendengar Vandam sudah menunggunya diluar.


Nilam berjalan pelan keluar ruangan dan benar saja Ia melihat Vandam berdiri disana, menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Vandam namun Nilam hanya diam dan melewati Vandam begitu saja.


Vandam menghela nafas panjang, Ia mengikuti langkah kaki Nilam dari belakang, "Aku sudah memesan taksi untukmu jika kau tidak mau satu mobil denganku." kata Vandam.


Nilam tetap melangkahkan kakinya tanpa mengubris Vandam membuat Vandam kesal dan tak bisa bersabar lagi.


Vandam mencekal tangan Nilam, membawa gadis itu memasuki taksi yang sudah Ia pesan lalu menutup pintunya.


Taksi segera melaju menuju rumah Nilam yang jaraknya lumayan jauh.


1 jam perjalanan akhirnya taksi itu sampai didepan rumah Nilam.


Dengan jantung yang berdegup kencang dan perasaan takut, Nilam keluar dari taksi tak lupa mengucapkan terimakasih pada sopir taksi itu.


Nilam berjalan pelan menuju pintu, baru ingin membuka pintu Ia dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka lebih dulu, "Bagus, bagus sekali kau baru pulang!" suara teriakan yang tak lain adalah suara Marni.


"I ibu..." bibir Nilam bergetar takut.


Marni menjambak rambut Nilam dan menyeretnya masuk ke rumah, "Dasar kau ****** kecil. Katakan siapa yang sudah menolongmu selama ini!"


"Ampun Bu, ampun..." Nilam mulai menangis.


Riki dan Anjani yang tadinya dikamar pun keluar setelah mendengar teriakan Marni.


"Wow, ****** kita sudah pulang!" kata Anjani tersenyum senang sementara Riki langsung saja melerai Marni.


"Sudah Bu, jangan lakukan itu!" pinta Riki.


Marni akhirnya melepaskan Nilam, "Kau selalu saja membela gadis sialan ini!" umpat Marni yang masih ingin menyiksa Nilam.


Anjani pun maju dan langsung memegangi Riki agar Marni kembali menyiksa Nilam.


Namun saat Marni baru akan menampar Nilam, suara dobrakan pintu menghentikan ayunan tangan Marni.


Mereka terkejut dengan kedatangan 4 pria berbadan kekar dan yang lebih terkejut adalah Riki.


"BAYAR HUTANGMU SEKARANG!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2