
Sepanjang perjalanan menuju tempat wahana, Nilam dan Vandam sama sama diam, tidak ada yang berbicara sama sekali. Bahkan sampai ditempat wahana pun keduanya masih diam.
Nilam tak mengatakan apapun, jika Ia ingin naik satu wahana, Ia berjalan mendekati wahana dan Vandam sudah tahu maksud Nilam, langsung menemani Nilam naik wajana tersebut.
Nilam sengaja naik wahana yang memacu adrenalin karena Ia ingin menjerit sekeras mungkin untuk melampiaskan rasa marah dalam hatinya.
Dan ternyata tidak hanya Nilam yang menjerit, Vandam pun juga ikut menjerit.
Nilam bahkan dibuat keheranan oleh jeritan Vandam, Ia sampai melihat ke arah Vandam, wajah pria itu terlihat ketakutan.
Tanpa sadar, Nilam tersenyum geli, Ia tak menyangka jika pria kejam dan menyebalkan seperti Vandam takut menaiki wahana seperti ini.
Diwahana kedua, Vandam tidak ikut naik, membiarkan Nilam naik sendirian. Ia menunggu dibawah membuat Nilam benar benar yakin jika Vandam memang takut.
Nilam mencoba beberapa wahana hingga tanpa sadar mereka sudah berada disana selama 3 jam, matahari sudah semakin terik, perut keduanya pun juga sudah keroncongan.
"Jika kita makan diluar, bagaimana dengan Tuan?" tanya Nilam akhirnya memulai berbicara lebih dulu.
Vandam langsung saja menatapnya tajam, "Aku tidak memiliki maksud lain, aku hanya merasa tidak enak karena seharusnya aku yang memasak." jelas Nilam tak ingin salah paham hingga berakhir menciumnya secara brutal seperti saat dimobil.
Vandam tak mengatakan apapun, Ia hanya memperlihatkan layar ponselnya dimana Vandam sudah memesankan makanan untuk Arga.
"Baiklak aku tidak akan bertanya lagi." kata Nilam mulai menikmati makan siangnya yang baru saja datang.
Selesai makan Nilam pikir Vandam akan mengajaknya pulang namun ternyata pria itu malah menghentikan mobilnya didepan sebuah toko ponsel yang cukup besar.
"Untuk apa kita kesi-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Vandam keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Nilam agar Nilam juga ikut keluar bersamanya.
Vandam segera mengenggam tangan Nilam lalu memasuki ke toko ponsel.
"Pilihlah satu ponsel untukmu." kata Vandam membuat Nilam terkejut.
Selama ini Vandam memang ingin membelikan Nilam ponsel namun Nilam selalu menolak dan saat ini saat Nilam ingin menolak ucapan Vandam membuatnya tak bisa menolak, "Jika kau bosan berada di apartemen, kau bisa memainkan ponsel tanpa ada pemikiran untuk keluar lagi."
Nilam akhirnya mau dibelikan ponsel karena Ia pikir tidak akan bosan berada di apartemen jika memiliki ponsel.
Dan karena Nilam belum pernah membeli ponsel, Ia bingung harus membeli yang seperti apa hingga akhirnya Vandam lah yang memilihkan ponsel untuknya.
"16 juta?" Nilam terkejut dengan harga ponsel itu berbeda dengan Vandam yang begitu santai membayar ponsel itu.
Selesai transaksi pembayaran, Vandam mengajak Nilam kembali ke mobil.
__ADS_1
"16 juta sangat banyak, sayang sekali jika-"
"Aku bahkan membayarkan hutang Riki 100 juta, kenapa kau harus terkejut dengan uang 16 juta?" potong Vandam lalu mulai melajukan mobilnya.
Nilam akhirnya diam, Ucapan Vandam memang benar. Pria itu membayar hutang Kak Riki sebanyak itu, uang 16 juta tidak berarti apa apa untuknya.
Sampai di apartemen, ternyata keduanya sudah ditunggu oleh Arga, "Masuklah dan istirahatlah ke kamar, ada yang ingin ku bicarakan dengan Tuan." kata Vandam yang langsung diangguki Nilam.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, Nilam duduk diranjang dan langsung membuka ponsel barunya.
"Bagaimana cara menyalakannya?" gumam Nilam mengingat Ia belum pernah menyentuh barang seperti ini sebelumnnya.
Ini kali pertamanya Nilam memiliki ponsel.
"Ada apa?" suara Vandam membuat Nilam terkejut karena Nilam tak menyadari jika Vandam sudah masuk ke kamar.
"Aku tidak bisa menggunakan ponsel ini."
Vandam tersenyum geli lalu meminta ponsel Nilam, "Jika kau ingin menyalakan, tekan tombol ini." kata Vandam lalu mengembalikan ponsel Nilam.
Nilam mengikuti intruksi dari Vandam hingga Ia berhasil menyalakan ponselnya.
"Kau bisa bertukar pesan dengan teman temanmu, berfoto dan membuka sosial media tapi jangan sekali kali kau merayu pria lain atau bahkan mengupload fotomu disosial media." kata Vandam mengingatkan.
Nilam memutar bola matanya malas, "Aku bahkan belum bisa menggunakan ponsel ini, bagaimana mungkin aku merayu pria lain?"
Vandam akhirnya tertawa, "Aku hanya mengingatkan saja."
Vandam kembali meminta ponsel Nilam, mendownload banyak aplikasi lalu memperlihatkan pada Nilam.
"Ini aplikasi hiburan terbaik, kau bisa melihat orang menari menyanyi dan masih banyak lagi." kata Vandam.
"Apa bisa digunakan untuk mencari resep makanan?"
"Tentu saja bisa, kau tinggal menekan tombol ini lalu menuliskan resep apapun yang kau inginkan." kata Vandam memberi contoh, menuliskan salah satu resep dan keluar banyak video resep masakan.
"Wow, ini sangat keren." ucap Nilam meminta ponselnya lalu melihat satu persatu resep dengan senyuman mengembang.
Vandam ikut tersenyum melihat Nilam begitu senang apalagi ini kali pertamanya Nilam tersenyum lagi didepannya setelah beberapa bulan terakhir Nilam tidak pernah memperlihatkan senyum padanya.
"Kau menyukainya?"
__ADS_1
Nilam mengangguk, "Ini sangat canggih, aku tidak perlu lagi membeli buku untuk mendapatkan resep yang ku inginkan."
"Jadi mulai sekarang jangan keluar dari sini tanpa aku, jika kau masih nakal seperti tadi aku benar benar tidak akan menolongmu." kata Vandam kembali mengingatkan.
"Baiklah baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi."
Vandam tersenyum lega, Ia pun berbaring diranjang, memandang punggung Nilam yang masih asyik memainkan ponsel barunya.
Semakin lama kantuk semakin menyerang, Ia pun akhirnya terlelap dengan sendirinya.
Tak terasa hampir 1 jam lamanya Nilam menatap layar ponselnya, Ia berbalik untuk melihat Vandam dan ternyata pria itu sudah terlelap.
Nilam mengambil selimut lalu menyelimuti Vandam, Ia pun keluar untuk menyiapkan makan malam sebelum Vandam dan Arga pergi bekerja.
"Ini ikan salmon, harus ku masak apa?" gumam Nilam terlihat berpikir namun sedetik kemudian Ia tersenyum karena mendapatkan ide.
"Ah iya, aku akan mencari resepnya diponsel." kata Nilam kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya.
"Salmon sambal matah, sepertinya ini enak."
Nilam kembali membuka kulkas lalu mengambil bahan bahan yang dibutuhkan. Ia segera memasak salmon menjadi menu makan malam yang sangat enak.
"Masak apa?" tanya Vandam yang baru saja keluar dari kamar, sudah wangi dan sudah rapi dengan baju kerjanya.
"Salmon sambal matah, aku mendapatkan resepnya di ponsel." kata Nilam girang.
Vandam tersenyum lalu mengelus kepala Nilam, "Kita tunggu Tuan untuk makan malam bersama."
Nilam mengangguk dan tak berapa lama Arga keluar juga sudah rapi dan wangi dengan setelan kemejanya.
"Apa ini?" tanya Arga melihat menu makan malam yang tak biasa.
"Salmon sambal matah Tuan, semoga Tuan menyukainya."
Arga mencicipi masakan Nilam, Ia langsung tersenyum, "Ini enak sekali." puji Arga.
Pipi Nilam langsung saja memerah malu mendengar pujian Arga sementara Vandam yang memperhatikan Nilam sedari tadi terlihat kesal.
Vandam tak suka jika Nilam tersenyum begitu manis untuk Arga apalagi sampai tersipu dengan kedua pipi memerah.
BERSAMBUNG...
__ADS_1