
Nilam baru saja selesai diperiksa oleh Dokter dan sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini karena keadaan Nilam sudah sangat baik.
"Apa kau senang?" tanya Vandam melihat raut wajah ceria Nilam.
"Tentu saja, aku tidak betah berada dirumah sakit. Hanya berbaring dan tidak melakukan apapun."
"Baiklah, kau memang pekerja keras." puji Vandam.
Setelah mengantar Nilam pulang, Vandam tak segera pergi. Ia masih ingin menemani Nilam.
"Pergi saja kak, bukankah sebentar lagi kau harus bekerja?" tanya Nilam mengingat hari sudah mulai petang.
"Aku ini bos jadi bekerja atau tidak juga tidak masalah."
Nilam memanyunkan bibirnya, "Dasar tukang pamer."
Vandam tertawa, "Aku akan menemanimu sampai kau tertidur." kata Vandam.
Nilam terdiam sejenak, memandangi raut wajah Vandam.
"Ada apa?" tanya Vandam langsung mengusapi wajahnya melihat Nilam memandanginya tanpa kedip.
"Tidak ada Kak, hanya saja aku ingin berterima kasih karena Kakak sudah menyelamatkanku semalam." kata Nilam.
Vandam tersenyum, "Setelah ini apa kau masih tidak percaya padaku? kau akan tetap pergi lagi meskipun aku melarangmu?"
Nilam menunduk malu lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak akan lagi Kak."
"Jika kau masih mengeyel, aku tidak akan menyelamatkanmu lagi."
Nilam malah tersenyum geli, "Aku yakin Kakak tidak akan sejahat itu."
Vandam mengelitiki Nilam hingga gadis itu tertawa geli, "Kau menantangku huh!"
"Tidak kak, ampun." kata Nilam mencoba melepaskan diri namun Vandam malah memeluknya.
Vandam melepaskan pelukan Nilam setelah mendengar ponselnya berdering. Vandam melihat dilayar ponselnya, salah satu anak buahnya yang menelepon.
"Apa katamu? Baiklah aku akan segera kesana." kata Vandam mengakhiri panggilan lalu berdiri dan mengambil jaketnya.
"Mau kemana kak?"
"Aku ada urusan, aku harus pergi sekarang. Segeralah tidur." kata Vandam mengecup kening Nilam sebelum Ia keluar dari kamar Nilam.
Nilam berdecak kesal, "Tadi dia bilang akan menemani sampai aku tidur, nyatanya dia malah meninggalkan ku sekarang!" omel Nilam.
Sementara itu dibawah, Vandam segera melajukan mobilnya menuju gudang tempat Ia menyekap Fandi.
__ADS_1
Anak buahnya mengatakan jika Fandi sudah tewas karena jatuh ke jurang, hal itu tentu membuat Vandam kesal karena anak buahnya tidak menjada Fandi dengan baik.
Rencananya Vandam ingin membunuh Fandi secara perlahan namun anak buahnya malah membiarkan Fandi bebas. Sungguh Vandam akan memecat anak buahnya yang tidak becus menjaga Fandi.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Dimana mayatnya?" tanya Vandam sesampainya di gudang.
"Ada dijurang sebelah sana Bos, mari saya antarkan jika ingin melihat." ajak Anak Buah Vandam.
Dengan bermodalkan lampu senter, Vandam menyusuri jalanan hutan yang sudah gelap hingga keduanya sampai dijurang dimana Fandi jatuh dan tewas didalam sana.
"Lihatlah itu Bos." kata anak buah Vandam mengarahkan lampu senter ke arah mayat Fandi.
Vandam berdecak, "Kalian memang tidak becus, aku ingin membunuhnya secara perlahan tapi kalian malah membiarkan Dia kabur dan mati sendiri!"
"Maafkan kami Bos tapi kami tidak bermaksud membuka pintu gudang, kami mendapatkan perintah dari-."
"Aku yang menyuruh dia membuka pintunya." suara bariton yang sangat dikenali oleh Vandam terdengar.
Vandam berbalik dan terkejut melihat Arga disana. "Tuan..." Ia segera menunduk, memberi salam hormat pada Arga.
"Apa yang sudah dia alami hari ini mungkin cukup untuk membalasnya. Dia tidak bisa berjalan hanya menyeret kakinya hingga jatuh ke jurang, sudah cukup seperti itu jangan membuat sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah hukum. Aku tidak mau kau membunuh seseorang seperti itu." ungkap Arga.
"Saya mengerti Tuan, maafkan saya Tuan." Vandam menunduk malu.
Arga menepuk bahu Vandam, "Kau tidak salah, semua yang kau lakukan sudah benar." kata Arga, "Tugasku sudah selesai, seharusnya aku menyingkirkan pejahat itu sejak dulu, aku sedikit terlambat dan kau hampir jadi korban." kata Arga lalu tertawa.
"Pergilah ke club, bereskan sisanya dan lagi jangan sungkan meminta tolong jika terjadi sesuatu." kata Arga yang langsung diangguki oleh Vandam.
Vandam akhirnya kembali ke club. Ia bekerja keras malam ini karena barang barang diclub banyak yang hancur akibat ulah Brama.
"Istirahat saja bos, kau terlihat lelah." kata Anak buahnya melihat luka memar Vandam masih belum hilang meskipun Vandam terlihat baik baik saja.
"Tidak, aku akan istirahat jika sudah menyelesaikan ini." kata Vandam.
Hampir pagi hari akhirnya Club kembali seperti semula, semua barang yang rusak sudah diganti baru. Club siap dibuka nanti malam.
"Aku pergi." pamit Vandam pada anak buahnya.
"Kemana bos? Bukankah kau juga tinggal di club ini? Seharusnya kau istirahat."
"Aku ingin istirahat ditempat yang membuatku nyaman." kata Vandam lalu tersenyum dan pergi.
Para anak buah Vandam terlihat kebingungan namun mereka membiarkan Vandam pergi.
"Mungkin bos ingin ke tempat wanitanya." tebaknya yang langsung diangguki semua anak buah Vandam.
Dan benar saja, ini masih pukul 5 pagi, Vandam sudah sampai didepan toko Nilam yang masih tutup.
__ADS_1
Vandam tidak melewati pintu bawah, meskipun dibawah semua karyawan Nilam sudah sibuk membuat kue.
Vandam memilih memanjat dinding seperti biasa, langsung naik ke atas kamar Nilam.
Ranjang Nilam kosong namun Vandam mendengar suara gemericik air yang menandakan jika Nilam sedang mandi saat ini.
Tak menunggu Nilam, Vandam langsung berbaring diranjang dan memejamkan matanya hingga Ia mencium bau aroma sabun yang sangat harum dan menyegarkan diikuti suara jeritan yang mungkin terkejut melihat Vandam sudah berbaring diranjang.
"Kak, sejak kapan kau disini?" tanya Nilam sambil menggoyangkan tubuh Vandam.
Vandam tak mengubris, pura pura terlelap hingga Ia mendengar decakan Nilam.
Baru ingin beranjak, Tubuh Nilam ditarik oleh Vandam hingga jatuh ke pelukan Vandam.
"Kak..." protes Nilam namun Vandam tak mengubris, tetap memeluk Nilam.
Deg... Deg... Deg... Nilam bisa merasakan degup jantung Vandam. Jantung Nilam pun ikut berdegup kencang.
Cukup lama keduanya berpelukan hingga akhirnya Vandam melepaskan pelukannya.
"Aku tidak bisa menahan diri terlalu lama jika seperti ini." gumam Vandam.
"Apa maksud mu kak?"
"Lihatlah yang dibawah sana."
Mata Nilam melotot saat melihat milik Vandam yang berdiri hingga terlihat jelas di celana yang dipakai.
"Dasar mesum!" omel Nilam.
"Aku tidak akan melakukannya, aku bisa menahan diri sekarang." kata Vandam sambil tertawa.
Nilam terlihat tak percaya,
"Apa kau tidak kasihan padaku?" tanya Vandam, "Aku sudah menahan diri terlalu lama."
"Tapi aku tidak mau melakukannya jika kita belum-"
"Kalau begitu ayo kita menikah." potong Vandam membuat Nilam terkejut.
"Kita bisa melakukannya secara halal setelah menikah, itu kan yang kau mau?"
Nilam mengangguk, "Aku mau menikah denganmu kak." balas Nilam yang langsung membuat Vandam tersenyum lebar, "Tapi bisakah kau menungguku 2 tahun lagi? Setelah aku menyelesaikan pendidikanku."
Seketika senyum Vandam memudar.
Bersambung...
__ADS_1
1 part lagi mungkin bakal ending hehe