
Seperti biasa, Nilam selalu bangun pukul 3 pagi untuk mempersiapkan pembuatan kue yang nantinya akan dilanjutkan oleh para karyawan dibagian dapur.
Selesai dengan urusan dapur, Nilam bergegas untuk mandi dan bersiap pergi ke kampus.
"Mbak..." panggil Nisa yang baru saja memasuki toko.
"Ada apa Nis?"
"Diluar ada..."
Nilam mengerutkan keningnya heran, "Ada siapa?"
"Yang kemarin itu."
Nilam terkejut dan segera keluar. Benar saja sudah ada Vandam berdiri didepan mobilnya.
"Kak? Ngapain?" heran Nilam mengingat ini masih pagi juga melihat raut wajah mengantuk dari Vandam.
"Bukankah seharusnya Kakak tidur, kenapa malah kesini?" tanya Nilam lagi.
"Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu dan setelah itu aku akan pulang untuk tidur." kata Vandam membukakan pintu mobil untuk Nilam.
"Ta tapi tidak perlu-"
Vandam memaksa Nilam masuk ke mobil tanpa mendengar protes dari Nilam lagi.
"Kau sudah sarapan?" tanya Vandam saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Belum, aku tidak pernah sarapan."
Vandam berdecak, "Kau harus makan yang banyak." kata Vandam menghentikan laju mobilnya disebuah kedai bubur.
"Tapi kak, aku sudah tidak punya waktu. Aku harus berangkat sekarang karena pagi ini ada kelas dosen killer."
Lagi lagi Vandam tak mengubris ucapan Nilam, Ia membawa Nilam memasuki kedai bubur lalu memesan dua mangkuk.
"Kalau memang telat nggak usah ikut 1 kelas juga tidak masalah." Kata Vandam melihat Nilam memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak terbiasa membolos seperti kakak!"
Vandam tertawa, "Darimana kau tahu jika aku suka membolos."
Nilam memutar bola matanya malas, Ia hanya menebak tapi ternyata tebakannya benar.
Selesai sarapan bubur ayam, Vandam kembali melajukan mobilnya menuju kampus Nilam. Dan benar saja sesampainya disana Nilam terlambat, tidak diperbolehkan memasuki kelas.
"Semua karena Kak Vandam!" omel Nilam akhirnya memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca.
Nilam sedang asyik membaca hingga Ia merasa ada yang duduk didepannya. Nilam melihat dan ternyata Fandi duduk didepan sambil menatap tanpa kedip ke arahnya.
"Ngapain?" tanya Nilam judes meskipun Nilam melihat bibir Fandi yang sobek karena pukulan anak buah Vandam kemarin.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf masalah yang kemarin." kata Fandi dengan raut wajah menyesal.
Nilam menghela nafas panjang, Ia tidak bisa marah berlarut larut jika ada yang meminta maaf seperti ini. Nilam memang lemah, tidak bisa tegas.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku hanya tidak suka dipaksa seperti kemarin."
Fandi mengangguk, "Aku khilaf nggak sengaja kebawa emosi karena kamu selalu nolak kebaikan aku."
"Bukannya aku nolak tapi aku cuma nggak mau kamu semakin berharap sama aku Fan." jelas Nilam dan raut wajah Fandi semakin sedih.
"Seengaknya kita temenan deket, makan bareng, jalan bareng. Udah cukup kok. Tapi kenyataannya kamu selalu nolak aku." keluh Fandi.
Nilam diam, Ia mengingat ucapan Vandam untuk menjauhi Fandi namun Ia juga tak tega melihat wajah sedih Fandi.
"Sekali ini aja, makan siang bareng atau mungkin nonton film. Aku janji nggak akan macem macem." kata Fandi memperlihatkan 2 jarinya untuk meyakinkan Nilam.
"Ya udah kapan kapan kita nonton bareng."
Fandi tersenyum senang, "Besok malam?"
Nilam tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya Ia mengangguk, menyetujui permintaan Fandi.
"Nah gini kan enak Lam, meskipun kamu masih nolak aku tapi kita temenan deket dan lagi kita mungkin bisa saling mengenal kalau dekat kayak gini, siapa tahu nanti kamu tertarik sama aku trus jatuh cinta." ucap Fandi penuh percaya diri.
Nilam tak membalas hanya mengulas senyuman.
Tepat pukul 2 siang, semua kelas Nilam sudah selesai. Kini waktunya Nilam untuk pulang dan membantu Nisa melayani pembeli.
Vandam terlihat sudah fresh, wajahnya tidak mengantuk seperti pagi tadi.
"Kak..."
"Ayo ku antar pulang." ajak Vandam langsung mengandeng tangan Nilam dan membawanya masuk ke mobil.
"Apa kakak tidak punya kerjaan? kenapa harus mengantar dan menjemputku?" heran Nilam.
Vandan menghela nafasnya lalu mulai melajukan mobilnya, "Agam lagi cuti jadi aku sendiri yang datang buat jagain kamu."
Seketika jantung Nilam berdegup kencang mendengar ucapan Vandam, "Nggak perlu dijagain, aku baik baik saja kok kak."
"Nggak usah ngeyel, nanti kamu dipaksa lagi sama siapa itu namanya temenmu yang suka sama kamu?" Vandam mencoba mengingat.
"Fandi kak Fandi, dia aslinya baik kok cuma mungkin emang belum kenal deket aja." bela Nilam.
Vandam berdecak, "Jadi mau kenal lebih deket?"
Nilam tertawa, "Dia temen satu kelas kak, rasanya aneh kalau nggak deket."
Vandam diam tak lagi menjawab, Ia terlihat kesal namun tidak bisa di ungkapkan.
"Kakak nggak mampir dulu? Minum kopi?" tawar Nilam Namun Vandam hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah, makasih sudah jemput." kata Nilam lalu membuka pintu mobil.
Saat akan turun dari mobil, tangan Nilam ditahan oleh Vandam, "Bukankah sudah ku bilang jangan terlalu dekat dengan pria itu?"
Nilam mengangguk, "Tenang saja kak, aku aman kok."
Vandam berdecak kesal lalu melepaskan tangan Nilam, "Jika terjadi sesuatu diantara kalian aku tak segan untuk-" Vandam tak melanjutkan ucapannya.
"Untuk apa?"
"Tidak ada, keluarlah sekarang." balas Vandam membuat Nilam keheranan.
Setelah Nilam turun, Vandam kembali melajukan mobilnya.
Vandam tak henti hentinya mengumpat jika ingat Nilam didekati oleh pria lain.
"Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun!" umpat Vandam penuh emosi, "Lihat saja, aku tidak akan membiarkan pria brengsek itu mendekati gadisku!"
Malam harinya...
Nilam baru saja selesai belajar, Ia melihat ke arah pintu balkon kamarnya. Tidak ada tanda tanda Vandam datang.
"Untuk apa aku menunggunya?" omel Nilam pada dirinya sendiri.
Nilam bersiap untuk tidur hingga lelapnya terusik kala merasakan pipinya dielus oleh seseorang.
Nilam membuka matanya, melihat Vandam tersenyum ke arahnya.
"Maaf menganggu tidurmu." ucap Vandam masih tersenyum.
Nilam ingat jika sore tadi Vandam terlihat kesal dan sekarang, Vandam kembali ramah hingga hidung Nilam mencium bau alkohol dari mulut Vandam.
"Kakak mabuk?" tanya Nilam memastikan.
Vandam menggelengkan kepalanya, "Hanya minum sedikit."
Nilam berdecak lalu bangun dan membiarkan Vandam duduk diranjangnya. Kini Ia bisa melihat jika Vandam benar benar mabuk.
"Apa yang terjadi? apa sedang ada masalah?" tanya Nilam mengingat dulu Vandam tidak pernah bau alkohol seperti ini.
"Masalahku hanya kamu." jawab Vandam sambil mengelus pipi Nilam.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan pria lain, aku tidak suka tapi aku juga tidak bisa melarangmu." kata Vandam dengan suara menyedihkan.
Elusan tangan Vandam beralih ke bibir Nilam dan keduanya saling bertatapan.
"Sangat menyakitkan, sungguh." ucap Vandam lagi.
Dan entah mendapatkan bisikan darimana Nilam menyingkirkan jari Vandam yang ada dibibirnya lalu mendekatkan bibirnya hingga keduanya berciuman.
Ciuman pertama setelah 2 tahun mereka tak melakukan itu.
__ADS_1
Bersambung...