
Nevan memasuki club malam dengan senyum mengembang. Ia sangat senang saat ini karena mendapatkan informasi penting untuk Brama dan sebentar lagi pasti Ia akan mendapatkan bonus uang yang banyak dari Brama.
Nevan mengetuk pintu ruangan Brama, setelah mendengar suara perintah untuk masuk, Nevan langsung membuka pintunya.
Seperti biasa, pemandangan pertama kali yang Ia lihat saat memasuki ruangan Brama adalah para gadis muda yang duduk dipangkuan Brama, mengelus elus milik Brama yang sudah berdiri tegak didalam celana.
"Apa yang kau bawa?" tanya Brama.
"Sesuatu yang sangat penting Tuan."
Brama tersenyum lalu mengusir para gadis keluar dari ruangannya. Dan kini tinggal Brama dan Nevan yang ada diruangan itu.
"Cepat katakan!"
"Saya sudah mengetahui kelemahan Vandam Tuan."
Senyum Brama semakin lebar, "Katakan apa itu?"
Nevan mengeluarkan sebuah foto disaku jaketnya, "Gadis ini Tuan, dia sangat dicintai oleh Vandam. Ini akan menjadi kelemahan dari Vandam."
"Bagaimana kau bisa yakin jika dia gadis yang dicintai Vandam?"
Nevan tersenyum, "Karena Vandam menjaga gadis itu dengan sangat baik Tuan. Dia bahkan menyewa bodyguard untuk gadis itu."
Brama mengangguk sedetik kemudian Ia tersenyum, "Apa kau punya rencana?"
"Tentu saja Tuan, saya sudah memiliki rencana yang bagus tapi rencana kali ini melibatkan Tuan muda."
Brama mengerutkan keningnya, "Tuan muda? Maksudmu Fandi?"
Nevan mengangguk, "Benar Tuan, gadis itu 1 kampus dengan Tuan muda dan kemarin bahkan saya sempat melihat gadis itu dipaksa masuk mobil oleh Tuan muda namun sayangnya bodyguard Vandam malah menghajar Tuan muda."
Brama mengepalkan tangannya, "Sialan, dia berani melukai putraku!"
"Jika Tuan muda mendapatkan gadis itu mungkin kita bisa menghancurkan Vandam secara perlahan." kata Nevan.
Brama mengangguk setuju, "Bagus juga rencanamu. Aku akan berbicara dengan Fandi."
"Baiklah Tuan."
Brama mengambil ponselnya, "Aku sudah mentransfer uang bonus untukmu." Brama memperlihatkan bukti transfer pada Nevan.
"Terima kasih banyak Tuan." Nevan terlihat senang dan langsung keluar dari ruangan Brama.
Sementara Brama juga ikut keluar, Ia harus pulang malam ini dan bertemu dengan Nevan untuk membicarakan rencananya.
Ditempat lain, Vandam sudah berada diruangannya. Seperti biasa Ia melihat keadaan club malam melalui rekaman cctv.
Sesekali Vandam meneguk segelas alkohol untuk menghilangkan kantuk.
"Bos..." Agam nama anak buah Vandam yang selalu mengikuti dan menjaga Nilam terlihat memasuki ruangan.
Vandam menutup laptopnya, melihat ke arah Agam, "Apa terjadi sesuatu?" tanya Vandam saat raut wajah Agam terlihat khawatir.
"Begini Bos, jika boleh saya ingin meminta libur."
Vandam mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi? Kenapa tiba tiba kau meminta libur?"
"Istri saya melahirkan dikampung Tuan, saya sudah janji padanya jika akan pulang."
__ADS_1
Vandam tentu saja terkejut, "Seharusnya kau memintanya kemarin, kenapa baru sekarang?"
Agam menundukan kepalanya, "Saya tidak berani bos."
"Baiklah, aku berikan libur 1 minggu. Pulanglah ke kampung."
"Tapi bos, bagaimana dengan Nona?"
"Sudah jangan pikirkan lagi. Aku akan mengurusnya dan lagi aku sudah mentransfer bonus untukmu. Bersenang senanglah dengan istrimu." kata Vandam.
Agam tersenyum, "Terima kasih Tuan, terima kasih banyak."
Vandam mengangguk lalu menyuruh Agam segera keluar.
Vandam merenung diruangan, memikirkan apa yang harus Ia lakukan untuk menjaga Nilam. anak buahnya memang banyak namun hanya Agam yang dapat Ia percaya untuk menjaga Nilam sementara yang lain, Vandam masih belum bisa mempercayai mereka sepenuhnya.
"Baiklah, aku akan melakukannya sendiri." ucap Vandam dengan penuh keyakinan.
...****************...
Brama baru saja sampai dirumah. Ia membuka pintu, seperti biasa keadaan rumahnya sangat sepi karena yang tinggal disana hanyalah Fandi dan bibik pengasuh.
Brama sendiripun jarang pulang kerumah. Ia banyak menghabiskan waktunya diclub malam.
"Tuan pulang..." sapa Bibik Pengasuh.
"Dimana Fandi?"
"Ada diatas Tuan, tapi Tuan Muda sedang bersama-"
"Aku tahu," potong Brama langsung menaiki tangga menuju kamar Fandi.
Setelah tak mendengar suara dari dalam kamar barulah Brama mengetuk pintu kamar.
Bukan Fandi yang membuka pintu namun gadis cantik yang hanya mengenakan handuk hingga memperlihatkan tubuh mulus nan seksi yang membuat Brama ikut tergoda, Fandi memang tak salah mencari gadis pikir Brama.
"Panggil Fandi, suruh dia keluar!" pinta Brama yang langsung diangguki gadis itu tanpa protes.
Brama duduk diruang keluarga, tak berapa lama Fandi ikut duduk didepan Brama.
"Aku belum membuat masalah dan Ayah sudah pulang." cibir Fandi namun Brama tak mengubris cibiran Fandi, Ia malah menanyakan tentang gadis yang berada dikamar Fandi.
"Dia kekasihmu?"
"Bukan, hanya gadis bayaran."
"Berhati hatilah saat berhubungan, jangan sampai terkena penyakit kelamin." nasehat Brama.
Fandi tersenyum sinis, "Dia masih perawan."
Brama tergoda, "Setelah ini biarkan Ayah yang mencoba."
"Brengsek!" umpat Fandi pada Ayahnya.
"Bukankah sama sepertimu nak." balas Brama mengeluarkan sebuah foto dari sakunya, "Kau kenal gadis ini?"
Fandi terkejut, tentu saja Ia kenal karena itu Nilam, gadis yang sudah lama Ia incar dan sekarang yang membuat Fandi bingung, dari mana Ayahnya tahu tentang Nilam?
"Ada apa dengan gadis itu? Apa itu gadis incaran Ayah?"
__ADS_1
Brama tertawa, "Ya kau benar."
Fandi mengepalkan tangannya, "Carilah gadis lain, jangan dia!"
Brama kembali tertawa, "Jangan salah paham, Ayah ingin kau mendapatkan gadis itu bagaimananpun caranya."
Fandi mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Ayah?"
"Jadikan gadis ini milikmu dan Ayah akan berikan segalanya yang kamu inginkan."
Mata Fandi membulat tak percaya, "Jangan bercanda!"
"Ayah serius, katakan jika butuh bantuan tapi Ayah yakin pria muda tampan sepertimu pasti mudah mendapatkan seorang gadis."
Fandi tersenyum, "Gadis lain memang mudah tapi dia berbeda."
"Jadi kau butuh bantuan Ayah?"
Fandi mengangguk, "Apa aku bisa menggunakan anak buah Ayah?"
Brama mengangguk, "Pilihlah siapapun boleh."
Fandi terlihat senang namun juga masih penasaran, "Kenapa Ayah mengincar Nilam?"
"Ahh jadi namanya Nilam?"
Fandi mengangguk,
"Dia gadis saingan bisnis Ayah, jika Kau bisa mendapatkan gadis itu, Ayah bisa menghancurkan saingan bisnis Ayah. Kita akan tetap menjadi orang kaya seperti ini."
Fandi mengangguk setuju, "Ayah tenang saja. Aku akan mendapatkan Nilam."
Brama tersenyum, Ia berdiri lalu menepuk bahu Fandi, "Sekarang biarkan aku menikmati gadis yang ada dikamarmu."
Fandi memutar bola matanya malas namun akhirnya Ia mengizinkan Brama memasuki kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gadis cantik yang baru saja selesai mandi.
"Ayahku ingin ikut menikmati tubuhmu. Jika servicemu bagus, dia pasti akan memberikan uang yang banyak untukmu." kata Fandi.
Gadis cantik itu bergindik jijik menatap Brama yang Ia anggap pria tua.
"Maaf, aku sudah lelah lagipula milik ku masih terasa perih."
"Jadi kau menolak ku Nona? Kau tidak tahu siapa aku?" tanya Brama terlihat kesal.
"Aku benar benar minta maaf."
Brama memberikan kode pada Fandi agar keluar.
"Apa yang terjadi? Kalian akan memaksaku?" teriak gadis itu.
Brama tersenyum menyerigai, "Kau ini hanya wanita murahan, kau tidak bisa menolak pelangganmu cantik."
"Tidak, aku tidak mau!" teriak gadis itu namun Brama tak peduli. Jika Ia tidak bisa mendapatkan secara baik baik tentu saja Brama akan memaksa.
Dan kini hanya teriakan dan jeritan yang terdengar dari kamar Fandi.
Bersambung...
__ADS_1
Bersambung...