NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
27


__ADS_3

Hari pertama mengerjakan ujian lancar, Nilam bisa mengerjakan semua soalnya karena Ia sudah belajar cukup semalam dan pagi tadi sebelum berangkat.


Apalagi 4 hari kedepan Ia dibebaskan dengan pekerjaan rumah serta berjualan donat, semakin banyak waktu untuk belajar dan Ia tak perlu pergi ke apartemen Vandam untuk belajar.


Siang ini, terik matahari terasa sangat panas. Nilam berjalan menyusuri jalan untuk pulang kerumahnya. Ia tidak naik taksi karena ingin menghemat uang agar tak harus mengambil uang di Atm Vandam.


Nilam benar benar ingin terlepas dari jerat Vandam.


Ia tak ingin bergantung dengan uang Vandam yang berakhir Ia harus bersama dengan pria itu.


Tidak, Nilam ingin memiliki pria baik yang akan menemani hidupnya nanti dan itu bukan Vandam.


Nilam terus berjalan, melewati penjual es campur. Rasanya Ia ingin, apalagi sangat cocok dengan cuaca siang ini.


Nilam berhenti sejenak didepan penjual es campur itu, Ia mengambil dompet yang ada ditasnya.


"70ribu, hanya ini uang yang tersisa," gumam Nilam, "Sudahlah, sepertinya ini cukup untuk 4 hari kedepan." kata Nilam segera membeli es campur dan menikmatinya ditempat.


"Benar benar enak." puji Nilam setelah menghabiskan 1mangkuk es campur.


Nilam sampai dirumah, lagi lagi ada Anjani dirumahnya, sedang duduk diruang tamu bersama Marni, ibunya.


Nilam tak menyapa keduanya, Ia melewatinya begitu saja.


"Benar benar anak tidak tahu untung, aku sudah membiayai sekolahnya tapi lihat, dia sama sekali tidak sopan denganku!" umpat Marni.


Anjani tersenyum menyerigai, "Tenang saja Bu, aku akan memberi pelajaran untuk gadis nakal itu." kata Anjani segera beranjak dari duduknya dan berjalan memasuki kamar Nilam tanpa izin.


Nilam yang sedang berbaring diranjang menatap Anjani acuh, "Ada apa?"


Anjani tidak mengatakan apapun, Ia membuka lemari Nilam dan mencari sesuatu disana.


Nilam terlihat tenang saat lemarinya diacak, mengingat didalam sana sudah tidak ada stok makanan yang Ia simpan.


Anjani mengambil beberapa baju yang menurutnya bagus dan branded.


"Punya duit darimana Lo bisa beli baju semahal ini?" heran Anjani.


"Ambil aja kalau mau, nggak usah kepo!" balas Nilam melihat baju yang diambil Anjani adalah baju yang dibelikan Vandam untuknya.


Anjani tersenyum sinis, "Gue curiga kalau Lo jadi simpenan om om buat beli ini semua!" tuduh Anjani.

__ADS_1


"Nggak masalah jadi simpenan om om dari pada punya pacar kere." ejek Nilam membuat emosi Anjani tersulut.


"Bocah sialan, Lo nantangi gue Hah!" tak menunggu waktu lama, Anjani langsung menjambak Nilam hingga Nilam jatuh dari ranjang.


Namun Nilam tidak tinggal diam, Ia membalas Anjani hingga keributan terjadi dikamar Nilam.


"Hey hey, apa yang kalian lakukan!" teriak Marni saat memasuki kamar Nilam.


"Anak tidak tahu diuntung ini mendorongku Bu!" adu Anjani.


Nilam langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, Kak Anjani yang memulai lebih dulu." Nilam tak mau disalahkan.


Bukannya membela Nilam, Marni malah menjambak rambut Nilam, "Kau ini benar benar anak tak tahu malu, bagaimana bisa kau melakukan itu pada Anjani."


"Ampun Bu, sakit." keluh Nilam namun Marni malah semakin kencang menjambak rambut Nilam dan Anjani yang melihat itu langsung tersenyum puas.


"Aku akan mengadukanmu pada Riki agar dia tidak lagi membelamu!" ucap Marni lalu keluar meninggalkan Nilam.


Nilam sempat memohon pada Marni namun Marni tidak mengubris permohonan Nilam.


Dan benar saja, Malam saat Nilam sedang belajar, pintunya didobrak oleh Riki hingga Nilam terkejut dan menatap Riki keheranan.


"Apa benar kamu tadi siang ribut sama Anjani, kamu dorong Anjani?"


Nilam terdiam, tak menyangka jika Ibunya benar benar mengadukan pada Riki.


"Aku nggak sengaja dorong Kak Anjani karena Kak An-"


"Stop Nilam!" potong Riki, "Jangan karena Kakak baik sama kamu trus kamu bisa seenaknya sama Anjani. Kakak baik sama kamu karena kakak berhutang budi sama Ayah kamu.


Tapi kalau kamu nggak bisa menghormati Anjani, jangan harap Kakak masih baik sama kamu!" ucap Riki lalu keluar dari kamar Nilam.


Nilam masih diam terpaku mendengar ucapan Riki yang sangat menyakitkan. Ia benar benar tak menyangka jika Riki lebih membela Anjani padahal jelas jelas Anjani mengkhianati Riki.


Tak ingin larut dalam kesedihan, Nilam beranjak dari duduknya. Keluar kamar dan pergi menemui Riki yang kini tengah merokok diluar.


"Awalnya Nilam nggak peduli Kakak mau pacaran sama siapapun tapi kali ini Nilam mohon Kakak percaya sama Nilam." kata Anjani membuat Riki menatap ke arah Nilam namun dengan tatapan tak suka.


"Nilam lihat kak Anjani ada dikamar Kak Vandam, mereka, mereka melakukan-"


"Stop Nilam!" sentak Riki memotong ucapan Nilam.

__ADS_1


Riki melempar rokoknya, berdiri dan mendorong Anjani hingga jatuh ke lantai.


"Anjani dikamar Vandam? Omong kosong apa hah! Kakak benar benar tak menyangka kamu bisa mengarang cerita seperti ini!"


Nilam menggelengkan kepalanya, "Nilam tidak bohong kak, waktu itu-" Nilam menghentikan ucpannya dengan sendirinya karena ingat jika Ia membongkar kejadian Anjani saat di apartemen sama saja Ia bunuh diri karena Riki akan curiga darimana Nilam tahu apartemen Vandam


Riki tersenyum sinis, "Kenapa tidak dilanjutkan?"


Nilam tertunduk agar Riki tidak curiga dan benar saja, Riki masih belum curiga , "Gadis menyebalkan, jangan harap aku akan mengasiani mu lagi!" kata Riki dan langsung pergi ke dalam meninggalkan Nilam yang masih tersungkur dilantai.


Nilam masih tertunduk sedih, "Bagaimana caranya agar Kak Riki tahu jika Anjani bukan gadis baik."


Nilam menghela nafas panjang dan kembali masuk ke kamarnya. Perutnya terasa nyeri jadi Ia memilih untuk istirahat saja.


4 hari berlalu, sejak kejadian itu Riki sudah berubah. Pria itu tidak lagi perhatian dengan Nilam bahkan bisa dikatakan sudah tidak peduli lagi dengan Nilam.


Selama 4 hari Nilam hanya makan nasi sisa tanpa lauk, itupun hanya setengah piring saja.


Nasi baru serta lauk untuk Marni dan Riki.


Riki mengetahui namun hanya diam padahal biasanya Riki tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.


Riki benar benar sudah berubah, tidak lagi menyayanggi Nilam lagi.


Dan siang ini Nilam berjalan lesu menyusuri jalan. Sejak pagi perutnya kosong belum makan apapun.


Nilam melewati penjual soto, Ia mengelus perutnya. Rasanya ingin masuk dan makan soto panas yang segar dan pedas.


Nilam yang masih memiliki sedikit uang akhirnya nekat masuk untuk makan soto disana.


Baru beberapa suap menikmati sotonya, Nilam dikejutkan dengan kedatangan Marni dan Anjani.


"Dasar anak nakal, bisa bisanya kau makan disini!" sentak Marni lalu menyeret Nilam keluar sementara penjual dan beberapa orang yang ada disana terlihat kasihan dan ingin menolong.


"Dia itu anak tetangga saya, kerjaannya cuma ngehabisin uang padahal ibunya sakit sakitan dirumah." jelas Anjani yang membuat semua orang mengerti dan tidak lagi merasa kasihan dengan Nilam.


Bersambung...


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi semua readerss muslim...


maafkeun jika sering molor upnya karena harus bagi2 waktu dan terima kasih buat pengertiannya readerssss

__ADS_1


__ADS_2