
Tangan dan kaki Riki bergetar, nyalinya menciut saat menghadapi para pria berbadan kekar itu. Mereka adalah anak buah dari bos yang dihutangi oleh Riki secara diam diam.
Marni yang melihat para pria itu tidak takut sama sekali, Ia malah mendekat dan menantang keempat pria itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Tentu saja menagih hutang!" balas salah satu pria.
"Hutang? Sejak kapan aku memiliki hutang pada kalian?" heran Marni karena selama ini Marni tidak pernah berhutang pada siapapun meskipun Ia tidak memiliki uang sepeserpun.
"Memang bukan kau yang berhutang tapi putramu!" kata Pria lain sambil menunjuk ke arah Riki.
Baik Marni maupun Anjani sama sama terkejut dan langsung menatap ke arah Riki.
"Apa benar itu? Kau memiliki hutang? Berapa banyak?" tanya Marni dan Anjani bersamaan.
Riki masih diam dengan wajah pucatnya, Ia terlihat tak mampu menjawab ucapan Marni dan Anjani.
"Katakan berapa hutangnya?" tanya Marni pada para pria berbadan kekar.
"100 juta."
Seketika tubuh Marni dan Anjani melemas hingga jatuh ke lantai mendengar nominal hutang Riki.
Marni menatap tajam ke arah Riki, Ia lalu menghampiri putranya dan memukuli putranya.
"Dasar Anak sialan, bagaimana bisa kau memiliki hutang sebabnyak itu Hah!" ucap Marni sambil terus memukuli Riki.
"Ampun Bu ampun!"
Marni terus memukuli Riki, tidak peduli dengan Riki yang memohon ampun hingga Vandam datang dan barulah Marni berhenti memukuli Riki.
"Ada apa ini, siapa kalian?" tanya Vandam menatap ke arah 4 pria berbadan kekar yang masih berdiri ditempatnya.
"Kami kesini untuk menagih hutang pria ini!" kata salah satu pria kembali menunjuk Riki.
"Lo dah tau masalahnya, jangan banyak drama, cepet bantuin gue!" pinta Riki memohon pada Vandam.
Vandam menghela nafas panjang, menatap ke arah Nilam yang tersungkur dilantai. Bersamaan Nilam juga menatap ke arahnya namun akhirnya Nilam lebih dulu memalingkan wajah.
"100 juta bukan duit yang sedikit bro, mungkin Bos gue emang bisa bantu tapi tentu aja harus ada imbal balik."
__ADS_1
"Apapun asal jangan sertifikat rumah ini." kata Riki.
Vandam pura pura berpikir, Ia lalu menatap ke arah Nilam, "Adek Lo udah lulus sekolah kan? Bisa dong dia ikut kerja sama gue."
Riki tersenyum, mengangguk setuju sementara Nilam menggelengkan kepalanya, Ia tidak mau, tidak Ia tidak ingin ikut dengan Vandam ke kota.
Marni menatap tajam ke arah Nilam, Ia lalu mendekati gadis itu, "Apa maksud dari gelengan kepalamu itu, apa kau menolak?"
Nilam menundukan kepalanya, Ia tak berani menolak meskipun Ia ingin menolak.
Riki tampak ikut mendekati Nilam, "Ikut dengan Kakak sebentar, ada yang ingin ku bicarakan." ajak Riki langsung mengandeng tangan Nilam dan membawa Nilam ke belakang untuk bicara.
"Kemarin Kakak yang bawa kamu ke klinik dan tahu apa yang terjadi sama kamu." kata Riki namun Nilam tidak terkejut.
"Ibu dan Anjani masih belum tahu." Dan sekarang barulah Nilam terkejut.
"Kamu bayangin aja gimana marahnya Ibu kalau tahu kamu hamil duluan, ya meskipun kamu sudah keguguran tapi kamu akan mendapat cap nakal dari Ibu." jelas Riki.
"Kenapa Kak Riki nggak cerita masalah ini sama Ibu?" tanya Nilam.
"Karena Kakak sayang sama kamu, kakak nggak mau kamu dipukuli sama Ibu lagi." ungkap Riki membuat Nilam terdiam.
Nilam masih terdiam, selama ini Riki memang selalu baik pada Nilam, Ia ingin membantu Riki namun jika jalannya harus bersama dengan Vandam, Nilam tidak mau, Nilam benar benar sudah tidak mau memiliki urusan dengan pria jahat itu hanya saja sekarang Ia tak punya pilihan lain.
"Apa kamu mau bantuin Kakak?" tanya Riki penuh harap.
"Kenapa Kak Riki bisa punya hutang sebanyak itu?"
"Kak Riki dipecat dari perusahaan setahun yang lalu, Kak Riki sudah mencoba melamar pekerjaan bahkan membuat usaha namun selalu gagal. karena kita butuh uang untuk kebutuhan setiap bulan juga biaya sekolah kamu jadi Kak Riki terpaksa pinjam uang dan Kak Riki nggak nyangka kalau ternyata pinjaman uang itu berbunga hingga 100 juta."
Nilam termenung, Ia benar benar tak berpikir panjang lagi selain mengiyakan permintaan Kakaknya.
"Baiklah Kak, Nilam akan membantu Kak Riki, Nilam akan ikut Kak Vandam ke kota."
Riki tersenyum lebar dan langsung memeluk Nilam, "Makasih Nilam, Makasih banyak. Kakak janji akan sering jenguk kamu ke kota." kata Riki.
Nilam mengangguk dan memaksakan senyum meskipun Ia tak mau melakukan ini namun demi kak Riki yang sudah berjuang membiayai sekolahnya Nilam akan ikut Vandam ke kota meskipun tahu pekerjaan hanyalah alasan Vandam saja.
Pria jahat itu pasti akan menjadikan Nilam budak seksnya dikota.
Riki dan Nilam kembali keruang tamu dimana semua orang sudah menunggu disana.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau mau Nilam?" tanya Marni seolah tak sabar menunggu jawaban Nilam.
Nilam mengangguk pelan membuat semua orang tersenyum lega termasuk Vandam, pria itu tersenyum sangat lebar.
"Baiklah, aku akan transfer uangnya sekarang dan kau..." Vandam menunjuk Nilam, "Persiapkan barangmu, kita akan berangkat ke kota sekarang."
Nilam tak menjawab, Ia tertunduk lesu dan memasuki kamarnya untuk membawa barang yang mungkin akan Ia bawa.
Keempat pria berbadan kekar kini sudah pergi karena Vandam sudah mentransfer uangnya. Marni yang masih kesal lagi lagi memukuli Riki ditambah Anjani yang ikut memukul Riki.
"Dasar anak bodoh, bisa bisanya kau terlilit hutang sebanyak itu!" umpat Riki lagi.
"Maafkan aku Bu, aku janji tidak akan berhutang lagi."
"Katakan sekarang, untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Anjani yang ikut kesal karena Riki tak pernah memberinya uang.
"Untuk emm, aku akan mengatakan jika Nilam sudah pergi." kata Riki setengah berbisik.
Vandam tersenyum, Ia tak tahu apa yang Riki katakan hingga Nilam mau ikut ke kota bersamanya dan Vandam juga tak peduli dengan kebohongan Riki karena yang Ia inginkan sudah Ia dapatkan sekarang.
Dengan wajah sedih, Nilam keluar membawa tas jinjingnya.
"Sudah siap?" tanya Vandam.
Nilam hanya mengangguk.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." ajak Vandam berjalan keluar lebih dulu.
Baru ingin mengikuti langkah kaki Vandam, Nilam sudah dihadang oleh Marni, "Jangan lupa, kau memiliki kewajiban lain."
"Kewajiban apa bu?"
Marni tersenyum, "Transferkan semua gajimu kerumah,"
Nilam terkejut bukan main dengan permintaan Marni, "Tapi Bu, bukankah aku sudah tidak memiliki gaji, bagaimana bisa ak-"
"Aku tidak peduli." potong Marni, "Kau harus bekerja dengan baik kalau perlu rayu bosmu agar kau mendapatkan uang."
Nilam hanya diam tak menjawab hingga suara panggilan Vandam terdengar memberi kesempatan Nilam untuk segera pergi dari rumah itu.
BErsambung....
__ADS_1