
Vandam dan Arga sudah berangkat, Nilam membersihkan piring dan gelas kotor yang ada dimeja setelah itu Ia kembali ke kamar untuk memainkan ponselnya.
Malam ini Nilam ingin begadang untuk menonton banyak resep yang bisa Ia buat agar kembali mendapatkan pujian dari Arga.
"Wah mudah sekali cara membuatnya," gumam Nilam saat menonton cara pembuatan omelet yang enak dan lezat.
"Aku akan mencobanya besok pagi."
Nilam yang sedang asyik menonton video memasak dikejutkan dengan suara ponselnya berbunyi.
"Apa ini? Apa panggilan?" heran Nilam melihat ada nama my husband disana.
Karena masih bingung, Nilam mengeser tombol warna hijau dan Nilam kembali terkejut karena wajah Vandam berada dilayar ponselnya.
"Belum tidur?" tanya Vandam dengan suara serak.
"Belum, aku masih melihat banyak video." balas Nilam melihat Vandam sedang duduk dan merokok.
"Kau tidak sibuk? Kenapa menelepon?"
"Aku tidak pernah sibuk, sudah sana tidur." pinta Vandam yang akhirnya diangguki oleh Nilam.
Vandam mengakhiri panggilan videonya, Ia menghela nafas panjang mengingat kejadian saat makan malam tadi dimana Ia merasa sangat kesal dan cemburu karena Nilam begitu senang dengan pujian Arga.
"Aku harap dia tidak menyukai Tuan!" gumam Vandam lalu mengerus rokoknya dan meminum segelas vodka untuk menenangkan diri.
Baru ingin beranjak dari duduknya, Clara salah satu gadis penghibur diclub malam malah duduk dipangkuannya. Clara adalah gadis malam yang dulu sempat dicoba oleh Vandam, itupun karena perintah Arga. Clara pernah menyatakan cinta pada Vandam namun Vandam menolak karena Ia tak menyukai gadis murahan seperti Clara.
"Buru buru amat bos." celetuk Clara mengelus elus dada bidang Vandam.
Vandam memutar bola matanya malas, "Turun Ra, gue mau masuk ke dalam." pinta Vandam.
Clara menggelengkan kepalanya, "Kamu nggak ada niatan mau pake aku?" tawar Clara.
Vandam tersenyum, "Nggak ada."
Clara memanyunkan bibirnya, "Kok gitu? Bukannya dulu kamu bilang aku enak, beda dari yang lain?" protes Clara mengingat dulu Vandam pernah mengatakan itu padanya.
"Itu dulu tapi sekarang ada yang lebih enak dari kamu." ungkap Vandam lalu berdiri membuat Clara terjungkal dan jatuh ke lantai.
"Ih bos, jahat amat!"
Vandam malah tertawa, "Tadi dibilang suruh minggir nggak mau."
Vandam segera pergi meninggalkan Clara tak memperdulikan dengan Clara yang kesal padanya.
...****************...
__ADS_1
Hari ini adalah pagi ketiga Nilam pergi meninggalkan rumahnya dikampung. Keadaan rumah terlihat berbeda, tidak seperti saat Nilam ada dirumah, sangat berantakan dan berdebu bahkan cucian piring menumpuk diwastafel dapur.
"Ck, rasanya malas sekali mengerjakan ini semua." omel Marni saat melihat keadaan rumah yang berantakan.
"Nggak masak lagi Bu?" tanya Riki yang baru akan berangkat bekerja.
Marni menatap tajam ke arah Riki, "Kamu aja nggak ngasih uang, bisa bisanya nanya kayak gitu!"
Riki berdecak, "Lah tiap bulan Riki ngasih jatah uang ke Ibu kan?"
"500 ribu dapet apa hah!" Marni terlihat emosi.
Riki berdecak, "Biasanya juga segitu tapi Ibu tetap bisa masak." heran Riki.
Marni yang gemas memukuli lengan Riki, "Biasanya dapat uang hasil jualan donat Nilam makanya kita bisa makan setiap hari, memangnya uang 500 ribu cukup untuk sebulan?"
Riki kembali berdecak, "Ya Riki nggak tahu lagian Ibu juga nggak pernah minta lagi."
Marni menodongkan tangannya, "Sekarang Ibu minta, kasih uang cepetan!"
Mata Riki langsung saja melotot, "Enggak ada Bu, Riki belum gajian."
"Trus Ibu nggak makan sampai kamu gajian?" sinis Marni.
"Ya gimana dong, orang Riki juga nggak ada uang. Ibu kenapa nggak kerja lagi aja?"
Marni benar benar gemas dengan putranya itu, Ia kembali memukuli Riki, "Bisa bisanya kamu nyuruh Ibu kerja!"
"Sekarang baiknya kamu telepon si Vandam, minta Nilam ngirim uang!"
Lagi lagi mata Riki melotot, "Jangan Gila Bu, Nilam baru kerja 3 hari mana mungkin punya uang!"
"Ibu nggak mau tahu, Nilam harus ngirim uang sekarang!" paksa Marni.
Riki yang kesal dengan Ibunya akhirnya memilih pergi tanpa mengatakan apapun.
"Riki... Mau kemana kamu? Ibu belum selesai bicara!" omel Marni namun tak lagi digubris oleh Riki.
"Dasar anak durhaka, bisa bisanya dia pergi padahal ibunya belum selesai bicara!"
Marni masih mengomel meskipun 1 jam sudah berlalu dan Ia berhenti saat merasakan perutnya lapar.
"Sial, aku harus bagaimana sekarang."
Marni akhirnya keluar dari rumah, Ia mengikuti saran Riki untuk mencari pekerjaan agar Ia tetap bisa makan tanpa uang pemberian dari Riki.
Langkah kaki Marni terhenti disebuah rumah makan yang sangat ramai.
__ADS_1
Marni mencoba masuk dan mendekati sang pemilik rumah makan.
"Cik ada kerjaan nggak untuk saya? cuci piring sama bersih bersih juga nggak apa apa." kata Marni.
Pemilik warung itu menatap Marni dari atas sampai bawah, "Cuci piring mau?"
"Mau deh cik yang penting bisa makan." kata Marni.
Pemilik warung itu mengangguk lalu mengantar Marni ke belakang dimana ada banyak tumpukan piring kotor, "Bayaranmu sehari 35ribu."
Marni melotot tak percaya, "Cuma 35ribu cik?"
"Mau nggak? Kalau nggak juga nggak apa apa."
Marni akhirnya mengangguk setuju, "Nggak apa apa deh Cik."
Pemilik warung itu pergi meninggalkan Marni, "Ck dasar cina pelit, bisa bisanya aku cuma digaji 35ribu aja!" omel Marni, "Mana nyuci piringnya banyak gini lagi!"
Marni akhirnya mulai bekerja, mencuci piring tanpa henti karena saat piring sudah habis akan datang lagi setumpuk piring kotor, sama sekali tidak memberikan waktu Marni untuk istirahat hingga sore hari warung tutup barulah Marni berhenti mencuci piring.
Tangan Marni bahkan terlihat pucat karena terlalu lama terendam air.
"Nih bayaran kamu." pemilik warung memberikan 3 lembar uang 10ribuan.
"Lho kok cuma 30ribu cik? Katanya 35ribu?" protes Marni.
"Kamu nyuci piringnya nggak bersih sampai ada pelanggan komplain jadi aku potong uangnya."
Marni melotot tak terima, "Ya nggak bisa gitu dong Cik, saya nyucinya bersih semua!"
"Gimana mau nggak? Kalau nggak mau uangnya saya ambil lagi!" ancam pemilik warung seolah enggan mendengar keluhan Marni.
Dengan wajah manyun, Marni mengambil uangnya lalu pergi keluar dari warung, "Dasar cina pelit, bisa bisanya dia ngasih uang 30ribu padahal aku nyuci piring seharian sampai tanganku medok gini!"
Sebelum sampai rumah, Marni mampir ke warung makan untuk membeli lauk makanan mengingat dirumah hanya ada nasi sisa hari kemarin.
"30ribu melayang cuma buat beli lauk aja!" omel Marni sambil terus berjalan kaki hingga Ia merasa plastik hitam berisi lauk makanan yang baru Ia beli direbut seorang pengendara motor.
"Eh mana lauknya?" sadar jika plastik lauknya di ambil orang, Marni langsung berteriak, "MALING... JAMBRET..."
Semua orang tampak mendekat ke arah Marni, "Apanya yang dijambret?" tanya beberapa pria yang akan mengejar Jambret.
"Plastik hitam isinya lauk."
"Cuma itu? bukan dompet?"
Marni mengangguk.
__ADS_1
"Alah, kirain dompet Bu, kalau cuma lauk mah nggak usah teriak beli lagi aja." kata orang orang lalu meninggalkan Marni.
Tubuh Marni seketika lemas dan Ia jatuh ke jalanan, "Kenapa orang orang jahat sekali."