
Nilam sudah menutup tokonya, Nisa pun juga sudah pulang. Kini waktunya Ia naik ke atas untuk istirahat.
Sebelum istirahat, Nilam mandi terlebih dulu dan Ia juga menyempatkan belajar hingga tengah malam.
Berkali kali Nilam melihat ke arah jam wekernya, sudah menunjuk ke arah 12, ini sudah tengah malam namun tidak ada tanda tanda seseorang datang.
Nilam menutup bukunya, Ia berjalan membuka pintu balkon dan tidak ada siapapun disana.
"Apa dia tidak datang lagi?" gumam Nilam lalu kembali masuk ke kamar, tak lupa mengunci pintu balkon.
Nilam berdecak, "Dasar bodoh, untuk apa aku menunggunya, bukankah bagus jika Ia tidak datang dan mengangguku lagi!" omel Nilam pada dirinya sendiri lalu berbaring untuk tidur.
Satu menit, dua menit, Nilam masih belum bisa tidur meskipun Ia sudah memejamkan matanya sedari tadi.
Nilam kembali bangun, Ia meneguk segelas air putih yang ada dimeja. Kembali bangun dan membuka pintu balkon.
Ia melihat ke bawah, tidak ada motor ataupun seseorang disana. Tidak ada yang datang malam ini.
"Dasar bodoh, apa yang kau tunggu. Pergilah tidur, kau harus membuat roti besok pagi!" omel Nilam pada dirinya sendiri lalu kembali masuk ke dalam.
Nilam ke bawah untuk membuat coklat hangat. Minum segelas coklat hangat sedikit membuatnya tenang dan Ia pun bisa segera tidur.
Sementara ditempat lain,
Anak buah Vandam memasuki ruangan dan terkejut melihat Vandam duduk disana.
"Tumben bos nggak keluar?" herannya, mengingat setiap malam Vandam keluar dengan menaiki sepeda motor.
Vandam tak menjawab, hanya tersenyum tipis lalu meneguk segelas alkohol yang sudah Ia tuang sedari tadi.
"Jangan bilang udah ketahuan."
Lagi lagi Vandam tersenyum membuat anak buahnya mengerti arti senyuman dari Vandam.
"Kenapa nggak kayak bos Arga, dijebak biar bisa nikah sama bos." saran anak buah Vandam.
Vandam hanya menggelengkan kepalanya,
Anak buah Vandam berdecak, "Daripada tersiksa kayak gitu bos, kalau udah bareng kan bebas bos."
Vandam menghela nafas panjang, "Nggak usah banyak omong, tetap awasi aja jangan sampai terjadi sesuatu!''
__ADS_1
Anak buah Vandam tertawa, "Siap bos, para preman disana juga sudah nggak berani ganggu toko kue lagi."
Vandam mengangguk, "Bagus, pastikan selalu aman."
Anak buah Vandam keluar, Vandam kembali meneguk segelas minuman alkohol lalu tersenyum tanpa sebab. Vandam mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Nilam, senyumnya bertambah lebar.
2 tahun mereka berpisah tidak menghilangkan rasa cinta dan obsesinya untuk kembali memiliki Nilam namun sekarang Ia sudah berbeda, Ia tidak ingin memaksakan apapun lagi seperti dulu. Vandam akan menunggu hingga Nilam mau bersamanya lagi tanpa ada paksaan.
Pintu kembali terbuka, Vandam melihat seorang gadis berpakaian seksi memasuki ruangannya.
Tiara, nama gadis yang kini tersenyum ke arahnya.
"Ngapain?" tanya Vandam.
"Mau mijitin bos." balas Tiara dengan tatapan nakal.
"Lagi nggak capek, keluar aja!" usir Vandam membuat Tiara memanyunkan bibirnya.
"Yakin bos?" Tiara masih belum menyerah.
Vandam terlihat kesal, salahnya karena pernah meminta Tiara memijatnya waktu itu membuat Tiara berani mendekatinya.
Waktu itu Vandam kelelahan, Ia butuh pijatan dan karena tengah malam sudah banyak tukang pijat tutup akhirnya Ia meminta Tiara yang melakukannya namun sekarang Ia menyesal karena Tiara menjadi berani dan setiap hari masuk keruangannya untuk menawarkan diri pada Vandam.
Vandam menghela nafas panjang, mengingat banyak gadis yang mencoba mendekatinya namun tidak ada satupun yang membuatnya tertarik bahkan pernah Ia hampir tidur dengan gadis lain karena sudah lama menahan hasratnya dan gagal setelah rasanya berbeda tidak seperti milik Nilam yang membuatnya candu dan gila seperti ini.
Vandam kembali meneguk segelas alkoholnya hingga Ia sedikit mabuk. Vandam melihat ke arah jam dinding, sudah pukul 2 dini hari.
Ia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Vandam menyalakan motornya hingga sampai ke satu tempat yang menjadi tujuannya datang.
Setelah memanjat dinding, Vandam membuka pintu dengan kunci cadangan yang Ia miliki. Kini Vandam bisa melihat gadis yang Ia cintai secara nyata, sedang terlelap dengan memeluk guling.
Vandam tersenyum, hampir setiap hari Ia datang untuk melihat Nilam tidur, ya hanya melihat. Vandam tidak ingin menyentuh ataupun melakukan sesuatu yang bisa mengusik lelap Nilam.
Setelah puas memandangi wajah Nilam, Vandam segera pergi dari sana, Ia tidak ingin ketahuan oleh Nilam lagi.
Vandam turun lewat balkon kamar Nilam, tak sengaja tangannya tergesek dinding pagar hingga sobek sedikit dipergelangan tangan.
"Argh, sial!" umpat Vandam melihat darah mengucur dari pergelangan tangan.
__ADS_1
Darah mengucur sangat banyak hingga menetes ke lantai. Vandam tak memperdulikan rasa sakit dan darahnya yang menetes, Ia berjalan keluar dan langsung melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
Tetesan darah dilantai yang mulai mengering mengejutkan Nisa yang baru saja datang untuk bekerja.
Ia langsung naik ke atas kamar Nilam.
"Mbak, dibawah ada darah."
Nilam yang baru selesai bersiap ke kampus tentu saja terkejut dengan aduan dari Nisa.
Ia ikut turun untuk melihat apa yang terjadi dibawah.
"Ini mbak, merah kayak gini keliatan kayak darah tapi udah kering." kata Nisa memperlihatkan lantai dengan banyak tetesan darah yang sudah mengering.
"Darah siapa?" heran Nilam, "Apa mungkin kucing melompat tapi jatuh?" tebak Nilam.
"Harusnya kalau hewan ada bangkainya disekitar sini mbak."
Nilam mengangguk setuju, "Coba kita lihat cctv aja."
Nilam dan Nisa kembali naik ke atas untuk melihat rekaman cctv. Mereka ingin melihat apa yang terjadi semalam.
Keduanya terkejut saat mengetahui ternyata Vandam, pria yang naik turun melewati balkon kamar hingga terluka dan meneteskan darah ke lantai.
"Mbak kita harus laporin cowok cabul itu ke polisi!" teriak Nisa sambil menujuk ke arah Vandam.
"Ca cabul?"
"Iya dia pasti cowok cabul, masuk kamar mbak sampai ngeliatin tidur kayak gitu nanti lama lama dia pasti-"
"Aku kenal sama dia kok Nis." potong Nilam.
Mata Nisa membelalak, menatap Nilam tak percaya, "Aku kenal sama dia jadi tenang aja, dia nggak bakal macem macem." jelas Nilam lagi.
"Apa jangan jangan dia cowok yang udah bantuin Mbak sampai bisa punya toko ini?" tanya Nisa memastikan karena Nilam pernah bercerita pada Nisa, Ia tidak mungkin bisa memiliki toko kue impiannya jika bukan karena bantuan seseorang.
Nilam terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Iya, memang dia orangnya."
Nisa kembali terkejut namun sedetik kemudian dia tersenyum, "Wah dia pasti cinta mati banget sama Mbak Nilam sampai ngelakuin banyak hal kayak gini."
Nilam hanya tersenyum menanggapi ucapan Nisa.
__ADS_1
Bersambung...