NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
19


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, hari ini Nilam memberanikan diri untuk mengikuti Saran Vandam yang memintanya belajar di apartemen sepulang sekolah.


Setelah mengantar semua donatnya ke panti asuhan, Nilam segera mengambil uang di Atm dan setelah itu Ia pergi ke apartemen Vandam, tak lupa Ia membeli bahan makanan untuk membuat makan siang.


"Dapurnya bagus sekali, seperti dapur orang kaya." gumam Nilam merasa kagum dengan dapur mewah nan bersih yang ada di apartemen Vandam.


Dengan senyum mengembang, Nilam segera memasak lalu makan siang. Setelah selesai, Nilam mulai belajar untuk ujiannya yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.


Tak terasa waktu sudah sore, Nilam terlalu fokus belajar hingga tak sadar sudah pukul 4 sore.


Nilam bersiap untuk pulang, Ia tak ingin pulang terlambat dan kena omel ibunya lagi.


Nilam membawa keranjang donatnya yang sudah habis, "Besok aku akan kembali lagi." Gumam Nilam lalu keluar dari Apartemen Vandam.


Hari demi hari Nilam melakukan aktifitas yang sama bahkan saat sedang libur sekolah, Ia tidak lagi berjualan donat tetapi belajar di apartemen Vandam.


Hingga tanpa terasa sudah sebulan lamanya Nilam melakukan itu.


Siang ini Nilam sedikit letih, dikarenakan pelajaran terakhir olahraga dan Ia asyik main volly hingga kelelahan.


Nilam belajar di ranjang kamar Vandam. Karena kelelahan, tanpa disadari Nilam terlelap.


Tidur Nilam terusik kala ada tangan besar yang mengelus pipinya. Nilam membuka matanya, Ia melihat Vandam tersenyum dan Nilam pun akhirnya ikut tersenyum sambil bergumam, "Aku pasti mimpi."


Nilam kembali memejamkan matanya dan anehnya tangan Vandam masih terasa mengelusnya.


Mau tak mau akhirnya Nilam bangun dan ternyata Ia tidak mimpi, Vandam memang ada disini, Vandam pulang.


"Kak..." Nilam yang terkejut bergegas bangun dan merapikan dirinya karena sejak pulang tadi Ia bahkan belum cuci muka.


Vandam tersenyum, "Aku senang kau menuruti ku,"


Nilam tertunduk malu, "Aku harus belajar kak jadi..."


"Belajar atau tidur?" sindir Vandam.


Nilam tersenyum malu, "Aku kelelahan kak, asyik bermain volly saat disekolahan."


"Baiklah, lanjutkan saja tidurmu, aku tidak akan menganggu." kata Vandam namun Nilam langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak kak, aku sudah tidak mengantuk lagipula lelahku juga sudah mulai mereda."


Vandam tersenyum nakal mendengar jawaban Nilam, tadinya Ia ingin membiarkan Nilam istirahat namun Nilam sudah tidak lelah jadi Ia tidak akan membiarkan Nilam istirahat lagi.

__ADS_1


"Kak..." Nilam kembali terkejut saat Vandam sudah berada diatasnya.


"Aku sudah menahannya selama sebulan baby, apa kau akan meminta ku tuk menahan lagi?"


Nilam akhirnya menggelengkan kepalanya dengan lesu.


Tak menunggu lama, Vandam segera menikmati tubuh Nilam yang menjadi candunya itu.


Ia tidak akan berhenti sebelum puas.


Tanpa terasa mereka bergumul hingga pukul 6 petang, tubuh Nilam yang tadinya lemas kini semakin terasa remuk karena Vandam memintanya berkali kali.


"Mandilah, aku akan mengantarmu pulang." kata Vandam.


Nilam tak bergeming, Ia diam hingga terdengar isakan tangis.


"Kau menangis?" Vandam terkejut.


Nilam tak menjawab, Ia melanjutkan tangisnya semakin keras dan semakin menjadi.


"Hey, apa yang terjadi kenapa menangis sayang?" tanya Vandam mencoba mengusap air mata Nilam namun Nilam memalingkan wajahnya, tidak memberi kesempatan Vandam.


Vandam merasa bingung, Ia belum pernah menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun, selama ini Ia hanya membutuhkan tubuh wanita tanpa ada embel embel ikatan berpacaran seperti saat bersama Nilam jadi Ia tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik.


"Sayang, please berhentilah menangis, aku tidak tahu kenapa kau menangis seperti ini." kata Vandam masih terlihat panik.


Cukup lama hingga akhirnya Nilam menghentikan tangisnya,


"Ada apa denganmu?"


"Aku lelah kak, aku kelelahan dan kau malah melakukan itu padaku, kau selalu menjelekan ibuku tapi kenyataannya kau sama saja dengannya!" kata Nilam sambil menundukan kepalanya karena takut.


Vandam tertegun sejenak mendengar ucapan Nilam yang memang benar. Ia sama saja, ya sama saja seperti Marni yang memeras tubuh Nilam, menggunakan Nilam sesuai apa yang Ia inginkan tanpa memikirkan gadis itu. Vandam sejahat itu dan Vandam merasakan dadanya nyeri mendengar ucapan Nilam.


"Mandilah, aku akan mengantarmu pulang." kata Vandam.


Nilam tersenyum sinis, rasanya percuma mengungkapkan isi hatinya, Vandam bahkan tidak peduli.


Nilam melilitkan handuk pada tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi.


"Dia bahkan tidak maaf, apa dia benar mencintaiku?" gumam Nilam saat berada didalam kamar mandi.


Nilam kembali menangis dibawah guyuran air shower namun kali ini tanpa suara.

__ADS_1


Nilam keluar dan giliran Vandam yang memasuki kamar mandi.


Nilam berniat pulang sendiri, Ia tak mau diantar Vandam namun ucapan Vandam mengurungkan niatnya itu, "Jangan pergi, tunggu aku sampai selesai!"


Setelah memakai seragamnya kembali, Nilam duduk disofa menunggu Vandam selesai.


Vandam keluar kamar dan sudah rapi dengan baju bersih.


Nilam akui, Vandam memang tampan ya sangat tampan, salah satu alasan Nilam akhirnya jatuh cinta meskipun tahu Vandam itu pria brengsek.


"Kita cari makan malam dulu." ajak Vadam saat keduanya sudah berada didalam mobil


"Tidak, aku ingin segera pulang saja." tolak Nilam.


Vandam menghela nafas panjang, saat Nilam mandi, Ia sempat mencari di google tentang cara memperlakukan pasangan dengan baik karena Ia ingin berubah tidak ingin membuat Nilam tersiksa saat bersamanya.


Dan di google tadi mengatakan jika Vandam harus ekstra sabar menghadapi kekasih yang umurnya lebih muda darinya.


"Ayolah sayang, jika dirumah nanti kau pasti tidak akan bisa makan." kata Vandam dengan suara lembut yang langsung membuat Nilam luluh seketika.


Gadis itu langsung menganggukan kepalanya.


Vandam yang merasa senang dan berhasil pun segera mengelus kepala Nilam.


"Good girl!"


Keduanya menuju sebuah restoran jepang. Vandam ingin Nilam merasakan nikmatnya makan sushi namun kenyataanya Nilam hampir dibuat mual saat pertama kali mencoba ikan mentah itu.


"Aku lebih suka nasi padang kak dari pada ikan mentah ini." ungkap Nilam membuat Vandam tertawa.


"Baiklah sayang, kita akan makan nasi padang sekarang." kata Vandam mengajak Nilam meninggalkan restoran jepang padahal makanan pesanan mereka masih utuh.


"Sayang sekali makanan tadi, sudah dibayar tidak dimakan." celetuk Nilam saat berada didalam mobil.


"Tidak masalah, aku sudah meminta para pelayan disana untuk memakannya."


Nilam menatap Vandam tak percaya, dibalik kebrengsekan Vandam, pria itu memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Nilam kini dibuat bingung, kadang Ia merasa kesal dengan Vandam namun jika melihat sisi Vandam yang teramat positif seperti ini, jujur Nilam juga sangat bangga memiliki Vandam.


"Kita sudah sampai, kau harus makan yang banyak." kata Vandam menghentikan mobilnya didepan rumah makan padang membuat Nilam terkejut dan buru buru memalingkan wajahnya.


Vandam trrsenyum geli melihat tingkah Nilam, Ia gemas dan akhirnya mencium pipi Nilam.

__ADS_1


"Jangan marah lagi sayang."


Bersambung....


__ADS_2