NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
52


__ADS_3

Vandam membuka matanya setelah terkena cahaya yang masuk disela sela tirai.


Ia terkejut saat melihat sudah pagi dan lagi saat ini Ia tidak berada dikamarnya.


"Bukankah ini kamar Nilam?" gumam Vandam akhirnya bergegas bangun.


Vandam kembali terkejut saat Ia tak memakai sehelai benangpun. Tubuh bugilnya hanya tertutup selimut.


"Ap apa yang terjadi?" gumam Vandam mencoba mengingat apa yang terjadi.


Karena tak kunjung ingat, Vandam bangun dari ranjang, masih menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut. Ia mencari Nilam diseluruh ruangan yang ada dikamar namun tidak ada hingga akhirnya Ia sadar jika sudah pukul 8 pagi dan mungkin Nilam sudah pergi ke kampus.


Vandam berdecak, matanya tak sengaja menatap ke arah meja dimana sudah ada baju ganti bersih juga secangkir kopi lengkap dengan kue untuk sarapan dan secarik kertas berisi tulisan tangan Nilam.


Malam yang indah kak, semoga harimu menyenangkan.


Vandam benar benar dibuat melongo dengan isi surat itu.


"Apa yang terjadi semalam?"


Vandam mencoba untuk mengingat sesuatu, kemarin sore setelah mengantar Nilam, Vandam kesal dengan Nilam hingga Ia minum alkohol lumayan banyak. Vandam yang mabuk, mengemudikan motornya menuju toko kue Nilam yang sekaligus menjadi tempat tinggal Nilam.


Setelah itu Vandam tak mengingat apapun lagi.


"Sial!" desis Vandam.


Vandam memutuskan untuk mandi lebih dulu agar pikirannya kembali normal dan bisa mengingat segalanya.


Selesai mandi, Vandam sarapan kopi dan kue yang disiapkan oleh Nilam namun lagi lagi Ia masih belum mengingat apa yang terjadi.


"Apa mungkin semalam gue nglakuin itu sama Nilam?" tebak Vandam "Kalau iya, rugi banget gue nglakuin itu pas lagi mabuk!" kesal Vandam.


Saat sedang menikmati sarapan sambil melamun, pintu kamar terbuka, Vandam terkejut melihat Nilam memasuki kamar dengan pakaian santai.


"Udah bangun kak?" sapa Nilam dengan ramah membuat Vandam keheranan.


Jika terjadi sesuatu semalam, mungkin Nilam akan marah dan kembali membencinya tapi saat ini Nilam terlihat biasa saja bahkan tidak marah sama sekali.


"Apa yang terjadi semalam?"


Nilam tak menjawab hanya menghela nafas panjang membuat Vandam semakin penasaran.


"Katakan apa yang terjadi semalam? Apa aku memperkosamu lagi? Kenapa aku bangun tanpa mengenakan pakaian?"


"Apa kakak sudah lupa?"


Vandam mengangguk, "Aku sama sekali tidak ingat apapun."


Nilam berdecak, "Sayang sekali."


"Jangan membuatku gila Nilam, katakan apa yang terjadi semalam?" Vandam benar benar semakin penasaran.


"Sudahlah kak, lupakan saja. Aku harus ke bawah untuk membantu Nisa." kata Nilam ingin berbalik namun tangannya ditahan oleh Vandam.


"Apa kau libur kuliah?"

__ADS_1


Nilam mengangguk,


"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kau bilang ingin menemui Ibu dan Riki."


Wajah Nilam berubah bahagia, "Serius Kak? Mau mengantarku?"


Vandam mengangguk, "Tapi katakan dulu apa yang terjadi semalam?"


Nilam memutar bola matanya malas, "Rasanya aku tak sanggup untuk menceritakannya."


Vandam berdecak, Ia semakin penasaran. Benar benar membuatnya gila.


"Apa kita melakukannya semalam?"


Nilam membuka laptopnya lalu memperlihatkan rekaman cctv dikamarnya semalam "Pikiranmu terlalu mesum kak!"


Tadinya Vandam mengira Ia sudah melakukan sesuatu pada Nilam namun ternyata salah. Nilam yang lebih dulu menciumnya. Vandam menatap ke arah Nilam yang malu malu saat menonton video ciuman mereka.


"Aku juga mabuk semalam." kata Nilam berbohong untuk menutupi rasa malunya.


"Jika terjadi sesuatu bukan aku yang memulai." kata Vandam melanjutkan menonton.


Setelah melepaskan ciumannya, tidak terjadi sesuatu yang menyenangkan namun malah membuat Vandam malu karena ternyata Ia muntah, efek dari alkohol yang Ia minum.


Vandam mengotori bajunya dan juga lantai Nilam.


"Itu alasan kenapa aku melepas baju Kakak, tidak mungkin aku membiarkan Kakak tidur memakai baju kotor." jelas Nilam.


Setelah Nilam melepas semua baju Vandam, dengan penuh percaya diri Vandam tidur diranjang Nilam sementara Nilam masih membersihkan lantainya yang kotor.


Terakhir, Vandam sempat menonton Nilam menyelimuti tubuhnya lalu Nilam keluar dari kamar.


"Aku benar benar minta maaf sudah merepotkanmu." kata Vandam merasa tidak enak.


"Tidak masalah kak asal sekarang Kakak mau mengantarku ke kampung."


"Baiklah, bersiaplah. Kita berangkat sekarang."


Dengan senyum mengembang, Nilam bersiap dan keduanya turun bersama membuat Nisa terkejut.


"Lho kok mas bisa disini? Padahal tadi saya nggak lihat mas naik ke atas." heran Nisa


"Semalam dia menginap Nis."


Wajah Nisa langsung melonggo, "Mbak, beneran? Tidur bersama?"


Nilam tertawa, "Enggak, aku tidur dikamar sebelah. Udah ah mau pergi dulu ya Nis, kalau capek tutup aja tokonya."


"Tapi Mbak mau kemana?" tanya Nisa.


"Mau jalan jalan." balas Vandam membuat Nisa tersenyum seolah mengerti arti jalan jalan yang dimaksud oleh Vandam.


Keduanya memasuki mobil dan Vandam mulai melajukan mobilnya menuju kampung halaman Nilam.


"Kau terlihat senang." ucap Vandam.

__ADS_1


"Aku sudah rindu rumah Ayah Kak."


Vandam tersenyum, "Oh jadi ini hanya tentang rumah?"


Nilam mengangguk, "Rumah Ayah satu satunya yang bisa membuatku ingat masa kecil yang bahagia kak, sebelum Ibu Marni datang."


"Ya aku mengerti."


"Apa kita bisa mampir ke toko oleh oleh kak? Aku ingin membelikan sesuatu untuk Ibu dan Kak Riki."


Vandam mengangguk, "Boleh saja."


Setelah membeli banyak oleh oleh, Nilam dan Vandam kembali melanjutkan perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.


Dengan wajah senang dan tak sabar, Nilam segera keluar dari mobil lalu berlari mengetuk pintu rumahnya.


Cukup lama Nilam mengetuk pintu hingga akhirnya pintu terbuka.


Raut wajah Nilam terlihat kecewa saat melihat bukan Marni ataupun Kak Riki yang membuka pintu.


"Cari siapa?" tanya wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan Ibu Marni.


"Ibuku dan kakak ku, dimana mereka? Bukankah mereka tinggal disini?" tanya Nilam.


Vandam yang tadinya masih berdiri disamping mobil akhirnya ikut mendekat untuk memastikan apa yang terjadi.


"Oh kalian mencari Marni dan Riki?"


Nilam mengangguk,


"Mereka sudah menjual rumah ini padaku."


Seketika tubuh Nilam melemas hingga Ia jatuh ke lantai.


"Menjual?" Vandam terlihat emosi, membantu Nilam kembali berdiri.


"Ya, menjual rumah ini setahun yang lalu."


"Lalu kemana barang barangnya?"


"Sudah dibawa oleh mereka, ku dengar mereka juga sudah mati."


Lagi lagi Nilam dibuat terkejut, "Apa maksudmu? Dimana mereka sekarang?"


"Setelah menjual rumah serta barang barangnya, mereka tinggal dikontrakan dan membeli mobil. Ku dengar mereka kecelakaan dan mati ditempat." jelas wanita itu.


"Baiklah, terima kasih informasinya." kata Vandam lalu mengajak Nilam kembali ke mobilnya.


Didalam mobil, Nilam menangis sejadi jadinya. Ia tak menyangka Ibu dan Kakaknya tega menjual rumah peninggalan sang Ayah.


"Kenapa mereka begitu jahat kak."


Vandam tak tega melihat Nilam menangis, Ia memeluk Nilam, mencoba menenangkan gadis yang Ia cintai itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2