
Panasnya terik matahari mulai dirasakan oleh Nilam. Gadis itu mencari tempat berteduh untuk istirahat sejenak setelah baru saja Ia berkeliling ditaman kota untuk menjajakan donatnya.
Nilam mengambil botol air minum yang Ia bawa dari rumah, Ia meneguk habis air minum yang hanya tersisa setengah botol itu.
Perutnya pun mulai berdisko didalam sana seolah meminta makanan karena Ia memang belum makan sejak pagi tadi.
Nilam mengelus perutnya, berharap perutnya bisa mengerti keadaannya dan tidak rewel lagi karena Ia tidak mungkin mengambil donat ataupun uang hasil jualan untuk membeli makanan mengingat Ibunya selalu menghitung jumlah donat yang Ia bawa dan harus pas saat menyetorkan uang pada Ibunya.
Nilam masih bersantai dibawah pohon hingga Ia kembali merasakan ada yang memperhatikan dirinya dari jauh.
Nilam melihat ke sekitar, rasanya tidak ada siapapun disana.
Nilam beranjak dari duduknya, Ia pindah ke tempat lain karena jujur Nilam takut jika yang memperhatikan dirinya adalah para preman jahat yang berniat mengambil uang hasil jualannya.
Nilam mencoba bersembunyi karena Ia benar benar penasaran dengan siapa yang sudah mengikutinya itu hingga Nilam dibuat terkejut saat tahu siapa yang sudah mengikutinya.
Marni, Ibu tirinya itu terlihat memakai topi dan kaca mata, seperti seorang detektif yang sedang mengintai mangsanya.
Mau tak mau, Nilam dibuat tertawa oleh tingkah ibu tirinya itu apalagi melihat penampilan Marni yang kocak.
"Ada apa Ibu mengikutiku? Selama ini dia tidak pernah mengikutiku seperti ini." batin Nilam merasa lega karena bukan orang jahat yang mengikutinya.
Nilam kembali berkeliling menjajakan donatnya, Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya ini agar cepat pulang kerumah, tak peduli lagi dengan Ibunya yang masih mengikutinya.
"Hey kau..." panggil seorang wanita paruh baya pada Nilam.
Nilam segera menghampiri wanita itu karena Ia pikir wanita itu ingin membeli donatnya.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Wanita itu yang langsung di gelengi oleh Nilam karena Ia belum makan siang meskipun perutnya terasa lapar.
"Aku tadi membelikan nasi padang untuk putraku tapi dia tidak mau memakannya, dari pada aku harus membuang makanan ini lebih baik ku berikan pada seseorang, apa kau mau?" tawar Ibu itu yang langsung diangguki oleh Nilam.
Dengan senang hati Nilam menerima nasi padang yang masih dibungkus utuh itu.
"Terima kasih banyak Bu." ucap Nilam yang langsung diangguki Ibu itu.
__ADS_1
Nilam segera mencari tempat untuk makan siang, "Wah ternyata ada es jeruknya juga." gumam Nilam semakin senang saat membuka bungkusan plastik, tak hanya nasi padang namun juga ada es jeruk dan juga buah pisang.
"Aku pasti akan kenyang." gumam Nilam lagi segera melahap nasi padangnya tanpa mengubris Marni yang mungkin masih mengikutinya dan melihatnya makan saat ini.
Asal setoran uangnya pas, Nilam tidak akan mungkin kena omel Marni.
Selesai makan siang, Nilam kembali berkeliling dan hari ini Nilam merasa hari keberuntungannya karena tidak hanya mendapatkan makan siang gratis tetapi juga ada yang memborong habis kue donatnya hingga Ia bisa pulang lebih awal.
Nilam pulang kerumah dengan membawa uang setoran pas. Ia memasuki rumah, melihat Marni tengah duduk disofa dan terlihat kelelahan.
Nilam tersenyum geli, tahu jika Marni kelelahan karena mengikutinya berjualan hari ini.
"Ini setoran uangnya Bu." Nilam memberikan semua uangnya pada Marni yang langsung menghitung jumlah uangnya.
"Pas..." gumam Marni merasa heran karena uang yang diberikan Nilam pas padahal tadi Ia sempat melihat Nilam makan siang. Tadinya Marni ingin mengomeli Nilam jika uangnya kurang namun nyatanya uangnya pas.
"Nilam istirahat sebentar Bu." ucap Nilam lalu pergi meninggalkan Marni yang kembali menghitung uang setoran milik Nilam.
Setelah dirasa benar benar pas, Marni keluar dari rumahnya lagi untuk berbelanja bahan donat dan juga bahan makanan untuk makan malam nanti.
Sementara itu dirumah, Nilam baru saja selesai mandi, Ia berniat untuk berbaring diranjangnya setelah ini namun mendengar suara pintu diketuk membuat Nilam mengurungkan niatnya dan memilih membuka pintu lebih dulu.
Nilam membuka pintu dan melihat seorang kurir membawa sebuah paket kotak besar.
"Dengan Nona Nilamsari?" tanya kurir itu membuat Nilam keheranan karena Ia tidak pernah memesan apapun.
"Ya saya sendiri."
"Ada paket untuk anda, silahkan tanda tangan disini." pinta kurir itu.
"Tapi saya tidak pernah memesan apapun." tolak Nilam.
"Disini tertulis sangat jelas, nama dan alamat penerima paket jadi tolong segera tanda tangan Nona." pinta kurir itu.
Nilam akhirnya membubuhkan tanda tangannya tanpa protes lagi. Ia segera membawa masuk paket itu ke kamarnya.
__ADS_1
Tak sabar, Nilam akhirnya membuka paket kotak besar yang isinya berbagai macam cemilan ringan. ada coklat, biskuit, snack, susu dan mie instan.
Nilam juga melihat ada secarik kertas dan Ia segera membaca isi dari kertas itu,
Ini stock makanan untukmu selama seminggu, jangan biarkan wanita jahat itu melihat ini dan mengambilnya, simpan dengan baik. Aku ingin melihatmu sedikit gemuk saat kita kembali bertemu.
Nilam tersenyum membaca tulisan itu, Ia bahkan bisa menebak siapa pengirim paket makanan ini.
Pasti Vandam, pasti Vandam tebak Nilam lalu kembali tersenyum.
"Dia sangat kejam tapi dia juga baik dan perhatian." gumam Nilam.
Nilam bergegas menyimpan makanan itu karena takut Ibunya pulang dan tahu harta berharganya ini.
Ia menyimpan makanan menjadi dua, pertama Ia simpan di bawah ranjangnya yang kedua Ia simpan di lemari tak lupa Nilam menutupinya menggunakan baju agar tak terlihat.
Kini Nilam sudah tidak akan merasa sedih lagi karena harus menahan lapar.
Mendengar suara Ibunya berteriak, Nilam segera keluar untuk menghampiri Ibunya didapur.
"Cepat segera memasak, aku sudah lapar!" perintah Marni dengan suara galak.
Tanpa protes, Nilam segera memasak dan kali ini Ia tidak menambah porsi masakannya. Hanya dua porsi cukup untuk Marni dan Riki, karena rasanya percuma jika Ia tambah pun juga Marni tidak akan menyisakan makanan untuknya.
Dan malam ini saat Nilam sedang membuat donat, Ia menghampiri Riki yang baru saja selesai makana malam.
"Kak, jangan belikan aku nasi goreng lagi." pinta Nilam membuat Riki mengerutkan keningnya heran, selama ini Ia selalu membelikan Nilam nasi goreng karena tahu jika Ibunya tidak pernah menyisakan makanan untuk Nilam.
"Aku masih kenyang kak."
"Kenyang makan apa?" heran Riki.
"Tadi siang pas jualan donat ada yang ngasih makanan dan rasanya masih kenyang sampai sekarang, jadi Kak Riki nggak perlu beliin Nilam nasi goreng lagi."
Riki tersenyum lalu mengelus kepala adiknya, "Ngomong ngomong siapa yang sudah belikan Nilam makanan, apa Pacar Nilam?" Tebak Riki yang seketika membuat pipi Nilam merona.
__ADS_1
Bersambung...