NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
11


__ADS_3

Tubuh Nilam kembali bergetar apalagi saat ini Marni menatap tajam ke arahnya seolah masih ingin menguliti dirinya, seolah masih belum bisa puas menghajarnya.


Nilam berjalan mundur, Ia mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup didepan Ibu tirinya itu.


"Aku sudah mengatakan semua dengan jujur pada Ibu, jika Ibu masih tidak percaya, tidak apa apa." kata Nilam lalu pergi meninggalkan Marni.


Marni tersenyum sinis menatap punggung Nilam, mendadak Ia ingat saat kemarin keluar dari rumah untuk pergi shoping, Marni bertemu dengan Romlah tetangganya yang menceritakan jika Ia melihat Nilam keluar dari mobil seseorang pada hari itu.


Hanya saja Romlah tidak tahu siapa yang ada didalam mobil itu.


Marni menjadi yakin jika Nilam memiliki kekasih dan mereka baru saja melakukan liburan bersama.


Tugas Marni sekarang hanya harus mencari tahu siapa kekasih Nilam yang memiliki sebuah mobil itu, Marni yakin jika kekasih Nilam bukan orang sembarangan.


"Setidaknya aku harus dapat kompensasi dari ini." gumam Marni lalu menyeruput teh hangatnya.


Seharian ini Nilam hanya berada dikamarnya, menghabiskan cemilan dari Vandam dan lebih banyak berbaring hingga pintu kamarnya terbuka dan Marni terlihat memasuki kamarnya.


"Bangun, masak sana!" perintah Marni.


"Bu... Bisakah aku libur hari ini. Tubuhku masih terasa sakit semua." kata Nilam dengan raut wajah memelas.


"Kau pikir aku peduli? Kau sendiri yang membuatku melakukan itu padamu! Cepat pergi ke dapur, jangan manja!" perintah Marni yang membuat Nilam akhirnya bangun dari ranjangnya.


Nilam berjalan keluar dari kamar sementara Marni masih berada dikamar Nilam, memeriksa kamar Nilam hingga Ia menemukan satu plastik besar makanan ringan dikamar Nilam.


"Sial, dia bahkan punya banyak uang untuk membeli ini semua!" umpat Marni lalu membawa camilan itu keluar dari kamar Nilam.


"Kau bahkan bisa membeli banyak cemilan seperti ini, apa kau menjual diri?" tanya Marni menghampiri Nilam yang berada didapur.


Nilam tampak terkejut sekaligus kecewa karena Ibunya berhasil menemukan makanan yang dibelikan oleh Vandam kemarin. Jika sudah disita seperti ini, Nilam tidak lagi bisa menikmati makanan ringan itu.


"Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli ini!" Marni kembali marah.


Untuk kali ini, Nilam akhirnya jujur mengakui pada Marni, "Kemarin kak Vandam yang membelikan untuk ku bu."

__ADS_1


Marni akhirnya ingat jika kemarin Ia meninggalkan Nilam pada Vandam.


"Apa kau mengatakan pada Vandam jika aku tidak pernah memberimu makan hingga Vandam membelikan banyak makanan untukmu?" tuduh Marni.


Nilam segera menggelengkan kepalanya, "Tidak bu, tidak seperti itu. Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu pada siapapun."


"Pembohong, lihat saja jika aku tahu, aku akan langsung merobek mulutmu!" ancam Marni lalu membawa pergi makanan Nilam.


Nilam hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan pekerjannya.


Selesai memasak, Nilam kembali ke kamarnya. Tubuhnya masih terasa lemas dan sakit, Ia harus banyak istirahat.


Nilam berbaring dan merasakan perutnya keroncongan, Ingat jika Ia belum makan seharian ini, hanya makan sedikit cemilan dari Vandam yang kini sudah disita oleh Ibunya.


Meskipun Nilam yang memasak bukan berarti Ia bebas untuk makan kapanpun. Tidak, Nilam harus menunggu Riki pulang dan makan lebih dulu bersama Marni baru Ia makan sisa nasi dan lauk mereka. Jika tidak ada sisa, Nilam tidak akan bisa makan.


Mungkin inilah salah satu alasan tubuh Nilam selalu terlihat kurus karena Ia tidak makan dengan teratur.


Nilam mencoba untuk memejamkan matanya. Ia memilih untuk tidur dari pada harus merasakan lapar seperti ini.


Mau tak mau Nilam membuka matanya, "Tubuhku lemas sekali Bu, biarkan aku tidur." pinta Nilam dengan nada memohon.


"Enak saja tidur, lebih baik sekarang kau kembali ke dapur untuk membuat donat karena besok kau harus mulai jualan!"


Nilam tentu saja terkejut, "Jualan Bu? Tubuhku masih terlihat memar seperti ini, bagaimana jika ada yang menanyakan padaku tentang ini?"


Marni tersenyum sinis, "Katakan saja pada semua orang jika kau dihajar oleh ku karena menjual diri."


Nilam menundukan kepalanya, Marni tak hanya kejam namun ucapannya juga mampu mengoyak hatinya.


Tak ingin mendengar ucapan menyakitkan dari Marni lagi, Nilam memilih untuk beranjak dari ranjang dan kembali ke dapur untuk membuat kue donat.


Saat Riki sudah pulang, Marni langsung mengajak Riki untuk makan malam tanpa mengubris Nilam yang juga ada disana.


Mereka asyik menikmati makan malam sambil bercanda ria sementara Nilam terlihat sibuk membuat kue donat.

__ADS_1


Melihat Marni dan Riki baru saja selesai makan malam, Nilam bergegas menghampiri meja makan untuk melihat nasi dan lauk yang tersisa namun Nilam harus dibuat kecewa karena semua nasi dan lauk yang ada dimeja habis, tidak tersisa sedikitpun padahal Nilam sudah memasak untuk tiga porsi namun nyatanya tak ada sisa untuknya.


Dengan tubuh lemas, Nilam kembali melanjutkan membuat donat sambil sesekali menitikan air matanya. Nilam sedih dan rasanya tak sanggup lagi menahan ini semua lebih lama.


Ia merasa Jika Ibu tirinya itu semakin kejam padanya.


Nilam mengusap air matanya saat ada suara langkah kaki yang mendekat, Ia tak ingin terlihat lemah karena sudah menangis.


"Makanlah ini, aku tahu kau lapar." ucap Riki menyodorkan bungkusan plastik pada Nilam.


Nilam sudah bisa menebak jika Riki membelikan dirinya nasi goreng. Bau harum nasi goreng itu sudah menusuk hidungnya.


"Terima kasih banyak kak." ucap Nilam dengan mata berkaca. Rasanya Nilam ingin memeluk kakak tirinya saat ini juga karena Kakak tirinya itu sangat baik padanya. Terkadang Nilam tidak bisa membayangkan jika tidak ada Riki mungkin hidupnya lebih menderita dari ini.


"Makanlah dikamar, jangan sampai Ibu melihat." ucap Riki lalu pergi meninggalkan Nilam.


Dengan senyum mengembang, Nilam segera pergi ke kamarnya karena Ia sudah tak sabar untuk menikmati nasi goreng yang dibelikan oleh Riki.


Keesokan harinya ...


Dikarenakan Nilam masih libur sekolah jadi Ia menjual donatnya sedari pagi. Berkeliling ke kampung dan taman kota untuk menjual donat buatannya.


Meskipun hanya donat keliling namun Nilam sudah memiliki banyak pelanggan tetap yang selalu membeli donatnya setiap hari.


Dan saat ini Nilam mengenakan baju serba panjang agar orang orang tidak bisa melihat luka lebamnya dan Nilam juga mengenakan masker untuk menutupi luka di bibirnya.


Sepanjang perjalanan, Nilam merasa ada yang mengikutinya. Berkali kali Ia menegok ke belakang untuk melihat siapa yang mengikutinya namun tidak ada siapapun dibelakangnya.


Nilam berjalan lebih cepat, pergi ke tempat ramai agar Ia bisa mencari perlindungan.


Nilam kembali melihat ke sekitar, "Aku yakin ada yang mengikuti ku."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2