
Selesai makan malam, Vandam mengantar Nilam pulang. Seperti biasa Vandam hanya mengantar Nilam sampai gang masuk padahal Vandam sudah menawarkan akan mengantar sampai depan rumah Nilam namun Nilam menolak membuat Vandam tak bisa melakukan apapun dan menuruti keinginan Nilam.
Nilam baru saja sampai dirumah, seperti biasa sudah disambut Marni dengan wajah masamnya, ditambah lagi ada Anjani disana duduk disamping Riki.
Hampir setiap hari Anjani datang kerumah, kadang membuatnya kesal karena Anjani selalu memerintah Nilam sesukanya.
"Kenapa malam sekali!" omel Marni yang susah bisa ditebak oleh Nilam.
"Maaf Bu, tadi sepi sekali dan baru habis."
"Alasan saja, pasti kamu main dulu!"
Dengan cepat Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, tidak!"
"Sudahlah Bu, Nilam capek, biarkan saja dia istirahat." kata Riki tak tega melihat adik tirinya kena omel.
"Ck, biarin ajalah dia diomelin, kenapa sih kamu selalu belain!" timpal Anjani dengan nada kesal pada Riki.
Riki hanya bisa menghela nafas panjang, jika kekasihnya itu sudah mengomel, Ia lebih baik mengalah dari pada berujung marah dan tak mau bicara padanya.
Tok tok tok...
Pintu diketuk membuat Marni menghentikan omelannya.
Nilam sudah menduga jika itu pasti Vandam yang datang.
Dan benar saja, Vandam datang membawa banyak makanan membuat semua orang bersorak senang.
"Gue heran, kok Lo sekarang sering balik?" tanya Riki.
Nilam masih berdiri ditempatnya, Ia ingin mendengar jawaban Vandam.
"Iya, gue ada urusan penting disini."
"Jangan bilang urusan cewek." kata Riki sambil tersenyum tengil, Anjani yang berada disana terlihat tak suka.
"Tahu aja Lo." balas Vandam ikut tersenyum tengil lalu menatap ke arah Nilam yang masih berdiri disana.
Tak berapa lama, Nilam berbalik hendak meninggalkan ruang tamu namun suara Vandam menghentikan langkahnya,
"Eh Nilam nggak ikuta makan?" tawar Vandam.
Baru ingin menjawab, suara Marni sudah terdengar lebih dulu, "Dia tadi udah makan diluar, jajan sama temennya. Ya kan Nilam?" Marni menatap tajam pada Nilam memberikan kode agar Nilam mengangguk.
"Iya kak, aku sudah makan kok."
"Yahh padahal belinya banyak." Vandam pura pura kecewa.
__ADS_1
Nilam hanya tersenyum geli lalu meninggalkan ruang tamu.
"Gue juga mampu abisin semua makanan yang ada disini." celetuk Anjani.
"Ya udah habisin gih biar Lo tambah gemuk." ejek Vandam.
Anjani melotot tak terima, "Sayang aku nggak gemuk kan?" adu Anjani pada Riki.
"Enggak kok, kurus gini dibilang gemuk." balas Riki membela kekasihnya.
Anjani menjulurkan lidahnya pada Vandam, membalas ejekan Vandam.
Semua orang akhirnya makan bersama diruang tamu kecuali Nilam yang ada dikamarnya juga Vandam yang malah sibuk memainkan ponselnya.
"Lo beli makan tapi nggak makan?" heran Riki pada temannya itu.
"Gue udah kenyang, makan nasi padang sama cewek gue."
Seketilka tawa Riki membuncah, "Lo punya cewek?"
"Syukur deh kalau udah punya tinggal nunggu undangan." tambah Marni.
Sementara Anjani kembali lagi memperlihatkan wajah tak sukanya.
"Doain aja tante."
Selesai makan mereka kembali berbincang dan tiba tiba Vandam mengeluarkan sebuah amplop disakunya.
Mata Marni langsung saja berbinar mendengar menginap divilla dan makan gratis.
"Aku harus ikut!" kata Marni penuh penekanan.
"Buat berapa orang?" tanya Riki pada Vandam.
"3 orang aja."
Riki terlihat sedikit kecewa, "Cuma bisa aku, ibu sama Anjani aja, Nilam nggak bisa ikut."
Marni mendengus sebal, "Biarin aja Nilam nggak ikut lagian dia harus sekolah!"
"Bener kata Tante Marni, Nilam harus sekolah jadi baiknya dia nggak usah ikut." kata Vandam sambil tersenyum mengingat rencananya membuat semua orang pergi dari rumah hampir berhasil.
"Pas banget gue lagi libur kerja seminggu tapi kasihan juga sama Nilam kalau ditinggal sendirian." gumam Riki lagi.
"La gimana mau nggak? Kalau enggak gue kasih ke orang lain." tegas Vandam.
Plak... Marni memukul lengan Riki, "Nggak usah banyak mikir, kapan lagi kita bisa liburan di villa seperti ini!"
__ADS_1
Riki menghela nafas panjang, "Iya bu, iya."
Riki mengambil amplop putih panjang itu, tanda jika Ia mau dengan tawaran Vandam.
"Berangkat kapan?"
"Malam ini."
Baik Marni, Anjani dan juga Riki terkejut namun mereka tetap berangkat juga.
...****************...
Nilam merasa ada yang mengusik tidurnya, menciumi pipinya. Ia mencoba menerka siapa yang berani melakukan itu sedangkan saat ini Ia sudah berada dikamar.
Setelah pulang tadi Nilam memang langsung tidur karena Ia sangat lelah dan lemas, tak peduli dengan Vandam yang masih ada dirumahnya juga Marni yang sempat berteriak memanggilnya. Ia lemas dan lelah, hanya ingin tidur.
Nilam kembali merasa ada yang mencium kedua pipinya, Ia mencoba mengabaikan dan menganggap itu hanya minpi namun semakin lama semakin terasa bahkan ada yang meremas gunung kembarnya membuat Nilam mau tak mau bangun untuk melihat siapa yang melakukan itu padanya.
"Kak..." Nilam sangat terkejut melihat Vandam berada dikamarnya, Ia melirik le arah jam dinding dan ini sudah hampir tengah malam.
"Bagaimana bisa kakak disini? bagaimana jika Kak Riki dan Ibu melihat?" panik Nilam.
Vandam malah tersenyum, "Tidak akan ada yang tahu jika aku disini."
"Bagaimana bisa seperti itu kak?" Nilan masih bingung.
"Semua orang dirumah ini pergi liburan, hanya ada kau dan aku saja."
Nilam melotot tak percaya, "Liburan? Sejak kapan mereka bisa liburan?" heran Nilam mengingat untuk makan sehari saja terkadang Ibunya harus mengutang tetangga karena hidup mereka memang sangat miskin setelah ditinggal meninggal sang Ayah.
"Aku memberinya tiket liburan agar mereka bisa pergi dari rumah karena aku ingin bersamamu selama seminggu ini nanti." ungkap Vandam namun raut wajah Nilam terlihat tak senang.
"Ada apa? Apa kau tidak senang?" tanya Vandam.
Nilam menunduk tak berani menjawab Vandam, jika boleh jujur, Nilam tidak suka dengan keadaan ini. Ia memang senang memiliki Vandam sebagai kekasihnya apalagi Vandam juga menjamin hidupnya hanya saja Ia tak suka jika harus melayani hasrat Vandam setiap saat seolah Nilam hanya dibutuhkan untuk memuaskan hasrat saja padahal Nilam ingin seperti teman teman yang lainnya, memiliki kekasih, pergi ke bioskop dan taman bermain tidak hanya bergumul dikamar melakukan hal yang seharusnya tidak Ia lakukan sebelum menikah.
"Ada apa denganmu?" Suara Vandam terdengar kesal karena Nilam tak menjawab sedari tadi.
"Apa ini artinya kita akan terus melakukan itu kak?" akhirnya Nilam mau bersuara.
Vandam mengerutkan keningnya tak mengerti,
"Melakukan seperti yang biasa kita lakukan saat bertemu." jelas Nilam yang akhirnya membuat Vandam mengerti.
"Tentu saja, kenapa? kau tidak mau?"
Nilam mengangguk lalu menunduk, tak berani menatap Vandam.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas dari Vandam, Nilam pikir Vandam akan marah namun ternyata pria itu malah memeluknya.
Bersambung...