NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
23


__ADS_3

Vandam mencoba mendekati Nilam namun langkahnya terhenti saat Nilam bangun dan menatapnya tajam.


"Pengkhianat!" ucap Nilam membuat Vandam yakin jika Nilam benar benar melihatnya bersama Anjani.


Vandam mencoba mendekat lagi dan Nilam semakin menjauh, "Semua tidak seperti yang kau lihat, ku mohon jangan salah paham sayang." rayu Vandam dengan wajah frustasi.


Nilam tersenyum sinis, "Bagaimana kau bisa mengatakan itu kak sementara aku melihatnya sendiri, kau dan Anjani sudah mengkhianati Kak Riki!"


"Tidak, tidak seperti itu. Aku tidak mengkhianati siapapun, wanita itu yang sudah menjebakku, Anjani menjebak ku!" Vandam mencoba membela diri namun Nilam terlihat tak percaya.


"Pergi Kak, pergi dari sini!" usir Nilam namun Vandam tidak pergi dan malah mencoba mendekati Nilam lagi.


"Pergi atau aku akan teriak sekarang!" ancam Nilam namun Vandam tak peduli. Ia tetap mendekati Nilam dan memeluknya.


Nilam memberontak namun Vandam tetap memeluk Nilam.


"Ku mohon jangan salah paham." ucap Vandam.


Mendengar Vandam mengatakan itu malah membuat Nilam menangis.


Sama sekali tidak ada permintaan maaf dari Vandam padahal Ia sudah menunggu sedari tadi namun pria itu hanya menjelaskan tanpa meminta maaf.


"Lepaskan aku, lepaskan aku kak." pinta Nilam namun Vandam tidak bergeming, tetap memeluknya.


Nilam merasa jijik dengan Vandam yang ternyata tidak hanya menyentuhnya namun juga menyentuh wanita lain. Ia benar benar kecewa dan benci dengan pria ini.


Vandam melepaskan pelukannya, mencoba mencium Nilam namun dengan cepat,


Plakkk... Nilam menampar Vandam dengan penuh emosi.


"Dasar pria brengsek, pergilah!" usir Nilam.


Mata Vandam memerah, Ia benar benar emosi saat ini. Nilam tak mempercayainya, Nilam membuatnya marah.


Vandam mendorong tubuh Nilam hingga jatuh ke ranjang, dengan senyuman mengerikan Ia kini sudah berada diatas Nilam yang ketakutan.


"Kau pikir kau siapa berani mengusirku, kau sama sekali tidak memiliki hak apapun untuk menolak apapun yang ku inginkan!" ucap Vandam mencoba melucuti baju Nilam.


"TOL-" belum sempat Nilam berteriak minta tolong, Vandam sudah membegap mulut Nilam memggunakan tangan besar Vandam.


Lagi... Malam itu Vandam memaksa Nilam, memperkosa Nilam. Membuat gadis itu kembali membenci Vandam untuk kedua kalinya.


Tidak lagi ada cinta, Nilam sangat membenci Vandam.

__ADS_1


Selesai memuaskan hasratnya, Vandam berbaring disamping Nilam yang menangis sesenggukan. Ia akhirnya memeluk Nilam dari belakang lalu berkata, "Jangan menangis, ku mohon."


Suara Vandam membuat Nilam benar benar benci, pria itu bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang terjadi.


"Kau brengsek kak, tidak minta maaf malah kembali memperkosaku!" ucap Nilam akhirnya mengeluarkan isi hatinya.


Vandam menghela nafas panjang, "Kenapa aku harus minta maaf sedangkan aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan."


Nilam geram, Ia berbalik dan melotot ke arah Vandam, "Bagaimana bisa kau mengatakan itu, aku melihat sendiri Anjani menghisap milikmu!"


"Apa kau cemburu?" tanya Vandam sambil tersenyum tengil.


Nilam menggelengkan kepalanya tak percaya, Pria didepannya itu benar benar gila.


"Aku akan mengadukan ini pada Kak Riki!"


Vandam malah tersenyum, "Katakan saja, aku tak sabar bagaimana respon Riki melihat adik kesayangannya ini sering tidur bersamaku."


Air mata Nilam kembali jatuh, Nilam menangis lagi, "Aku membencimu!" ucap Nilam lalu berbalik memunggungi Vandam.


Senyum Vandam memudar, entah mengapa hatinya merasa sakit mendengar Nilam mengatakan itu padahal beberapa bulan terakhir Vandam sudah berhasil meluluhkan Nilam namun dalam sekejap, gadis itu kembali membencinya.


Semua karena Anjani, ya semua karena wanita sialan itu.


Paginya, Nilam berangkat sekolah diantar oleh Vandam. Entah mengapa hari ini Ia merasa sangat lemas. Nilam merasa mungkin ini efek menangis semalam.


Tidak ada yang berbicara didalam mobil hingga mobil berhenti didepan warung bubur, barulah Nilam berbicara, "Aku tidak mau makan, aku harus sampai disekolah sekarang!"


Vandam melihat ke arah jam tangannya, belum ada jam 6, masih banyak waktu karena sekolah dimulai pukul 7 pagi.


"Sarapan dulu dan aku akan mengantarmu ke sekolah, jika tidak mau jangan harap aku akan mengantarmu ke sekolah." kata Vandam lalu keluar dari mobil.


Rasanya Nilam ingin menangis saat ini juga, Vandam benar benar pemaksa dan sangat menyiksa dirinya.


Nilam akhirnya ikut keluar dari mobil, Ia takut dengan ancaman Vandam yang tidak akan mengantarnya ke sekolah.


Ujian sekolah 2 minggu lagi, Ia tak mungkin membolos disaat seperti ini.


Dua mangkuk bubur sudah berada dimeja, Vandam segera menyantap bubur hangat itu sementara Nilam hanya mengaduk aduk buburnya.


"Makan!" ucap Vandam dengan mata melotot penuh ancaman membuat Nilam mulai menyuapkan bubur ke mulutnya.


Baru sekali suapan, Nilam merasakan perutnya mual ingin muntah.

__ADS_1


Nilam berlari ke toilet untuk memuntahkan bubur yang baru saja Ia makan.


Vandam yang geram dengan sikap Nilam pun berjalan menghampiri Nilam.


Vandam sudah emosi, Ia bersiap untuk memarahi Nilam karena Vandam pikir Nilam tidak mau sarapan dan menangis ditoilet namun Vandam dibuat terkejut saat melihat Nilam memuntahkan isi perutnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Vandam dengan raut wajah khawatir.


Nilam tak menjawab, Ia masih mencoba mengeluarkan isi perutnya yang membuatnya merasa tak nyaman.


Vandam menepuk nepuk bahu Nilam, Ia segera membawa Nilam keluar dari kedai bubur.


Setelah membayar bubur yang belum habis mereka santap, Vandam kembali ke mobil dimana Nilam duduk lemas disana.


"Kapan terakhir kau menstruasi?" tanya Vandam.


Nilam diam, mencoba mengingat. Rasanya sudah lama sekali Ia tidak menstruasi dan Ia bahkan lupa.


"Sepertinya 2 bulan ini aku tidak datang bulan, kenapa?"


Vandam malah tersenyum, Ia membawa Nilam ke klinik terdekat.


"Aku baik baik saja, tidak perlu membawaku kesini!" protes Nilam.


Vandam tidak mengubris, Ia mengangkat tubuh Nilam dan membawanya masuk ke dalam untuk diperiksa dokter yang berjaga disana.


"Bagaimana Dok?" tanya Vandam saat Dokter selesai memeriksa Nilam.


"Apa kau ini pedofil? Bagaimana bisa kau melakukan pada gadis yang masih bersekolah?" tanya Dokter wanita terlihat tak suka dengan Vandam.


Vandam menghela nafas panjang, Ia mengeluarkan dompetnya lalu memberikan 5 lembar uang ratusan pada Dokter itu.


"Jangan banyak bicara, katakan bagaimana keadaannya!"


Dokter itu tersenyum senang saat Vandam memberinya uang, "Dia hamil, jika kau ingin mengugurkan kandungannya, ada biaya yang lebih tinggi dari ini." tawar Dokter itu.


Vandam tersenyum sinis, "Aku tidak akan melakukan itu pada calon anak ku, cepat berikan resep vitamin untuk istriku!" pinta Vandam yang langsung diangguki dokter itu.


Vandam tersenyum senang, dengan kehamilan Nilam Ia bisa mengikat Nilam yang tidan akan membuat gadis itu pergi darinya.


"Aku sakit apa?" tanya Nilam saat keduanya sudah berada didalam mobil.


Vandam tidak menjawab, Ia malah memeluk Nilam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2