
Nilam merasa heran dengan Vandam, Ia bertanya Vandam malah memeluknya.
Nilam melepaskan pelukan Vandam. Pria itu terlihat senang dan bahagia saat ini.
"Katakan aku ini sakit apa?" tanya Nilam lagi.
Vandam malah tersenyum, "Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau selesai dengan ujian sekolahmu."
Nilam mengerutkan keningnya, "Kenapa? Apa penyakitku berbahaya dan mematikan?"
Vandam malah tertawa, "Tidak sayang, justru sakitmu ini membuatku senang. sekarang katakan padaku, apa yang kau inginkan?" tanya Vandam, "Apa kau ingin berlibur disuatu tempat atau makan sesuatu?" tanya Vandam lagi.
Nilam menghela nafas panjang, "Aku tidak mau pergi kemanapun, aku hanya ingin pergi ke sekolah saat ini!"
Vandam kembali tertawa, "Baiklah sayang, aku akan mengantarmu ke sekolah sekarang."
Meskipun sudah terlambat 1 jam, Nilam masih bisa masuk gerbang sekolah berkat sogokan yang diberikan Vandam untuk satpam yang berjaga didepan.
"Eh Nilam tahu nggak si Fatim bunting loh." cerita Nara teman sebangku Nilam.
"Bunting?"
"Hamil, masa elo nggak tahu bunting!"
Nilam terkejut, "Ha hamil?"
Nara mengangguk, "Pantes aja akhir akhir ini dia kelihatan lesu sama sering muntah muntah ternyata dia hamil dan parahnya lagi pacarnya nggak mau tanggung jawab. Kasihan banget kan? Padahal bentar lagi mau ujian, sekarang dia langsung dikeluarin dari sekolah sama Pak Tama."
Seketika tubuh Nilam bergetar mendengar cerita Nara.
Nilam sering melakukan hubungan dengan Vandam dan dia merasa beruntung karena sampai saat ini dia belum hamil.
"Kok Fatim bisa tahu kalau dia hamil?"
"Beli tespack Lam, di apotik. Salah dia juga sih tahu lagi ada masalah gitu ceritanya sama Nela, dia kan ember jadi kesebar deh beritanya." cerita Nara mengebu.
Nilam hanya tersenyum kecil dan mengangguk, Ia tak ingin menanggapi ucapan Nara lebih jauh lagi.
Jam pelajaran sudah dimulai sedari tadi namun pikiran Nilam melayang memikirkan tentang Fatim yang hamil duluan diusia yang masih sangat belia.
"Kalau itu terjadi sama aku, nggak bisa bayangin gimana marahnya Ibu dan kecewanya kak Riki." batin Nilam, "Sudahlah, aku nggak mau nglakuin itu lagi, toh juga Kak Vandam sudah mengkhianatiku, biarin aja kalau dia mau nglakuin sama Anjani, aku nggak peduli." batin Nilam lagi.
Sekolah sudah usai, waktunya pulang.
Nilam berjalan pelan keluar sekolahan dan Ia sempat mengintip mobil Vandam dari balik gerbang. Karena melihat Vandam ada diluar sekolah membuat Nilam berbalik dan lewat pintu belakang.
__ADS_1
Saat ini Nilam memang ingin menghindari Vandam, Ia harus bisa mengakhiri hubungannya dengan Vandam.
Sementara itu Vandam yang menunggu Nilam terlihat berkali kali melirik ke arah jam tangannya.
"Kenapa Nilam belum juga keluar padahal teman temannya hampir semua sudah keluar." gumam Vandam melihat sekolah semakin sepi.
Vandam akhirnya memberanikan diri mendekati salah satu siswa yang melewatinya,
"Dek, kenal sama Nilam?"
"Nilam kelas 3B ya kak?"
Vandam mengangguk,
"Loh bukannya udah pulang dari tadi ya?"
"Dari tadi nungguin tapi belum keluar." kata Vandam.
"Mungkin lewat pintu belakang."
Vandam terkejut,
"Duluan ya kak." kata gadis itu lalu pergi meninggalkan Vandam yang masih tak bergeming.
Dengan raut wajah kesal, Vandam memasuki mobilnya dan melajukan mobil menuju belakang sekolah.
Vandam yang kesal memukul setir mobilnya berkali kali. Saat ini Nilam sedang hamil muda, Ia hanya takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
Ia tidak ingin kehilangan Nilam juga bayinya, tidak. Ia ingin Nilam melahirkan anak dan menjadi miliknya selamanya.
Karena tak menemukan Nilam, Vandam memutuskan untuk pergi kerumah Nilam saja. Ia akan menunggu Nilam disana.
Vandam tahu jika Nilam masih marah dan tidak mau bertemu dengannya, namun dia tidak peduli itu. Vandam hanya ingin selalu bersama Nilam.
Vandan menitipkan mobilnya diluar gang dan Ia berjalan kaki sampai kerumah Nilam, dengan begini Nilam tidak akan kabur lagi karena tak melihat keberadaan mobilnya.
Dikamar Nilam, Vandam menunggu dengan khawatir berbeda dengan Nilam yang terlihat asyik menikmati rujaknya sambil duduk dibawah pohon besar yang ada ditaman dekat sekolahnya.
Jika biasanya Nilam kesini untuk berjualan, sekarang berbeda. Nilam berada disini untuk duduk santai sambil menikmati jajanan yang ada disekitar taman.
"Aku tidak akan pulang sekarang karena pasti Kak Vandam sudah menungguku dirumah." gumam Nilam kembali melanjutkan kunyahannya.
Cukup lama Nilam berada ditaman hingga waktu hampir petang dan Nilam memutuskan untuk pulang.
Saat perjalanan pulang, Nilam melewati sebuah apotik. Rasanya ragu untuk memasuki apotik itu namun karena penasaran Nilam akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke apotik, Ia ingin membeli sesuatu.
__ADS_1
"Tespack, untuk siapa?" tanya pelayan apotik menatap Nilam curiga.
"Untuk Ibu saya, titipan." bohong Nilam, jantungnya berdegup kencang karena Ia tidak pernah bohong sebelumnya.
Pelayan apotik itu langsung memberikan tespack pada Nilam, "Gunakan pagi hari saat bangun tidur." kata pelayan itu.
Nilam segera membayar dan pergi dari sana.
Nilam berjalan pelan menuju rumahnya, Ia sempat mengintip apakah ada mobil Vandam dan senyum Nilam mengembang saat melihat tidak ada mobil Vandam.
Nilam memasuki rumah, Ia langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Hanya dengan menggunakan lilitan handuk, Nilam memasuki kamarnya dan betapa terkejutnya Nilam saat melihat Vandam berbaring diranjangnya.
Pria itu langsung bersiul, tersenyum nakal ke arahnya.
Buru buru Nilam mendekati lemari untuk mengambil baju namun sayang Vandam sudah lebih dulu berdiri didepan pintu lemari, Vandam tidak membiarkan Nilam mengambil baju.
Nilam memegang kencang handuknya agar tidak terlepas.
"Dari mana saja?" tanya Vandam masih menatap Nilam dengan tatapan nakal.
Nilam hanya diam, Ia tidak ingin menjawab. Saat ini Ia berpikir untuk kabur lagi dari Vandam karena hanya itu yang bisa Ia lakukan agar terbebas dari pria pemaksa ini.
Nilam mengambil ancang ancang untuk keluar namun sayang Vandam kembali menghadangnya. Dan kali ini Vandam langsung mendorongnya hingga jatuh ke ranjang dan handuknya terlepas.
"Jangan kak, ku mohon." pinta Nilam hampir menangis.
"So seksi baby." gumam Vandam tak peduli dengan penolakan dari Nilam.
Vandam memulai permainannya, Ia kesal dengan Nilam jadi Ia harus melampiaskan dengan melakukan ini, tidak peduli Nilam menangis, Vandam benar benar tak peduli.
Setelah puas, Vandam berbaring disamping Nilam, merengkuh tubuh gadis itu.
"Katakan kau dari mana?"
Nilam hanya diam, Ia benar benar lelah dengan keadaannya saat ini.
"Tidak mau bicara hmm." Vandam meremas kasar gundukan gunung kembar milik Nilam membuat gadis itu meringgis kesakitan.
"Aku hanya duduk ditaman, aku ingin makan rujak dan duduk disana, apa masalahnya?" tanya Nilam kembali sesenggukan menangis.
Vandam melepaskan remasannya, Ia merasa bersalah lalu memeluk Nilam dan mengecup kening gadis itu.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Kali pertamanya Vandam meminta maaf padanya.
Bersambung...