
Marni baru sampai dirumah, Ia mengambil gelas lalu mengisi penuh dengan air putih dan meneguknya hingga habis.
Setelah itu Marni mengambil piring, membuka rice cooker dan masih ada sedikit nasi yang mulai mengering.
Marni mengambil semua nasi yang ada dirice cooker lalu Ia taburi dengan sedikit garam dan mulai makan.
Air matanya mulai menetes, seharusnya Ia bisa makan enak dengan lauk yang Ia beli hasil dari kerja kerasnya hari ini namun karena dijambret orang, Ia terpaksa makan seadanya padahal sudah bekerja seharian.
"Wah, Ibu makan nih." suara Riki terdengar dibelakang Marni namun Marni enggan menoleh.
"Cuma nasi? Nggak ada lauk?"
Marni hanya diam, tak mengubris ucapan Riki apalagi menatap Riki. Ia tak ingin Riki melihat dirinya menangis saat ini.
"Masa cuma makan nasi aja." omel Riki lalu pergi meninggalkan Ibunya.
Marni mengepalkan tangannya melihat putra yang Ia banggakan dan harapkan selama ini malah menjadi seperti itu.
Seharusnya Riki bekerja dengan baik agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Marni namun Riki malah tak melakukan itu, tidak seperti yang Marni harapkan.
Selesai makan, Marni melihat cucian piring dan baju kotor yang menumpuk namun Marni mengabaikan itu semua. Ia sudah lelah dan ingin istirahat.
"Jika saja Nilam ada disini, aku tak mungkin melakukan pekerjaan hina hingga berakhir sial seperti itu, rasanya aku menyesal membiarkan Nilam pergi!" umpat Marni lalu berbaring diranjangnya.
"Rasanya enak sekali, seharian ini aku bekerja sangat keras, tubuhku rasanya mau remuk!"
Sementara itu Riki berjalan keluar rumah, Ia menstater motornya dan segera melajukan motornya untuk mencari makan malam.
"Aku benar benar kelaparan." gumam Riki berniat membeli nasi goreng pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya.
"Nasi goreng biasa ya Bang." pinta Riki pada penjual nasi goreng langganannya itu.
"Oke siap, duduk dulu."
Sembari menunggu nasi gorengnya, Riki duduk diatas motornya sambil menghisap rokoknya.
Disamping penjual nasi goreng ada restoran masakan china yang cukup terkenal enak namun Riki belum pernah sekalipun masuk ke sana.
Riki menatap ke arah restoran itu, tak sengaja Ia melihat gadis yang tak asing, bahkan sangat Ia kenali.
"Anjani..." gumam Riki melihat Anjani keluar dari restoran bersama seorang pria paruh baya.
"Apa itu Ayahnya? Tidak mungkin Ayah Anjani sudah meninggal." batin Riki lalu memutuskan untuk menghampiri Anjani, melihat Anjani begitu mesra dengan pria paruh baya itu.
"Jani..." panggil Riki membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Anjani yang baru ingin memasuki mobil pun terkejut dan kedua mata Anjani langsung melotot.
__ADS_1
"Ri riki..."
"Ayolah baby, aku ada urusan setelah ini." suara pria paruh baya yang sudah lebih dulu memasuki mobil terdengar jelas ditelinga Riki.
"Baby? Apa maksudnya ini?" Riki sudah mulai emosi.
Wajah Anjani terlihat pucat dan takut membuat Riki yakin jika ada sesuatu diantara Anjani dan pria tua itu.
"Aku... Aku..."
"Jangan katakan lagi, aku sudah mengerti." kata Riki berbalik tak ingin mendengar penjelasan dari Anjani.
"Aku butuh uang dan kamu tidak memberiku uang!" teriak Anjani
Riki kembali berbalik dan tersenyum sinis, "Baiklah, lakukan apapun yang kau mau untuk mendapatkan uang, kita selesai!"
Anjani menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak mau kita selesai. Aku tidak mau kita putus!" teriak Anjani.
Riki tidak memperdulikan teriakan Anjani, Ia kembali berjalan meninggalkan Anjani. Hatinya sangat sakit dan hancur melihat gadis yang Ia cintai menjual diri hanya karena uang.
"Nasi gorengnya bungkus aja ya bang." pinta Riki merasa Ia sudah tidak nafsu makan lagi.
Penjual nasi goreng itu menatap Riki heran namun akhirnya mengangguk juga, membungkus nasi goreng pesanan Riki.
Riki menatap ke arah restoran, sudah tidak ada Anjani dan pria tua yang memiliki mobil mewah itu lagi.
Didalam mobil, Anjani diam sambil menatap luar kaca, Ia sangat sedih saat ini.
"Apa pria tadi kekasihmu?" tanya Om Frans, pria hidung belang yang sering memesan jasa Anjani.
Anjani hanya mengangguk.
"Untuk apa kau memikirkan pria miskin seperti itu, buang saja dia. Aku memiliki banyak teman pria yang mungkin akan menyukaimu." kata Om Frans dan Anjani hanya diam saja.
"Setelah ini ikutlah denganku, kita akan bertemu dengan teman temanku dan kau akan mendapatkan banyak uang." kata Om Frans.
"Tidak Om, sepertinya cukup untuk hari ini. Aku ingin segera pulang." balas Anjani.
"Tidak bisa, kau harus tetap ikut!" paksa Frans.
Anjani hanya menghela nafas panjang, menolak pun juga percuma karena Frans tetap memaksa lagipula Ia juga sedang butuh uang banyak saat ini.
Mobil Frans berhenti disebuah hotel berbintang yang sangat mewah dan tentunya mahal.
Frans merangkul Anjani membawa gadis itu memasuki satu kamar yang sudah dipesan oleh teman Frans.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam suit class room, Anjani terkejut karena didalam sana tidak hanya ada 1 pria namun 4 pria paruh baya yang menatap ke arahnya nakal.
"Wow, sangat beautiful." puji salah satu pria lalu berdiri dan mendekati Anjani.
Jujur Anjani saat ini merasa jijik dan takut namun Ia juga tak mungkin berbalik untuk pulang karena sudah terlanjur berada disini.
"Siapa yang lebih dulu mencoba?" tanya Pria yang berdiri.
"Bagaimana kalau kita semua langsung." kata Frans membuat Anjani terkejut.
"Kau gila Om!" Sentak Anjani.
"Ayolah baby, ini hanya permainan. Kau akan mendapatkan uang yang banyak dari kami." kata Frans.
Anjani menggelengkan kepalanya, Ia berbalik dan hendak keluar namun Frans dan satu temannya menahan tangannya.
"Lepas!" pinta Anjani mencoba melepaskan diri namun sayang tenaga kedua pria itu lebih kuat dari Anjani.
Kelima pria itu akhirnya bekerja sama untuk membuat Anjani tidak bisa kabur lagi dengan mengikat kedua tangan Anjani diranjang.
"KALIAN GILA!" teriak Anjani sangat ketakutan.
"Tenanglah Baby, nikmati saja permainan kami." kata Frans.
Kelima pria itu mulai mengeluarkan senjatannya masing masing, menggilir Anjani satu persatu bahkan ada yang tak sabar menunggu hingga menggunakan mulut Anjani untuk memuaskan senjatanya.
Anjani benar benar kelelahan dan merasa hina. Tubuhnya dipermainkan lima orang pria paruh baya tanpa henti hingga Anjani tak tahan lagi dan pingsan.
Anjani membuka matanya setelah terik matahari dibalik gorden menyorot ke wajahnya.
Ia bangun dan merasakan seluruh tubuhnya remuk karena perbuatan kelima pria itu bahkan bau air liur kelima pria itu masih menempel diseluruh tubuhnya.
"Benar benar menjijikan!" umpat Anjani lalu menangis.
Disamping Ia duduk ada satu lembar cek dan satu lembar note.
Kau sangat pandai memuaskan kami, lain kali kami akan menggunakan jasa mu lagi pelacur kecil.
Anjani meremas note itu lalu membuangnya ke lantai.
"Aku tidak sudi bertemu dengan kalian lagi!"
Anjani mengambil ceknya, Ia pikir akan mendapatkan banyak uang namun salah, hanya 10juta nominal yang Ia dapatkan.
"Brengsek! Apa mereka gila!''
__ADS_1
Bersambung...