NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
45


__ADS_3

Nilam memulai kelasnya namun tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran karena pikirannya masih mengingat kejadian semalam.


Ia menatap ke arah Fandi yang ada didepannya, menuduh pria itu yang datang semalam namun seketika Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak, sepertinya tidak mungkin." Motor yang digunakan semalam bukan motor Fandi.


Nilam kembali menatap ke arah dosen, mencoba menebak lagi, "Mungkinkah pencuri? Tapi tidak barang yang hilang, lalu siapa?"


"Nilam, jika kau tidak mau ikut kelasku, keluar saja!" suara dosen terdengar galak membuat Nilam tersadar dari lamunannya apalagi semua orang yang berada dikelas kini menatap ke arahnya.


"Bu bukan begitu Bu, saya..."


"Kamu pikir saya tidak tahu jika sedari tadi kau hanya melamun!" sentak Bu Melati dosen yang terkenal killer.


"Keluar!" usir Bu Melati.


Dengan lesu, Nilam akhirnya keluar dari kelas Bu Melati.


Nilam berjalan menuju kantin untuk membeli minuman.


Nilam meneguk setengah air mineral yang baru Ia beli, Ia sudah tidak mood mengikuti kelas dan akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Kok tumben pulang awal mbak?" heran Nisa saat Nilam memasuki toko.


"Iya, lagi males."


Nisa tersenyum, "Ada masalah mbak?"


Nilam mengangguk, "Semalam Aku lihat ada yang naik ke balkon kamar, pria naik motor."


Sontak Nisa terkejut, "Jangan jangan maling mbak."


Nilam menggelengkan kepalanya, "Nggak ada barang yang hilang Nis."


Nisa berdecak, "Kalau gitu pasang Cctv aja mbak." saran Nisa.


Tanpa ragu dan tanpa berpikir panjang, Nilam menerima saran dari Nisa dan langsung menghubungi orang yang bisa memasang kamera cctv dikamarnya.


Malamnya, Nilam sudah mengunci semua jendela dan pintu dan Ia segera memejamkan mata karena kantuk dan rasa lelah yang sudah menyerang.


Nilam kembali bangun ditengah malam, Ia penasaran apakah pria semalam masih datang dan saat Ia membuka laptop yang menyambung ke Cctv, Nilam terkejut karena baru saja pria itu datang lagi.


"Baru beberapa menit yang lalu." gumam Nilam melihat gerak gerik pria itu. Apa yang Ia lakukan dikamarnya.


"Sial, aku tidak bisa melihat wajahnya." umpat Nilam karena pria itu memakai topi.


Semakin lama melihat pria itu, Nilam merasa mengenal pria itu. Apalagi tubuh pria itu hampir mirip dengan seseorang dimasa lalunya.


"Tidak, tidak mungkin dia..."


Nilam masih melihat ke layar laptopnya. Tidak ada yang dilakukan pria itu. Dia hanya berdiri dan melihat ke arahnya.


Semakin lama, Nilam menjadi takut dan akhirnya menutup laptopnya.


Nilam terdiam cukup lama, entah apa yang Ia pikirkan.

__ADS_1


Dimalam berikutnya, Nilam bergegas untuk tidur.


Namun kali ini Nilam tidak benar benar tidur, Ia hanya pura pura tidur karena ingin menangkap basah pria yang datang ke kamarnya.


Tepat tengah malam, Nilam mendengar suara tapak kaki di balkon kamarnya dan klik... Suara pintu terbuka yang membuat Nilam terkejut, jika pria itu bisa membuka pintu kamarnya itu sama saja dia memiliki kunci cadangan.


Suara tapak kaki semakin mendekat bersamaan dengan degup jantung Nilam semakin kencang.


Satu detik dua detik Nilam akhirnya membuka matanya.


Saat ini tidak hanya Nilam yang terkejut namun juga pria itu.


Tanpa mengatakan apapun pria itu berbalik, hendak pergi tanpa sepatah katapun namun dengan cepat Nilam menahan tangannya.


"Apa yang kau lakukan?"


Pria itu tersenyum, "Bodoh sekali aku ketahuan."


Nilam mengerutkan keningnya, "Kau.... Sering kesini."


Lagi lagi pria itu memperlihatkan senyum manisnya, "Aku hanya memastikan keadaanmu baik baik saja." kata pria itu lalu melepaskan tangan Nilam dari lengannya dan segera pergi.


Nilam masih berdiri ditempatnya, menatap punggung pria yang Ia kenali itu. Ucapan pria tadi terngiang ngiang ditelinganya Aku hanya memastikan keadaanmu baik baik saja.


"Jadi selama ini yang sering membantuku... Dia?"


...****************...


Vandam memasuki club malam peninggalan Arga. Ya setelah menikah dengan Sarah, Arga memang melepaskan semua bisnis mafianya. Arga ingin fokus dengan keluarga kecilnya dan semua bisnis diberikan pada Vandam.


Vandam duduk diruangannya, beberapa anak buahnya ikut masuk untuk memberikan laporan pada Vandam.


"Semua aman terkendali Bos." lapor salah satu anak buah Vandam.


"Pastikan tidak ada yang membawa narkoba dari luar, aku tidak mau club bermasalah hanya karena barang haram itu!"


"Baik Bos."


Beberapa anak buah Vandam sudah keluar, kini tinggal Nevan, anak buah kepercayaan Vandam yang masih berada diruangan.


"Bos tentang gadis itu-"


"Awasi saja, pastikan dia aman." potong Vandam.


"Tapi bos, ada satu pria yang berusaha mendekati gadis itu, saya sudah memeriksa nama pria itu Fandi dia-"


"Apa dia berbahaya?" Vandam kembali memotong ucapan Nevan.


Nevan menggelengkan kepalanya, "Sejauh ini tidak Bos, hanya saja dia anak dari pemilik club sebelah."


Vandam mengangguk, "Awasi saja terus, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera lapor padaku!"


"Baik bos."

__ADS_1


Vandam menuangkan minuman alkohol hingga memenuhi gelasnya. Ia langsung meneguk hingga habis.


Mendadak kepalanya berdenyut pusing mengingat Nilam yang sudah 2 tahun lamanya berpisah dengannya.


"Aku bahkan lupa bagaimana rasanya bercinta dengan gadis itu." gumam Vandam lalu tersenyum.


Sementara ditempat lain, pemilik club malam saingan Vandam terlihat memasuki ruangannya.


Brama, pria paruh baya yang memiliki banyak club malam dan bisnis hitam saingan Arga.


"Arga sudah pensiun, kenapa club malamnya malah semakin maju?" tanya Brama pada salah satu anak buahnya.


"Arga sudah memberikan club malam pada anak buahnya Tuan dan dia sangat pintar mengelola club malam itu."


"Sial, jadi dia saingan baru ku?"


"Benar Tuan." balas anak buah Brama.


"Cari tahu informasi tentang pria itu dan pastikan juga kau mendapatkan kelemahannya agar kita bisa menghancurkan pria itu!"


"Baik Tuan."


Brama tersenyum puas, Ia meneguk segelas whisky yang baru saja Ia tuang.


Pintu ruangan terbuka, 3 orang gadis cantik memasuki ruangan. Mereka gadis pilihan yang akan menemani Brama malam ini.


"Kalian benar benar masih perawan?"


ketiga gadis itu mengangguk malu.


Brama berdiri, bersiap menghampiri para gadis cantik itu, "Ck, aku benar benar mendapatkan jackpot malam ini. Mari kita habiskan malam ini dengan permainan hangat."


Baru ingin memulai permainannya, Ponsel Brama berdering membuat pria paruh baya itu berdecak kesal dan menghentikan permainannya.


"Ada apa?" tanya Brama malas setelah tahu jika yang menelepon Fandi, putra semata wayangnya.


"Apa yang kau katakan?" Brama terdengar emosi.


"Kau ini benar benar pembuat masalah! Baiklah aku akan kesana sekarang!"


Brama merapikan bajunya lalu keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun pada ketiga gadis yang menatap ke arahnya bingung.


"Tuan mau kemana?" tanya anak buah Brama yang berjaga dipintu.


"Fandi membuat masalah lagi!"


Seolah sudah mengerti, Anak buah Brama membuka pintu mobil untuk Brama lalu melajukan mobilnya menuju lokasi tujuan.


Bersambung....


Minal aidin wal faizin buat semua readerku...


Maaf lahir batin yaaa... Maaf kalau akhir2 ini lama updatenya hehe

__ADS_1


Habis ini gass lagi, semangat nulis lagi hehe


__ADS_2