
Marni tersenyum senang saat melihat mobil Vandam sudah melaju meninggalkan rumah. Ia bahkan melambaikan tangannya pada Nilam yang tidak melihatnya.
Marni segera masuk, melihat Riki masih duduk disofa, Ia pun kembali mendekat dan memukuli Riki.
"Sekarang katakan, kau gunakan untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Marni tak sabar, Anjani pun ikut menunggu jawaban.
"Itu ehm, itu sebenarnya aku..."
"Katakan dengan cepat dan jelas!" sentak Marni.
"Baiklah baiklah, aku kalah main judi jadi aku terpaksa-"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya Riki kembali mendapatkan pukulan bertubi tubi dari Marni dan Anjani.
"Dasar anak nakal, bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh seperti itu. hidupku benar benar sial memiliki anak sepertimu!" umpat Marni sangat kesal.
"Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi Bu, berhentilah marah." pinta Riki terlihat menyesal apalagi melihat wajah kecewa Anjani membuatnya semakin menyesal melakukan hal bodoh itu.
Semua bermula dari ajakan temannya untuk main judi online. Awalnya Riki memenangkan uang 10juta, dengan kemenangan diawal itu membuat Riki ingin main lagi lagi dan lagi hingga akhirnya Ia kalah. Karena penasaran Riki masih main judi meskipun sudah kalah dan uangnya habis hingga Ia tak ada pilihan lain selain meminjam uang pada seorang rentenir yang berakhir dengan bunga banyak hingga hutangnya menjadi 100 juta.
Riki merasa frustasi, tidak bisa mengembalikan uang itu, Ia menceritakan pada Vandam. Waktu itu Vandam tidak memberinya solusi, hanya mendengar cerita saja dan hari ini, Vandam memberinya solusi, ya meskipun Ia harus kehilangan adik tirinya.
"Jika kau terlilit hutang lagi, aku akan benar benar mengusirmu!" ancam Marni.
"Tidak Bu, Aku tidak akan melakukannya lagi."
Sementara itu, Vandam dan Nilam masih berada didalam mobil, jaraknya lumayan jauh harus ditempuh 3 jam lamanya.
Sepanjang perjalanan, Nilam hanya diam dan asyik memandangi keluar, sama sekali tidak menatap Vandam yang sedari tadi mencuri curi pandang disela fokus menyetir.
"Apa yang Riki katakan padamu?" tanya Vandam memulai pembicaraan.
Nilam diam, tidak menjawab.
"Jika kau hanya diam saja mungkin Tuanku akan mengira kau ini bisu." kata Vandam namun Nilam masih tetap diam.
"Dan jika Tuanku merasa kau bisu, bisa bisa dia batal memperkerjakanmu." kata Vandam lagi dan Nilam masih kukuh untuk diam.
"Kau ku bawa lagi pulang kerumah dan Riki akan dipenjara karena tidak bisa membayar hutang." Kata Vandam tak menyerah.
Mendengar kata Riki membuat Nilam berbalik menatap Vandam yang tersenyum tengil, "Apa kau tidak memiliki gadis lain? Kenapa harus aku? Aku benar benar sudah muak denganmu!" omel Nilam dengan berani.
Vandam malah tersenyum santai, "Sayangnya hatiku sudah penuh dengan namamu."
__ADS_1
"Kau bisa membawa Anjani jika mau, dia akan sangat welcome padamu apalagi kau sangat kaya!"
"Anjani? maafkan aku baby, aku tidak menerima barang bekas." balas Vandam masih terdengar santai.
"Kau menyebutnya barang bekas tapi kau tidur dengannya, menjijikan!"
Kepala Vandam berdenyut mendengar ucapan Nilam, gadis ini masih saja salah paham tentang waktu itu, "Kau benar benar sudah salah paham, aku sama sekali tidak pernah tidur dengan Anjani!"
"Omong kosong!"
Vandam menghela nafas panjang, jika berdebat masalah ini tidak akan selesai, "Besok aku akan mengurus segala sesuatunya dan kita akan segera menikah."
"AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU!" teriak Nilam sangat kencang hingga membuat Vandam terkejut.
Vandam menghentikan laju mobilnya, Ia menatap Nilam penuh amarah. Vandam tidak suka, sangat tidak suka jika ada yang berani berteriak padanya seperti ini apalagi yang berteriak Nilam.
Vandam mengangkat tangannya, Ingin membungkam mulut Nilam namun seketika Ia tarik kembali tangannya.
"Kenapa? Tampar saja aku! Pukul saja aku! Tapi Ingat, aku tidak sudi menikah denganmu!"
Vandam menghela nafas panjang lalu tersenyum, "Baiklah, jika kau menolak menikah denganku mungkin kau lebih suka menjadi pelacurku." kata Vandam lalu kembali melajukan mobilnya.
Tidak ada yang berbicara lagi, keduanya sama sama diam hingga mereka sampai dibasement apartemen Arga.
Nilam masih diam dan mengikuti langkah kaki Vandam hingga mereka sampai disebuah pintu.
Vandam mengetikan beberapa angka dan pintu terbuka. Vandam masuk diikuti oleh Nilam.
Nilam memandangi ruangan apartemen yang sangat bagus dan mewah, lebih mewah dari apartemen Vandam yang ada dikota kelahirannya.
Nilam masih mengikuti langkah kaki Vandam hingga Nilam melihat ada pria berbadan kekar, duduk dibalkon apartemen, mata pria itu menatap fokus laptopnya tak memperdulikan kehadirannya dan Vandam.
"Tuan..." sapa Vandam membuat pria itu akhirnya mendongak menatap ke arah Vandam lalu tersenyum.
Saat Nilam menatap wajah pria yang dipanggil Tuan itu seketika jantung Nilam berdegup kencang, wajahnya sangat tampan meskipun ada bekas goresan diwajahnya tapi pria itu benar benar sangat tampan.
"Kau berhasil membawanya?" tanya Arga terlihat senang.
Vandam mengangguk lalu berjalan mundur agar Arga bisa melihat Nilam dengan jelas.
"Siapa namamu gadis muda?" tanya Arga dengan suara lembut.
"Sa saya Nila Tuan." bibir Nilam bergetar.
__ADS_1
"Nila?" Tanya Arga sekali lagi terlihat ragu dan Nilam segera mengangguk.
"Namanya Nilam bukan Nila." protes Vandam.
"Biarkan saja biarkan, mungkin dia ingin dipanggil Nila." kata Arga yang langsung diangguki Nilam.
"Kau resmi bekerja disini mulai hari ini, pekerjaanmu tidak berat, hanya memasak saja dan untuk bersih bersih serta mencuci baju, aku sudah mencari orang lain untuk melakukannya."
"Baik Tuan." Nilam mengangguk mengerti.
"Ya sudah, istirahatlah. Kau mulai bekerja besok pagi saja." kata Arga.
Vandam mengandeng tangan Nilam, mengajaknya ke kamar.
"Ini kamar kita." kata Vandam.
"Kita?" Nilam seolah tak mau satu kamar dengan Vandam.
"Tentu saja, apartemen ini hanya ada 2 kamar jadi kita harus 1 kamar."
Nilam terdiam, Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Vandam pasti berusaha menguasainya.
Vandam membuka tas Nilam lalu menata semua baju Nilam ke dalam lemarinya.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Nilam merebut tasnya namun gagal karena tenaga Vandam lebih kuat.
"Ada hal lain yang lebih penting dari ini yang harus kau lakukan." kata Vandam tersenyum nakal.
"Hal apa?"
Vandam diam, Ia masih sibuk menata baju Nilam dan selesai menata baju, Vandam memeluk Nilam membawa gadis itu ke ranjang.
Vandam siap menerkam Nilam namun usahanya terhenti saat Nilam menampar dan menatapnya tajam.
"Apa kau gila? Aku bahkan belum sembuh!" umpat Nilam terdengar emosi.
Vandam tersadar jika Nilam baru saja keguguran, seketika Ia mengumpat, "Sial, aku lupa."
Vandam beranjak dari ranjang lalu merapikan bajunya.
"Alu harus bekerja keluar bersama Tuan Arga, jika kau lapar masaklah, ada bahan dikulkas." kata Vandam lalu keluar meninggalkan Nilam.
"Dia pikir aku peduli!"
__ADS_1
Bersambung...