NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
13


__ADS_3

Riki masih menunggu jawaban Nilam, Ia ingin Nilam mengakui jika Nilam memiliki kekasih saat ini namun nyatanya adiknya masih belum mau mengakui jika sudah memiliki kekasih dan memilih untuk tetap diam. Namun melihat wajah Nilam yang merona dan tersenyum malu, bisa dipastikan jika Nilam memiliki seseorang yang Ia sukai saat ini.


"Apa kau akan terus menyembunyikan padaku? Aku janji tidak akan mengatakan pada Ibu." kata Riki mengacungkan dua jarinya.


Nilam tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak kak, aku tidak memiliki pacar, aku tidak bohong." kata Nilam.


Riki berdecak, "Aku tidak percaya, lalu apa kau memiliki seseorang yang kau sukai atau mungkin sedang dekat denganmu?" tanya Riki lagi dan sungguh itu membuat Nilam tak nyaman apalagi Nilam takut jika Ia keceplosan mengatakan jika Ia sedang dekat dengan Vandam, bisa bisa kakak tirinya itu khawatir.


"Tidak kak, aku tidak dekat dengan siapapun, sudahlah Nilam mau lanjutin bikin donat." ucap Nilam lalu pergi meninggalkan Riki yang masih belum puas mendengar jawaban dari Nilam.


Riki menghampiri Nilam, kini Ia duduk disamping Nilam, "Sebelum Ayah meninggal, Ayah pernah pesen sama Kakak buat jagain Kamu, jadi kalau ada masalah apapun jangan sungkan cerita sama Kakak ya?"


Deg... Rasanya dada Nilam sesak mendengar pengakuan Riki, Ia tak menyangka Ayahnya pernah berpesan seperti itu, pantas saja Riki sangat sayang dan perhatian padanya ternyata karena pesan dari Ayahnya.


"Maaf ya Kak kalau pesan Ayah bikin Kak Riki repot." Nilam tertunduk lesu.


Riki tersenyum, "Ini udah kewajiban Kakak, setelah Ibuku nikah sama Ayahmu, kita ini saudara dan tentu kakak harus nglakuin ini Nilam. Jujur Kakak cuma nggak mau kamu salah jalan, salah temen sampai kena pergaulan bebas tapi kakak percaya kamu nggak akan kayak gitu kan?"


Nilam tersenyum masam, rasanya Ia telah berdosa pada Riki karena kenyataannya Ia tidak sebaik yang Riki ucapkan.


Nilam sudah ternoda, Nilam sudah kotor dan semua itu karena Vandam.


"Ya sudah kalau begitu, Kakak masih ada kerjaan. jangan lupa buat cerita sama Kakak apapun masalah kamu." kata Riki sekali lagi yang langsung diangguki oleh Nilam.


Riki beranjak dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Nilam.


Nilam menghela nafas panjang, disatu sisi Nilam sangat ingin membenci Vandam yang sudah merusak hidupnya namun di sisi lain, Vandam sangat baik serta perhatian padanya membuat Nilam luluh mengurangi rasa bencinya.


Hari hari berlalu...


Setiap hari saat Nilam berjualan ada saja orang yang memberi makan siang untuk Nilam, membuat Nilam curiga jika sebenarnya orang yang memberi makan Nilam itu adalah suruhan dari Vandam, namun orang orang itu berbeda setiap harinya.

__ADS_1


Pernah sekali Nilam menolak makanan dari salah seorang yang memberi makanan pada Nilam namun berakhir Nilam mendapatkan omelan dari si pemberi makan.


Dan karena itu, Ia kini tidak merasa kelaparan lagi apalagi masih ada stock cemilan di rumah, penderitaannya sedikit berkurang.


Siang ini ada yang memborong donatnya lagi membuat Nilam semakin senang karena pulang lebih awal lagi. Lagi dan lagi ada orang yang memborong donatnya setiap hari.


"Uangnya pas dan aku bisa segera pulang." gumam Nilam selesai menghitung uangnya lalu bersiap untuk pulang.


Nilam berjalan kaki untuk pulang kerumah dsn kali ini Ia merasa ada yang mengikutinya lagi. berkali kali Nilam berbalik namun tidak ada siapapun dibelakangnya.


"Apa mungkin Ibu lagi? Tapi sejak kemarin Ibu bahkan sudah tidak mengikutiku lagi." batin Nilam mempercepat langkah kakinya.


Nilam berjalan semakin cepat hingga langkah kakinya terhenti saat ada seorang pria berbadan kekar yang menghadang jalannya.


"Halo manis..." sapa Pria itu menatap Nilam nakal.


Nilam melihat ke sekitar, jalanan sepi karena memang jarang yang lewat jalan pintas ini. Nilam lewat jalan ini agar cepat sampai rumah namun apesnya Ia malah dicegat oleh preman menakutkan ini.


"Anda siapa? Ada urusan apa dengan saya?" tanya Nilam dengan bibir bergetar. Nilam sudah ketakutan saat ini.


Nilam berbalik dan berusaha kabur namun sayang rambut panjang yang Ia kuncir dicekal oleh pria itu membuatnya jatuh.


"Kau sendiri yang memberikan uangnya atau ku rebut sekarang!" kata Pria itu kasar.


"Jangan, tolong jangan. Saya bisa dimarahi Ibu saya jika pulang tidak membawa uang. Tolong kasihani saya." ucap Nilam dengan tangan memohon.


"Aku tidak peduli, cepat berikan uangnya!" sentak pria itu lagi.


Nilam memeluk erat tas selempang miliknya yang berisi uang, Ia tidak akan membiarkan uang hasil kerja kerasnya saat ini dirampas oleh pria itu.


"Ck, kau memang minta ku pukul ya!" kata Preman itu hendak merebut tas Nilam namun gerakannya terhenti kala ada seseorang yang bersiul lalu menipuknya dengan batu kecil.

__ADS_1


"Wah ada apa ini." ucap pria bertato yang sama seramnya dengan preman yang menindas Nilam.


"Siapa Lo? Macem macem ama gue!" sentak premam itu pada pria yang baru saja datang.


Pria itu tersenyum, "Gue Joni dan ini wilayah gue. Lo masuk ke wilayah gue trus mau ambil duit bocah ini?" tanya pria itu yang langsung membuat preman tadi diam.


"Kalau Lo mau ngrampas duit diwilayah gue harusnya Lo ijin dulu ke gue." kata pria bernama Joni itu.


"Sorry, gue nggak tahu." preman itu akhirnya kembali berbicara.


Joni tersenyum sinis, Ia mendekati preman itu dan bugh... Bugh... Bugh...


Joni memukuli preman itu tanpa ampun, "Sekali lagi Lo cari masalah disini, gue pastiin Lo pulang tinggal nama!" ancam Joni yang membuat preman itu ketakutan dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Nilam masih memeluk tasnya, Ia menatap takut ke arah Joni karena Joni juga preman sudah pasti jika Joni juga akan merampas uangnya.


"Mulai besok jalan lewat sini, carilah jalan lain yang aman untuk dilewati." kata Joni lalu pergi meninggalkan Nilam membuat Nilam melonggo tak percaya.


"Aku selamat, aku selamat." gumam Nilam tersenyum senang lalu berlari segera pergi dari sana.


Nilam sampai dirumah dan langsung memberikan semua uangnya pada Marni.


"Akhir akhir ini kau pulang lebih awal dan selalu habis." cibir Marni setelah menghitung uang hasil jualan dan pas.


"Ya Bu, aku juga tidak tahu, semakin banyak yang menyukai donat buatanku." balas Nilam dengan raut wajah senang.


"Bukan karena ada bekingan dari kekasihmu yang kaya raya itu?" tuduh Marni.


"Tidak ada Bu, aku benar benar tidak memiliki kekasih." Nilam meyakinkan Marni.


Marni berdecak, "Karena kau pulang lebih awal, cuci semua baju kotorku. Aku ada urusan sekarang!" perintah Marni lalu meninggalkan Nilam.

__ADS_1


Nilam hanya bisa menghela nafas panjang, "Padahal aku senang pulang lebih awal karena bisa segera istirahat."


Bersambung....


__ADS_2