NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
26


__ADS_3

Nilam masih memandangi Riki, Ia benar benar tak rela jika pria sebaik Riki harus memiliki pasangan seperti Anjani. Mereka berdua tidak cocok. Anjani tidak sebaik itu, Anjani wanita murahan.


Baru ingin berbicara lagi dengan Riki, gadis yang tak disukai Nilam datang kerumah, gadis yang tak lain adalah Anjani.


"Sayang, mana oleh oleh untuk ku?" tagih Anjani langsung memeluk Riki tanpa malu padahal ada Nilam disana dan lagi saat ini mereka sedang berada diluar rumah.


"Aku tidak punya uang jadi aku tidak membelikan apapun untukmu, maafkan aku." ucap Riki merasa tak enak.


Anjani langsung memanyunkan bibirnya, Ia melihat Nilam dan langsung menatapnya tak suka, "Pasti kau membelikan oleh oleh untuk adik sialanmu ini!" omel Anjani.


"Dia juga tidak mendapatkan apapun sayang, percayalah." kata Riki.


Nilam yang kesal memilih pergi dari duduknya tanpa mengatakan apapun.


"Lihatlah, dia bahkan tidak sopan!" omel Anjani lagi yang masih bisa didengar oleh Nilam.


"Sudah, berhentilah mengomel. Lebih baik ceritakan padaku apa yang kau lakukan disini hingga membatalkan liburan kita?" tanya Riki seketika membuat Anjani gugup.


"Aku tidak melakukan apapun yang aneh, aku hanya bekerja seperti biasa."


"Benarkah?" Vandam menatap Anjani curiga namun seketika Ia tertawa membuat Anjani terkejut, "Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius." ucap Riki lalu mengelus kepala Anjani.


Anjani menghela nafas lega, selama ini Riki tidak tahu betapa nakalnya Anjani dibelakang Riki dan Anjani juga tidak mau Riki tahu.


Sementara didalam kamar, Nilam merasa sangat kesal dengan Anjani. Wnaita itu benar benar ular, bagaimana bisa dia mendekati 2 pria sekaligus seperti ini.


Tidak, Nilam tidak akan membiarkan ini terjadi, Ia harus menyelamatkan Riki dari gadis ular itu.


Nilam keluar memakai dress yang dibelikan oleh Vandam. Ia kembali ke tempat dimana Riki dan Anjani sedang bercanda disana.


"Kak, terimakasih baju yang kakak belikan sangat bagus." ucap Nilam sambil memamerkan dress floral yang sangat cantik itu.


Riki tampak melonggo kebingungan sementara mata Anjani langsung saja melotot, Ia bahkan memukuli Riki.


"Benar kan, kau membelikan baju untuk adikmu sementara aku tidak! Kau benar benar jahat!" kata Anjani terus memukuli Riki hingga Riki menahan tangan Anjani agar berhenti memukulinya.


"Stop it Anjani, aku tidak pernah membelikan baju Nilam." Kata Riki lalu beralih menatap Nilam, "Dan kau Nilam, apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak merasa membelikan baju itu!" sentak Riki. Kali pertamanya Riki membentak Nilam seperti ini.


Anjani masih terlihat marah, Ia tidak lagi memukuli Riki namun berbalik menghampiri Nilam, "Lepas, lepaskan baju ini sekarang! Kau sama sekali tak berhak memakai baju ini!" ucap Anjani sambil menarik narik baju yang dipakai Nilam.


Nilam melawan, Ia mendorong Anjani hingga jatuh ke lantai.


"NILAM!" bentak Riki lagi.


Tanpa mengatakan apapun, Nilam kembali masuk ke dalam rumah, Ia kini mengunci dirinya dikamar.


Brak... Brak... Suara pintu kamar Nilam digedor dari luar.


"Nilam buka pintunya, masih bajunya ke gue!" teriak Anjani dari luar kamar sambil terus mengedor pintu kamar.

__ADS_1


Nilam yang merasa geram akhirnya melepas dress yang Ia pakai lalu membuka pintu dan melempar dress itu tepat mengenai wajah Anjani, setelah itu Nilam kembali mengunci pintu kamarnya.


"Sialan, awas aja keluar gue bunuh Lo!" umpat Anjani.


Riki yang melihat hanya bisa diam, pusing kepalanya jika Anjani dan Nilam bertengkar seperti ini.


"Bisa bisanya kamu kasih baju sebagus ini ke Nilam!" omel Anjani lagi pada Riki.


Riki benar benar frustasi, tak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan pada Anjani dan lagi kenapa juga Nilam harus mengatakan hal seperti itu pada Anjani, membuat masalah saja.


...****************...


Seharian dikamar, Nilam menyadari semua kesalahannya. Tidak seharusnya Ia ikut campur dengan urusan Riki.


Anjani memang ingin menyelamatkan Riki dari wanita ular seperti Anjani namun sepertinya cara yang Ia lakukan justru membuat Riki marah padanya.


Sejak kejadian siang tadi, Riki tampak acuh dan mendiamkan Nilam.


Selesai makan malam, Nilam memberanikan diri menghampiri Riki yang tengah merokok diluar.


"Kak..." panggil Nilam namun Riki hanya diam tak menjawab.


"Maafin Nilam ya Kak." ucap Nilam dengan suara serak seolah akan menangis.


Riki menghela nafas panjang, Ia memang kesal dengan Nilam namun melihat Nilam hampir menangis membuat Riki tak tega.


"Besok lagi jangan lakukan hal seperti itu Nilam, kakak nggak suka!"


"Ya sudah sana tidur, besok kamu harus ujian sekolah kan? Jangan pikirin masalah ini. Fokus sama sekolahmu." kata Riki yang langsung diangguki oleh Nilam.


"Terima kasih banyak kak."


Nilam segera masuk ke dalam, kini Ia merasa lega karena Riki mau memaafkan dirinya.


Sementara itu dikota...


Vandam baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia kini sudah berada di apartemen Arga.


"Tono sudah masuk ke dalam jebakan Tuan." lapor Vandam pada Arga.


"Bagus, buat dia agar terlilit hutang sebanyak mungkin hingga tak bisa membayar." kata Arga tersenyum puas.


"Baiklah Tuan dan ada yang ingin saya katakan pada Tuan."


"Katakan apa?"


"Mungkin 4 hari lagi saya izin untuk pulang kampung lagi Tuan."


Arga berdecak, "Sebenarnya ada apa? Akhir akhir ini kau sering pulang kampung."

__ADS_1


"Saya..."


"Ada gadis yang kau incar?"


Vandam mengangguk, "Dia sedang mengandung anak saya Tuan."


Arga terkejut bukan main mendengar pengakuan Vandam, "Ternyata kau lebih brengsek dariku." kata Arga lalu tertawa diikuti oleh Vandam.


"Maafkan saya Tuan, saya benar benar tidak bisa menahan diri."


"Lalu kapan kau akan menikahi gadis itu?"


"Secepatnya Tuan."


Arga mengangguk paham, "Katakan jika kau butuh uang, jangan sungkan."


"Baiklah Tuan terima kasih banyak." kata Vandam lalu segera meninggalkan Arga.


Vandam duduk ditaman apartemen, Ia mengambil sebatang rokok lalu menyalakan rokoknya, mengisapnya perlahan.


Ada banyak hal yang sedang Vandam pikirkan saat ini. Termasuk memikirkan cara agar Nilam mau menikah dengannya. Memang sedikit sulit namun Vandam sudah membuat jebakan agar Nilam mau menikah dengannya. Tentu saja dengan sedikit paksaan.


Ponsel Vandam berdering, Ia tersenyum saat mengetahui siapa yang menelepon.


"Kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu sedari tadi." omel Vandam.


"Maaf Boss, tadi ponsel saya mati jadi saya baru bisa menghubungi sekarang."


"Katakan apa yang terjadi hari ini?" tanya Vandam.


"Seharian Nona dirumah hanya saja saya sempat melihat Nona bertengkar dengan pacar kakaknya."


Vandam terkejut, "Anjani?"


"Benar bos, Nona sampai mendorong Anjani hingga jatuh ke lantai."


Lagi lagi Vandam terkejut dan tak menyangka karena Nilam berani melawan Anjani padahal biasanya Nilam suka ditindas.


"Lalu apa Anjani membalas Nilam?"


"Sepertinya tidak Tuan karena Nona langsung kabur dan saya tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam tetapi saat Nona kembali keluar, Nona terlihat baik baik saja." jelasnya.


"Baiklah, terus awasi dan jika terjadi sesuatu segera laporkan padaku."


"Siap Bos."


Vandam mengakhiri panggilan, Ia tersenyum lega karena tak terjadi sesuatu pada Nilam.


Vandam memang sengaja menyewa orang untuk menjaga Nilam karena Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Nilam dan calon bayi mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2