NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
42


__ADS_3

Marni baru saja pulang dari luar untuk mencari pekerjaan namun setengah hari mencari Ia tidak mendapatkan pekerjaan apapun.


mengingat dirinya sudah terlihat tua jadi mungkin sudah tidak ada yang mau memperkerjakan dirinya lagi.


Marni membuka pintu dan terkejut melihat Riki sudah berada dirumah padahal ini masih tengah hari.


"Kau sudah pulang?" heran Marni.


"Aku dipecat Bu."


Mata Marni langsung melotot, Ia bahkan memukuli lengan Riki, "Dasar anak bodoh, bagaimana bisa kau dipecat dan dari mana lagi kita bisa mendapatkan uang!" omel Marni.


"Aku juga pusing Bu, tenanglah sebentar. Aku akan memikirkan kedepannya."


Marni menghela nafas panjang, "Apa Vandam sudah menghubungimu?"


Riki menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia bahkan menolak panggilanku."


Marni berdecak, "Bagaimana dengan Anjani? Kenapa dia jarang kesini sekarang?"


"Aku sudah putus dengannya."


Marni tersenyum lega, "Baguslah, aku akan mencarikan gadis kaya untukmu, jika bersama Anjani kehidupan kita bahkan tidak ada kemajuan."


Riki mengangguk setuju, Ia cepat menerima perpisahan dengan Anjani karena bagi Riki, Anjani tidak menguntungkan dirinya.


"Cepatlah cari pekerjaan, jangan menganggur terlalu lama!" omel Marni lalu meninggalkan Riki.


"Ck, dia bahkan tidak membiarkanku tenang sebentar." omel Riki mengambil sebatang rokok lalu mulai menyalakan dan mengisapnya perlahan.


Riki mengambil ponselnya, kembali menghubungi Vandam namun lagi lagi Vandam tidak menerima panggilan darinya.


"Benar benar sial, kemana dia membawa Nilam pergi!"


...****************...


Selesai bertemu dengan klien, Arga dan Vandam kembali ke club malam.


"Aku benar benar mengantuk." curhat Arga membuat Vandam keheranan.


"Bukankah seharian ini Tuan tidur dikamar?"


Arga menggelengkan kepalanya, "Aku sama sekali tidak bisa tidur karena lagi lagi memikirkan gadis itu. Kapan kau akan membawanya untuk ku?"


"Sebentar lagi Tuan, Ayahnya sudah masuk ke jebakan dan kita harus bersabar beberapa bulan lagi agar mereka tidak curiga."


Arga berdecak, "Aku ingin kembali menikmati tubuh gadis itu."


"Apa Tuan ingin dicarikan gadis lain sembari menunggu?"

__ADS_1


Arga menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya ingin dia. Gadis lain pasti rasanya tidak sama."


Vandam mengangguk setuju, "Benar sekali Tuan,"


"Lalu kapan kau akan menikahi Nilam?"


Vandam menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu Tuan, dia masih menolak lamaran saya."


"Setelah ini dia akan dipindahkan ke pulau yang sudah ku siapkan, apa tidak masalah jika kau mungkin jarang bertemu dengannya?" tanya Arga memastikan.


"Tidak apa apa Tuan, saya bisa menahan."


"Baiklah, aku ingin Nilam terbiasa berada disana lebih dulu agar nanti saat aku sudah mendapatkan Sarah, Ia bisa menemani Sarah tinggal disana." kata Arga yang langsung diangguki Vandam.


Dan karena sudah tidak ada pekerjan lagi, Vandam serta Arga memutuskan untuk pulang lebih awal.


Tengah malam mereka sampai di apartemen dan tentu saja Nilam sudah tidur.


Vandam membuka pintu kamarnya, Ia melihat Nilam terlelap di ranjang dengan baju tidur yang tak biasa. Ya dress satin pendek yang memperlihatkan kulit putih nan mulus milik Nilam.


Vandam menelan ludahnya, Ia tak bisa menahan dirinya. Vandam melepaskan celananya dan segera merudal paksa Nilam yang masih terlelap.


Dan sentuhan Vandam membuat Nilam akhirnya bangun.


Nilam terkejut dan merasakan perih dibawah sana karena Vandam memasukinya dalam keadaan yang tidak siap.


Setelah puas, Vandam melepaskan kungkungannya. Ia mengambil rokok lalu menghisapnya. Matanya masih menatap Nilam yang kini sudah mengenakan kembali pakaiannya.


"Sebulan lagi kau akan pindah."


Nilam menghentikan gerakan tangannya saat mendengar ucapan Vandam.


"Pindah kemana?"


"Ke pulau, tempat baru yang akan kau tinggali. kita akan jarang bertemu."


Nilam tersenyum, "Sayang sekali aku akan jarang bertemu dengan Tuan."


Seketika Vandam emosi mendengar ucapan Nilam, Ia mengerus rokoknya, kembali menindih Nilam, "Kau benar benar terlalu percaya diri, mana mungkin Tuan mau dengan gadis ****** bekas orang!"


Nilam kembali tersenyum, "Mungkin jika aku menggoda Tuan sedikit saja, dia akan mau denganku."


Vandam tersenyum sinis, Ia kembali merudal paksa Nilam dan kali ini lebih keras karena Ia sedang emosi.


Nilam kembali merasakan sakit namun Ia puas sudah membuat Vandam emosi.


Harga dirinya sudah di injak injak oleh Vandam sejak pertama. Vandam memperkosa dan menjadikan dirinya budak nafsu jadi Nilam tidak akan pernah bersikap baik pada Vandam lagi.


"Sekali lagi kau menyebut nama Tuan didepanku, aku tak segan lebih kasar dari ini!" ancam Vandam lalu memasuki kamar mandi meninggalkan Nilam.

__ADS_1


Nilam tersenyum kecut, Ia mengenakan pakaiannya dan kembali tidur seolah tak terjadi apapun saat ini.


Dan dikamar mandi, Vandam mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap emosinya mereda namun sayang emosinya masih belum mereda.


Ia benar benar tak terima jika Nilam sampai menyukai Arga meskipun Arga tidak mungkin membalas cinta Nilam namun tetap saja Ia tak ingin Nilam melihat pria lain selain dirinya.


Vandam keluar dari kamar mandi, melihat Nilam kembali terlelap diranjang, Ia pun ikut berbaring disamping Nilam, keduanya terlelap bersamaan.


Paginya, Nilam selesai membuat sarapan dan langsung ikut duduk diantara Arga dan Vandam.


"Bagaimana rasanya Tuan?"


"Enak seperti biasa." balas Arga.


Nilam tersenyum, Ia menatap Arga tanpa disadari oleh Arga sementara Vandam yang bisa mengetahui itu semua.


Vandam mengepalkan tangannya, Ia benar benar dibuat panas cemburu oleh Nilam.


"Tuan bagaimana jika rencana memindahkan Nilam dipercepat?" tanya Vandam yang sontak membuat Nilam terkejut.


"Tidak masalah jika Nilam memang mau," balas Arga lalu menatap Nilam, "Vandam sudah menjelaskan padamu kan jika kau akan dipindah ke pulau?"


Nilam menganggukan kepalanya, tubuhnya lemas seketika.


"Bagus jika begitu bersiaplah, biarkan Vandam mengantarmu hari ini."


"Hari ini Tuan?"


Arga mengangguk, "2 hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak jadi Vandam bisa mengantarmu disana dan menemanimu selama 2 hari."


Nilam menatap Arga tak percaya sementara Vandam tersenyum puas karena semua sesuai dengan apa yang Ia harapkan.


"Jangan salahkan aku, kau yang membuatku melakukan ini." kata Vandam sambil mengelus pipi Nilam yang kini tengah mengemasi pakaiannya.


Nilam tersenyum sinis, "Sebelum kita berangkat bolehkan aku bertemu dengan Tuan secara pribadi? Dan hanya berdua?" tanya Nilam dengan senyuman nakal.


Lagi lagi Vandam emosi dan mendorong tubuh Nilam ke ranjang, "Jika kau berani, aku akan membunuhmu!"


"Itu lebih baik dari pada harus hidup bersamamu setiap waktu."


Seolah tahu rencana Nilam, Vandam tersenyum, "Baiklah Baby, jika kau memang ingin menemui Tuan, aku mengizinkanmu." kata Vandam melepaskan kungkungannya dan memberi jalan Nilam untuk keluar kamar.


Nilam terkejut namun Ia tetap keluar dari kamar, Ia benar benar ingin membuat Vandam merasakan sakit hati.


Nilam berdiri didepan pintu kamar Arga, baru ingin mengetuk, pintu sudah terbuka lebih dulu.


"Nila, apa yang kau lakukan disini?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2