
Vandam memandangi wajah Nilam yang kini terlelap efek dari obat bius yang disuntikan agar Nilam tak sadarkan diri.
Saat ini Nilam dan Vandam tengah berada didalam mobil ambulance perjalanan menuju rumah sakit yang jauh dari rumah Nilam.
Vandam terpaksa melakukan ini mengingat Ia tadi sempat mendengar Marni dan Anjani ingin menyeret Nilam pulang.
Vandam tidak ingin itu terjadi, tentu saja tidak lagi. Kedua nenek sihir itu sudah melampaui batas, Vandam tidak akan membiarkan Nilam disiksa lagi oleh mereka.
Ponsel Vandam berdering, Ia melihat nama pemanggil adalah suster di klinik tempat Nilam dirawat.
"Mereka baru saja datang mencari Nilam?" Vandam tak terkejut, Ia tersenyum puas.
"Benar Tuan dan saya sudah mengatakan seperti yang Tuan perintahkan." jawab Suster dari dalam telepon.
"Bagus, aku akan mentransferkan uang bonus untukmu." kata Vandam lalu mengakhiri panggilan.
Vandam kembali tersenyum mengingat Marni dan Anjani, "Mereka pasti sedang kepanasan saat ini."
Sesampainya dirumah sakit tujuan, Nilam segera dibawa keruang perawatan.
"Thanks bro udah bantuin gue." kata Vandam pada Vano salah satu temannya yang berprofesi sebagai Dokter dirumah sakit itu.
"Cewek Lo?" tanya Vano saat memandang ke arah Nilam yang berbaring diranjang dengan mata terpejam.
Vandam tak menjawab, hanya menampakan senyum khasnya.
"Pedofil!" ejek Vano lalu tertawa.
"Gila banget emang gue jatuh cinta sama bocil kayak gini." akui Vandam.
"No problem, asal mainnya enak." kata Vano lalu tertawa bersama.
Selesai pemeriksaan, Vano keluar dari ruangan dan kini tinggalah Vandam yang menemani Nilam diruangan.
Vandam duduk dikursi samping ranjang Nilam, memandangi wajah cantik Nilam.
1 jam 2 jam berlalu, Nilam belum kunjung sadar membuat Vandam keluar untuk membeli kopi dan merokok.
Sementara itu, Marni dan Anjani pulang dalam keadaan kesal karena tidak menemukan keberadaan Nilam dan lagi, Suster yang merawat Nilam bahkan tidak mengatakan dimana Nilam dipindahkan.
Keduanya semakin dibuat penasaran dengan siapa yang mengaku sebagai suami Nilam.
Mereka berdua pulang dengan jalan kaki karena tidak memiliki ongkos untuk naik ojek, beruntung jarak antara rumah dan klinik tidak terlalu jauh.
"Aku penasaran Bu, siapa suami yang dimaksud suster tadi." ungkap Anjani disela sela perjalanan mereka.
"Sama, Ibu merasa jika pria itu sangat kaya karena bisa memindahkan Nilam dan juga membungkam mulut para suster itu agar tidak berbicara dengan kita." tambah Marni.
__ADS_1
"Nilam sangat beruntung, pantas saja dia rela melakukan apapun. Huh dasar pelacur kecil!" umpat Anjani.
Marni menatap Anjani, "Apa kau tidak merasa beruntung bersama putraku?"
Seketika Anjani gugup, "Ti tidak seperti itu Bu, maksud Anjani Nilam yang masih bocah ingusan beruntung mendapatkan pria kaya itu."
Marni berdecak, "Jika kau tidak merasa beruntung memiliki putraku, tinggalkan saja dia lagipula banyak gadis kaya yang mengincar putra tampanku!"
"Ibu, kenapa bicara seperti itu!" kesal Anjani.
"Kau yang memulainya." balas Marni lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Anjani.
"Ibu... Tunggu aku!"
Anjani mengejar Marni, "Maafkan aku Bu, jangan marah."
Marni masih menatap sinis Anjani.
"Dasar nenek tua peyot, jika saja aku tidak mencintai putranya, aku juga tidak akan mengurusmu!" batin Anjani.
"Jangan berbicara seperti itu lagi, jika aku mendengarnya lagi, aku akan meminta Riki untuk meninggalkanmu!" ancam Marni.
"Baiklah bu, baiklah. Maafkan aku." kata Anjani.
Sesampainya dirumah, Marni dan Anjani segera memasuki kamar Riki. Pria itu masih terlelap dengan bertelanjang dada.
"Ada apa lagi Bu?" keluh Riki merasa tidurnya terganggu.
"Apa kau tahu siapa suami Nilam?" tanya Marni.
Mendadak mata Riki terbuka lebar dan langsung bangun menatap Ibunya keheranan, "Suaminya Nilam? Apa maksud Ibu?"
"Kami baru saja ke klinik dan Nilam tidak ada disana, Suster bilang Nilam dipindahkan kerumah sakit oleh suaminya."
Mata Riki langsung melotot mendengar cerita Anjani, Ia semakin yakin jika Nilam memiliki seorang kekasih dan kekasih Nilam yang sudah menghamili Nilam. Yang membuat Riki penasaran saat ini siapa kekasih Nilam itu? Riki merasa kekasih Nilam bukan orang sembarangan.
Riki beranjak dari ranjang, "Aku harus ke klinik dan menanyakan pada Suster."
"Percuma." kata Anjani sinis menghentikan langkah Riki "Mulut para Suster di klinik itu sudah dibungkam oleh kekasih Nilam hingga mereka tidak berbicara apapun pada kami."
Riki semakin terkejut mendengar fakta itu.
"Aku yakin jika kekasih Nilam bukan orang sembarangan. Dia pasti mendapatkan pria kaya." tambah Anjani membuat suasana semakin panas.
"Dasar anak kurang ajar, bisa bisanya dia memiliki pacar kaya dan tidak mengatakan padaku!" umpat Marni.
"Sudahlah, kalian diam saja!" omel Riki mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Lo dimana?" tanya Riki pada Seseorang ditelepon.
"Ohh di apart, gue pikir Lo balik ke klinik, oke deh sorry ganggu waktu Lo." kata Riki lalu mengakhiri panggilan.
"Telepon siapa?" tanya Anjani penasaran.
"Vandam, dia tadi ikut ke klinik. Aku pikir dia tahu keberadaan Nilam"
Anjani berdecak, "Kita sudah kehilangan jejak,"
Marni memeganggi kepalanya yang berdenyut, "Sudahlah, Ibu pusing mikirin anak itu. Kita tunggu aja dia sembuh dan pulang sendiri." kata Marni terdengar menyerah.
"Nggak bisa gitu Bu, gimana kalau Nilam nggak kembali? Aku khawatir jika pria itu berniat jahat." kata Riki mengingat pria itu sudah menghamili Nilam.
"Kamu ini jangan terlalu peduli sama Nilam, gadis bodoh itu bahkan tidak menceritakan pada kita kalau punya pacar kaya, sudahlah biarkan saja dia mati, Ibu nggak peduli." kata Marni lalu meninggalkan Riki dan Anjani.
"Ibu kamu benar, sudah cukup kamu khawatir sama Nilam, lagian-"
"Stop Anjani, aku lagi nggak mau denger apapun jadi jangan tambah bikin panas." sentak Riki.
Anjani menatap Riki tak percaya, "Kamu bentak aku Beb? cuma karena Nilam kamu bentak aku?"
Riki semakin pusing dengan suara manja Anjani, Ia memilih memeluk Anjani dari pada harus melihat gadisnya itu marah.
"Maaf, tapi seengaknya tenangin aku bukan malah makin bikin pusing."
Anjani berdecak, Ia mendorong tubuh Riki ke ranjang, "Tenangin dengan cara kayak gini?"
Riki tersenyum nakal dan siapa menerima permainan panas Anjani.
Sementara itu Vandam tersenyum puas setelah mendapatkan telepon dari Riki.
Vandam bisa menebak saat ini mungkin Riki dan para nenek lampir sedang penasaran dengan pria yang mengaku sebagai suami Nilam.
Mereka pasti sedang kepanasan mengetahui Nilam memiliki kekasih.
Vandam berjalan kembali keruangan Nilam, Ia melihat seorang perawat keluar dari ruangan Nilam.
"Pasien sudah sadar, sepertinya saat ini sedang kebingungan karena bangun ditempat yang berbeda." kata perawat itu.
"Baiklah, biar ku urus."
Vandam segera masuk dan Ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nilam.
"Aku ingin pulang!"
Bersambung ...
__ADS_1