
Nilam membuka matanya setelah mendengar suara kicau burung. Kepalanya berdenyut pusing. Ia melihat saat ini sedang tidak berada dikamarnya. Melihat ada infus yang menempel ditangan, menandakan jika Nilam tengah berada dirumah sakit.
Semalam... Mengingat itu rasanya Nilam ingin menangis. Nilam menggerakan tangannya hingga tak sadar jika Ia sudah menyentuh kepala seseorang yang ternyata itu adalah Vandam, duduk dikursi dan terlelap sambil memeluk ranjang yang Ia tempati.
"Kau sudah bangun?" tanya Vandam yang tidurnya terusik dengan gerakan tangan Nilam.
"Maaf aku menganggu tidurmu." kata Nilam dengan suara serak menahan tangis.
"Tidak, memang sudah waktunya aku bangun."
"Kenapa tidur disini? kenapa tidak tidur disofa sana?" tanya Nilam menunjuk ke arah sofa yang ada diruangan itu.
"Aku lebih nyaman berada didekatmu."
Ucapan Vandam lagi lagi membuat jantung Nilam berdetak.
"Semalam Fandi-"
"Jangan katakan apapun lagi, aku tahu kau pasti ketakutan dan trauma jadi jangan dibahas lagi." potong Vandam.
"Dia belum menyentuhku." jelas Nilam memaksa meskipun Vandam mengatakan tidak ingin mendengar apapun.
Vandam tersenyum, "Aku juga sudah tahu jadi apa kau menjelaskan seperti ini karena tidak ingin aku salah paham?" tanya Vandam mengingat semalam Ia melihat Fandi masih memakai pakaian lengkap yang menandakan jika Fandi belum melakukan apapun pada Nilam.
Nilam ikut tersenyum dan sedetik kemudian Ia mengangguk.
"Sekalipun dia sudah menyentuhmu, tidak akan membuatku meninggalkanmu. Kamu akan tetap menjadi milik ku."
Blush... Kini Pipi Nilam jadi merona mendengar ucapan Vandam.
"Lalu dimana Fandi sekarang? Semalam aku dengar suara tembakan. Apa kamu menembak Randi?"
Vandam mengangguk, mengakui jika Ia menembak Fandi, "Sekarang dia berada ditempat yang sepantasnya!"
Dan ditempat lain, Fandi sadar setelah seseorang menyiramnya dengan air. Luka yang masih basah terasa semakin perih saat terkena air.
"Brengsek!" umpat Fandi ingin berdiri untuk menghajar orang sudah menyiramnya dengan air namun Ia sadar kedua kakinya terkena tembakan dan Ia tidak bisa berdiri.
Fandi melihat ke sekeliling, Ia kini berada digudang yang sangat kotor dan pengap. Melihat pria berbadan kekar yang baru saja menyiramnya dengan air, tersenyum mengejek ke arahnya.
"Aku pastikan akan membunuhmu nanti!" ancam Fandi yang malah membuat pria berbadan kekar itu semakin terbahak.
"Sebelum itu terjadi, mungkin kau akan mati lebih dulu."
"Kau tidak tahu siapa aku hah!" teriak Fandi.
"Tentu saja aku tahu, kau adalah putra dari penjahat itu kan? Brama."
__ADS_1
"Jika Ayahku tahu, kau pasti akan dibunuh!"
Anak buah Vandam semakin terbahak, "Baiklah mari kita beritahu Ayahmu jika kau tengah disekap disini."
Pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, tak lupa mengaktifkan lounspeaker agar Fandi juga bisa mendengar.
"Halo, siapa ini?" suara yang jelas Fandi kenali.
"Ayah... Ayah... Tolong aku!" teriak Fandi.
"Hah, Fandi?" Brama yang baru saja mendengar suara Fandi pun terkejut, "Dimana kamu?"
"Aku disekap Ayah, mereka menyekapku di gudang. kedua kaki ku ditembak, aku tidak bisa berjalan." adu Fandi namun belum sempat Brama menjawab, anak buah Vandam mematikan sambungan teleponnya.
"Sialan kau, aku benar benar akan membunuhmu!" umpat Fandi.
Anak buah Vandam tertawa dan langsung meninggalkan Fandi sendirian diruangan pengap itu. Merasakan rasa nyeri juga perih dengan baju yang basah.
Sementara itu ditempat lain,
Brama terlihat panik dan khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya, Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Fandi.
Semalam, niatnya untuk menjebak Vandam sudah berhasil bahkan Ia juga memiliki kesempatan untuk menghancurkan club malam Vandam namun Ia melupakan keselamatan putranya sendiri. Sekarang Ia tak tahu dimana putranya berada dan mendengar suara Fandi baru saja membuatnya bisa menebak jika Fandi sedang tidak baik baik saja.
Brama mengambil ponselnya, kembali menelepon nomor anak buah Vandam agar Ia bisa melacaknya namun sayang, nomornya sudah tidak aktif.
Baru ingin memasuki mobil, ada beberapa polisi yang datang dan menghalangi jalannya.
"Apa apaan ini!" teriak Brama saat polisi langsung memborgol tangannya bahkan ada yang mengacungkan pistol ke arahnya.
"Kau ditangkap karena terbukti melanggar hukum."
"Brengsek! Aku tidak melakukan apapun!" teriak Brama tak terima.
"Katakan nanti dikantor polisi!"
Brama dipaksa masuk ke dalam mobil polisi, dia segera dibawa ke kantor polisi.
Sampai dikantor polisi, Brama diintograsi banyak hal namun pria itu sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya.
"Kau mengedarkan narkoba, menggelapkan uang ratusan juta juga membunuh orang orang tak bersalah, semua bukti sudah ada dan kau masih tidak mau mengakuinya?"
"Aku tidak akan mengakui apapun karena aku tidak melakukan itu!" kata Brama penuh percaya diri.
"Jadi apa kau mau dihajar dulu agar mau mengaku?" tanya polisi yang mengintrogasi membuat Brama ketakutan.
"Siapa yang sudah melaporkan ku?" tanya Brama meskipun Ia sudah bisa menebak jika pastilah Vandam yang melaporkannya.
__ADS_1
"Aku yang sudah melaporkanmu." suara lantang seseorang membuat Brama berbalik dan terkejut melihat pria yang melaporkannya bukan Vandam melainkan Arga.
"Kau...!" Brama mengepalkan tangannya, sama seperti Vandam, Arga juga musuhnya.
"Bukankah dulu aku memberimu kesempatan untuk berubah lebih baik? Tapi kau malah semakin menjadi." kata Arga santai, "Kau mengusik anak buahku jadi aku membongkar semua kejahatanmu." kata Arga dengan santai.
"Sial!" umpat Brama.
Brama melupakan keberadaan Arga karena Brama pikir Arga sudah pensiun dalam bisnis mafianya dan tidak akan mencampuri urusan Vandam lagi namun siapa sangka Arga tetap menyelamatkan Vandam.
"Bawa dia ke sel!" pinta polisi kepada beberapa rekannya.
"Aku tidak bersalah, kalian tidak berhak membawaku ke penjara!" teriak Brama ingin memberontak namun tenaganya kalah hingga Ia hanya bisa pasrah dimasukan ke dalam sel penjara.
"Dia tidak akan menganggumu dan anak buahmu lagi." kata salah satu polisi pada Arga.
"Baiklah, terima kasih banyak atas bantuanmu dan pastikan dia tidak akan bisa keluar dari sini." pinta Arga.
"Tenang saja, semua pasti aman."
Arga mengangguk dan segera keluar dari kantor polisi.
Diluar kantor, ada anak buahnya yang sudah menunggu dimobil.
"Bawa aku ke tempat penyekapan putra Brama."
"Baiklah Tuan." anak buah Arga segera melajukan mobilnya ke gudang tempat penyekapan Fandi.
Meskipun Arga sudah pensiun, Ia tetap mendapatkan informasi tentang masalah yang terjadi, seperti semalam Ia mendapatkan informasi tentang perusakan club yang Ia bangun dan Vandam yang dijebak oleh Brama, tentu Ia tidak diam saja.
Arga pasti datang untuk menyelesaikan masalah seperti saat ini.
"Siapa lagi kau?" teriak Fandi saat Arga memasuki gudang tempat Fandi disekap. "Apa kau anak buah Ayahku?"
Arga tersenyum lalu berbicara pada penjaga gudang, "Buka saja pintunya, biarkan dia kabur."
"Tapi Tuan..." Penjaga gudang tampak tak setuju.
"Dia tidak akan selamat." bisik Arga.
Akhirnya penjaga gudang membuka pintunya, "Keluarlah, aku membebaskanmu." kata Arga.
Fandi tersenyum senang, meskipun Ia tidak bisa berjalan namun Ia masih bisa menyeret kakinya.
Fandi menghirup udara bebas dan terus menyeret kakinya keluar dari gudang hingga akhirnya dia sadar jika sekitar gudang ini adalah hutan.
"Aku harus keluar dari hutan ini dan mencari pertolongan. Pasti disekitar sini ada perkampungan." ucap Fandi penuh keyakinan.
__ADS_1
Bersambung....