NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
09


__ADS_3

Tubuh Nilam bergetar hebat saat ini, Ia sangat ketakutan dan tak menyangka jika Marni ibunya mengetahui jika Ia tidak pergi berkemah melainkan liburan, meskipun Ia sedikit lega karena Ibunya tak tahu jika Ia pergi berlibur dengan Vandam, entah siapa yang memberitahu Ibunya tentang ini.


Marni berjalan mendekati Nilam dan langsung menjambak rambut Nilam, "Gadis nakal, selama 5 hari ini kau pergi kemana hah!" sentak Marni menarik rambut Nilam sangat kencang membuat Nilam meringgis kesakitan.


"Aku pergi berkemah Bu, aku tidak bohong."


Plak... Marni menampar Nilam. Meskipun Nilam bisa melawan saat ini namun Nilam enggan membalas perbuatan kasar Ibunya, Ia sadar jika Ia lebih muda dan tak mungkin melawan Ibunya.


"Rasanya aku ingin merobek mulutmu saat ini juga, dasar gadis pembohong!" umpat Marni kembali menjambak rambut Nilam hingga Nilam tak hanya meringgis namun juga menjerit kesakitan.


Tak sampai disitu, Marni mengambil sapu lalu memukuli Nilam menggunakan sapu.


"Cepat mengaku, kemana kau pergi selama 5 hari ini?" tanya Marni masih terus memukuli Nilam hingga tangan dan kaki Nilam banyak yang membiru.


Nilam tidak peduli dengan rasa nyeri yang Ia rasakan saat ini, sampai mati pun Nilam tak akan memberitahu Ibunya.


"Masih diam hah!" ucap Marni mengambil seember air lalu menguyurkan ke tubuh Nilam, tak peduli lantai ruang tamunya basah, Marni hanya ingin Nilam mengaku kemana Ia pergi selama 5 hari namun sepertinya apa yang Ia berikan pada Nilam tidak membuat gadis itu ketakutan dan mengaku, Nilam masih tetap diam.


"Aku benar benar ingin membunuhmu sekarang!" Kata Marni mengambil sebilah pisau dapur, "Katakan kemana kau selama 5 hari atau aku akan merobek mulutmu sekarang juga!"


Nilam menutupi bibirnya dengan menggunakan kedua tangannya, Ia terus menggelengkan kepalanya pertanda jika Ia tidak akan mengatakan apapun pada Marni.


"Baiklah, kau pikir aku bercanda? Anak tidak berguna, aku tidak mau membuat keluargaku malu karenamu jadi lebih baik kau sekarang!"


Marni mengayunkan pisaunya, Nilam terlihat pasrah dan siap menerima pisau Marni namun hingga beberapa detik tidak ada rasa sakit yang menghujani tubuhnya, Nilam masih baik baik saja hingga Ia mendongak dan melihat seseorang menyelamatkannya. Ya seorang pria datang dan mencekal tangan Marni.


Nyatanya tak hanya Nilam yang terkejut, Marni pun ikut terkejut sampai menjatuhkan pisaunya.


"Apa yang tante lakukan?" tanya penyelamat Nilam yang tak lain adalah Vandam. Nilam benar benar tak menyangka, Vandam akan datang lagi kerumahnya, untuk apa dia kesini batin Nilam masih menatap Vandam.


"Bukan urusanmu Vandam! Tante ingin membunuh bocah nakal ini!" kata Marni matanya menatap Vandam dengan tajam.


"Tahan tante, sabar. Apa masalahnya? Kenapa harus seperti ini?" tanya Vandam pura pura bodoh membuat Nilam muak mendengarnya karena Vandamlah, Nilam menjadi seperti ini, berbohong hingga berakhir disiksa seperti ini.

__ADS_1


"Gadis bodoh ini akan membuat keluargaku malu Vandam, aku harus membunuhnya!" umpat Marni ingin kembali memukul Nilam namun Vandam menahannya.


"Udah tante, udah. Sekarang baiknya Tante nenangin diri dulu, jalan jalan keluar biar nggak emosi lagi. Inget tante, ini negara hukum kalau sampai terjadi sesuatu pada Nilam, bisa bisa tante dihukum." ucap Vandam yang langsung membuat Marni sadar atas apa yang baru saja Ia lakukan.


Vandam mengambil dompetnya lalu mengeluarkan 5 lembar uang ratusan ribu, "Ini buat tante jalan jalan, Nilam biar aku yang urus." kata Vandam yang langsung membuat Marni girang.


"Duh kamu emang temennya Riki yang paling baik, makasih ya Vandam." kata Marni lalu pergi meninggalkan Nilam dan Vandam.


Vandam menatap ke arah Nilam yang juga menatapnya, Ia mengambil kotak p3k yang ada dimobilnya lalu membawa Nilam ke kamar.


Tanpa mengatakan apapun, Vandam mulai mengobati luka lebam Nilam menggunakan salep yang ada dikotak p3k miliknya.


"Sakit, biarkan saja." keluh Nilam saat Vandam mengobati bibirnya yang sedikit lecet.


"Jika tidak di obati tidak akan sembuh." kata Vandam memaksa mengobati yang akhirnya dibiarkan oleh Nilam.


"Sejak kapan hal seperti ini terjadi padamu?" tanya Vandam.


"Sejak kapan apanya?" Nilam tak mengerti.


"Tidak sering hanya saat aku membuat kesalahan."


"Jangan membohongiku!" tegas Vandam.


Nilam hanya diam, tak lagi menjawab.


"Apa dia sering melakukan ini padamu? Kenapa kau tidak melawan?"


Nilam tersenyum sinis, "Kau pikir aku punya nyali untuk melawan? Biar bagaimanapun dia istri mendiang Ayahku."


"Tapi dia tidak memperlakukanmu dengan baik, apa kau tidak memiliki rencana untuk pergi dari sini?" tanya Vandam dan lagi lagi Nilam tersenyum sinis.


"Kau pikir bocah sepertiku bisa hidup sendiri diluar sana, aku masih butuh banyak biaya untuk sekolah untuk makan."

__ADS_1


"Ada cara lain, kau bisa bekerja sampingan." kata Vandam masih berusaha meyakinkan Nilam.


"Bekerja sampingan seperti apa yang kau maksud? menjadi pelacur?"


"Tutup mulutmu!" Vandam mulai emosi.


"Aku tidak mungkin meninggalkan rumah ini karena disini banyak kenangan bersama mendiang Ayah dan Ibuku, jika aku pergi, mereka pasti akan dengan mudah menguasai rumah ini."


Vandam menghela nafas panjang, Ia cukup tahu seperti apa sifat Marni karena Ia berteman dengan Riki sudah lama dan sering menginap dirumah Riki.


Dulu rumah Riki bukan disini, Marni dan Riki mengontrak didekat kampus Riki. para tetangga Riki sering mengeluh akan sifat Marni yang genit dan berusaha menggoda suami mereka. Vandam tahu, hal itu dilakukan Marni untuk bertahan hidup dan membiayai sekolah Riki hingga akhirnya Vandam mendengar jika Marni sudah menikah dengan duda mapan dan Vandam bisa menebak jika itu mungkin Ayah Nilam yang sekarang sudah meninggal.


"Pergilah Kak, bukankah kau tadi mengatakan jika akan berangkat ke kota?" Nilam mengingatkan.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini, ikutlah bersamaku ke kota." ajak Vandam.


Nilam malah tertawa, "Apa kau gila kak? Aku masih sekolah dan tidak mungkin meninggalkan rumah ini."


Vandam berdecak, "Jadi kau memilih disiksa setiap hari disini?"


"Aku bisa mengatasinya Kak, jangan khawatir." kata Nilam namun tetap saja Vandam masih merasa gelisah dan khawatir.


Vandam keluar dari kamar Nilam saat tak berhasil membujuk Nilam pergi dari rumahnya. Vandam membuka pintu depan dan terkejut saat melihat Riki yang baru saja pulang.


"Ngapain Lo kesini?" heran Riki sempat melihat mobil Vandam terparkir didepan rumahnya.


Vandam sebisa mungkin tidak gugup, "Tadinya mau nyariin elo tapi gue malah ngeliat adek Lo digebukin sama Emak Lo!"


Mata Riki langsung saja melotot mendengar ucapan Vandam, "Digebukin? Nilam udah pulang?"


Tak mengubris Vandam, Riki memilih berlari memasuki kamar Nilam.


"Nilam..." Riki cukup terkejut dengan keadaan Nilam

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2