
Marni memasuki sebuah warung kopi dimana Ia melihat ada pria yang tengah kesakitan sambil memeggangi pipinya yang memar.
Marni menghampiri pria itu dan duduk disampingnya.
"Dasar pria lemah, bagaimana bisa kau dihajar seorang gadis."
Mata pria itu melotot tak terima, "Bukan gadis itu yang mengajarku tapi preman yang berjaga disana. Kau bilang tidak ada preman disana tapi ternyata... Aku dipukuli preman itu karena mengira aku sudah mengambil tempatnya!" omel pria itu yang tak lain adalah preman yang tadi menghadang Nilam.
"Preman? Tidak ada preman disekitar sana. Jangan membual." ucap Marni tak percaya.
"Dengan wajah seperti ini apa kau pikir aku bisa membual ha? Sudahlah cepat berikan bayaranku, aku tidak mau lagi berurusan dengan mu!" ucap preman itu sambil menadahkan tangannya.
Marni berdecak lalu Ia mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan.
"Hanya segini? Kau mengatakan jika akan memberiku 500 ribu!" tagih preman itu.
"Jika kau berhasil merampas uang Nilam tapi kenyataannya kau tidak bisa merampas uang Nilam." kata Marni.
Mata pria itu melotot tajam, "Jangan main main denganku, aku bisa membunuhmu saat ini juga." ucap pria itu memperlihatkan pisau yang Ia kantongi.
Marni tentu saja ketakutan dengan ancaman preman itu, Ia segera mengeluarkan 3 lembar uang ratusan dan pas 500 ribu.
"Tambah 200 lagi untuk biaya berobat!" pinta pria itu lagi.
Marni kesal, "Tidak mau, pekerjaan mu saja tidak beres bagaimana bisa kau meminta lebih!"
"Kau berani melawanku?" ancam preman itu kembali memperlihatkan pisaunya.
Marni bergindik takut, akhirnya Ia memberikan tambahan uang pada Preman itu hingga uangnya yang ada didompetnya sudah habis ludes.
Preman itu tersenyum, Ia meneguk habis kopinya lalu beranjak dari duduknya, "Bayar kopi dan makananku," kata Preman itu lalu pergi begitu saja.
"Hey, tunggu! Uangku habis, aku membayar dengan apa!" omel Marni namun tidak digubris oleh preman tadi.
"Sialan, benar benar sial!" umpat Marni membuka lagi dompetnya namun sama sekali tidak ada uang disana.
"Bagaimana aku membayar ini!" bingung Marni yang niat awalnya ingin mengerjai Nilam namun kini malah dirinya yang mendapat apes.
Ya Marni sengaja menyewa preman jalanan untuk merampas uang Nilam. Beberapa hari terakhir Nilam tidak pernah membuat kesalahan bahkan jualannya pun habis terus hingga tidak ada alasan Marni untuk mengomeli Nilam padahal Ia sudah rindu ingin mengomel dan menghajar Nilam hingga Ia memiliki rencana itu namun sayangnya Marni gagal dan kini uang modal donatnya malah terkuras habis.
__ADS_1
Marni semakin yakin jika Nilam di lindungi seseorang hanya saja Ia tak tahu siapa orang yang sudah melindungi Nilam.
Marni beranjak dari duduknya, Ia menghampiri pria paruh baya pemilik warung itu.
"Pak maaf, tadi ada preman yang makan disebelah sana tidak mau membayar dan malah memaksa saya yang membayar makanannya padahal saya tidak memiliki uang." curhat Marni sambil memperlihatkan dompetnya yang kosong.
"Aku tidak mau tahu, kau harus membayar makanan itu!"
"Tapi pak, saya benar benar tidak mempunyai uang."
Pria paruh baya itu menatap Marni dari atas hingga bawah.
"Kau bisa membayar dengan cara lain." kata pria itu dengan tatapan dan senyuman nakal.
Mendadak Marni kesal karena Ia tahu apa yang ada dipikiran pria tua bangka itu.
"Aku tidak sudi!"
"Jika tidak mau, bayar sekarang. Total semuanya 30 ribu." kata pria pemilik warung terlihat santai.
Marni terlihat kebingungan, Ia juga tidak membawa ponselnya padahal jika Ia membawa ponsel, Ia bisa menghubungi salah satu temannya untuk membantunya saat ini.
"Sial, aku tidak punya pilihan lain. dimana kita akan melakukannya?" tanya Marni akhirnya.
"Didalam ada kamar, ayo sayang." ucap pria itu langsung merangkul Marni lalu Ia berteriak pada karyawannya, "Jaga warung dulu ya sep!"
Pria paruh baya itu membawa Marni ke dalam ruangan pribadi miliknya.
Sementara itu disalah satu meja ada pria yang tengah makan siang sambil tersenyum senang mengetahui apa yang terjadi pada Marni tak lupa Ia segera menghubungi bosnya untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi.
...****************...
Nilam baru saja mencuci 2 ember penuh pakaian kotor milik Marni.
Rasanya tubuhnya remuk, Ia sudah kelelahan berjualan dan kini harus menyelesaikan cucian sebanyak itu.
"Biasanya Ibu membawa baju kotornya ke laundry tapi sekarang malah menyuruhku mencuci." omel Nilam.
Hampir 2 jam lamanya, akhirnya Nilam sudah menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Nilam berbaring disofa untuk menghilangkan lelahnya namun Ia malah tertidur disana hingga Ia mendengar suara pintu terbuka kasar membuatnya terkejut dan akhirnya bangun.
"Ibu..." panggil Nilam menatap ke arah pintu dimana Ibunya berdiri disana dalam keadaan berantakan.
"Ibu tidak membawa belajaan buat bikin donat?" tanya Nilam namun Marni tak mengubris Nilam, melewatinya begitu saja.
Nilam keheranan dengan sikap Marni, "Jika tidak membeli bahan donat mungkin Ibu menyuruhku libur berjualan." batin Nilam mendadak merasa senang.
Sementara Marni, saat ini Ia sedang berada dikamar mandi. Menggosok tubuhnya dimana ada bekas ciuman dari pria tua pemilik warung.
"Dasar pria tua cabul, bagaimana bisa dia melakukan ini padaku!" umpat Marni kembali menggosok hingga berulang ulang.
"Menjijikan, aku benar benar jijik dengan tubuhku sendiri."
Selesai mandi, Marni pergi ke kamarnya untuk tidur, Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Nilam yang kembali menanyakan perihal belajaan.
Hingga malam saat Riki pulang, Marni melihat wajah terkejut Riki saat membuka tudung saji dan tak menemukan apapun disana.
"Apa Nilam tidak masak Bu?" tanya Riki namun Marni hanya diam saja tidak menjawab, Marni malah asyik menonton televisi.
"Aku tidak masak kak, Ibu tidak belanja." jawab Nilam yang baru saja keluar kamar.
"Kenapa Ibu tidak belanja? Apa uang Ibu habis?"
Nilam menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu kak."
Karena kesal dan merasakan lapar, Riki menghampiri ibunya, "Apa uang Ibu sudah habis?"
Marni menganggukan kepalanya namun tidak menatap Riki, matanya masih menatap layar televisi.
"Bukankah kemarin aku memberi uang 200 ribu? Apa sudah habis?" heran Riki.
Lagi lagi Marni hanya menganggukan kepalanya membuat Riki semakin kesal. "Apa Ibu judi lagi? Jadi uangnya habis untuk judi lagi?" omel Riki.
Marni menghela nafas panjang, "Jika kau ingin makan belilah nasi goreng, jangan ganggu Ibu." kata Marni lalu pergi ke kamarnya.
Riki benar benar dibuat heran dengan sikap Ibunya itu, Ia menatap ke arah Nilam yang juga mengedikan bahu, tak tahu apa yang terjadi.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennn