NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
28


__ADS_3

Marni membawa masuk Nilam kerumah lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Seketika Nilam memeganggi perutnya karena Ia merasa perutnya langsung sakit saat Ia jatuh karena dorongan Marni.


Anjani yang baru saja menutup pintu langsung bersedekap tangan menatap Nilam sinis.


"Bisa bisanya kau makan enak diluar sana sementara kami kelaparan dirumah!" kata Marni dengan tatapan tajam.


"Dari mana kau dapat uang? Bukankah Riki tidak memberimu uang saku?" tambah Anjani yang membuat suasana semakin tegang.


Tak menunggu lagi, Marni langsung menggeledah tas Nilam. Awalnya Nilam tidak memberikan tasnya namun Anjani memeganggi Nilam hingga gadis malang itu tidak bisa melakukan apapun.


"Atm? Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Marni dengan tatapan curiga setelah Ia mendapatkan sebuah kartu debit atas nama Nilam juga uang cash 50ribu.


"Sudah ku duga pasti kau menjual dirimu pada pria tua jadi kau bisa memiliki kartu debit itu." tuduh Anjani.


"Aku tidak sepertimu!" balas Nilam dengan berani.


Plak... Anjani menampar pipi Nilam dengan kasar.


"Beraninya kau mengatakan itu padaku!" kata Anjani.


Nilam hanya memeganggi pipinya, tak lagi berani melawan Anjani.


"Apa ada uang didalam sini?" tanya Marni.


Nilam hanya diam.


"Katakan apa ada uangnya?" tanya Marni sekali lagi dan Nilam langsung menggelengkan kepalanya.


"Pasti dia bohong Bu, katakan berapa sandinya jika memang tidak ada uangnya!" tambah Anjani.


Nilam menunduk diam, Ia tidak akan memberikan sandi kartu debit itu karena jumlah uang yang ada disana sangat banyak dan jika Marni tahu pasti akan menggunakan uang itu, tidak peduli uang itu milik siapa.


"Katakan berapa sandinya?" paksa Marni.


Nilam menggelengkan kepalanya, Ia tidak akan mengatakan pada Marni dan Anjani.


Karena geram, Marni memukuli Nilam menggunakan sapu membuat gadis itu menangis kesakitan.


"Ampun bu, hentikan!" pinta Nilam memeganggi perutnya yang terasa sakit karena pukulan dan tendangan Marni.


"Jika kau ingin Ibu menghentikan ini, katakan berapa sandinya? Aku yakin ada banyak uang didalam sana." tambah Anjani yang semakin membuat Marni semangat memukuli Nilam.


Tok tok tok.... Suara ketukan pintu membuat Marni menghentikan pukulannya.

__ADS_1


"Biar aku yang buka Bu," kata Anjani bergegas membuka pintu.


Seorang pria tampan berdiri didepan pintu membawa sebuah kotak, "Paket untuk Ibu Marni." ucap Pria itu matanya menatap ke arah ruang tamu dimana Ia melihat Nilam tersungkur dilantai sambil menangis.


"Oh baiklah," kata Anjani menerima kotak itu, "Jangan hiraukan dia, kami sedang memberi hukuman karena dia sangat nakal." kata Anjani saat tahu pria pembawa paket menatap ke arah Nilam.


"Tapi jika berlebihan bisa dikategorikan kekerasan pada anak mengingat gadis itu masih sekolah, berhati hatilah Nona, hukum dinegara ini berlaku meskipun itu Ibunya sendiri yang memukul." kata Pria itu yang langsung membuat Anjani kesal.


"Sudah pergilah sana, dasar pria sok tahu. Tugasmu hanya mengantar paket jangan ikut campur urusan kami!" umpat Anjani yang membuat pria itu tersenyum sebelum akhirnya Ia pergi.


"Apa itu?" tanya Marni.


"Paket, untuk Ibu."


Marni mengerutkan keningnya heran, "Aneh, aku tidak pernah membeli apapun."


Sementara itu pria pengantar paket masih berdiri didepan rumah Nilam, Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Sepertinya Bos harus pulang sekarang karena keadaan Nona sangat memprihatinkan dan saya tidak bisa membantu banyak."


Setelah melaporkan pada Vandam, pria itu mencari tempat persembunyian, sewaktu waktu terjadi sesuatu pada Nilam, Ia bisa membantu.


Dan didalam rumah, Marni membiarkan Nilam masuk ke kamarnya karena Ia ingin membuka paket bersama Anjani


"Apa mungkin kiriman dari saudara jauhku?" gumam Marni tak sabar melihat apa isi paket itu.


Marni mengepalkan tangannya geram, "Sialan, siapa yang berani mengerjaiku seperti ini!" umpat Marni dan Anjani yang ada disampingnya tampak diam dan berpikir.


"Ibu tunggu, jangan jangan si tukang paket tadi kekasih Nilam." tebak Anjani, "Wajahnya terlihat tak asing, aku sempat melihatnya makan di warung soto tadi." jelas Anjani.


"Ck, apa kau yakin seperti itu?"


"Bisa saja bu, bahkan saat dia mengantar paket tadi sempat mengatakan jika kita bisa kena pasal kekerasan jika menghajar Nilam." ungkap Anjani lagi.


Marni mengepalkan tangannya, "Benar benar tak bisa dipercaya, apa yang dia lihat dari Nilam, dia hanya itik buruk rupa!"


Anjani mengangguk setuju, "Tentu saja Bu, dia tidak menarik sama sekali."


Marni membuang kardusnya, Ia berjalan menuju kamar Nilam karena Marni belum puas menghajar Nilam.


Saat akan membuka pintu, Marni semakin kesal saat tahu pintu dikunci dari dalam.


Brak ... Brak... Brak...

__ADS_1


Marni mengedor pintu Nilam dan berteriak dari luar, "Buka pintunya, jangan harap kau bisa bebas. Keluar!"


Nilam yang kini terbaring lemas dikamar hanya bisa menangis menahan rasa sakit perutnya.


"Kenapa dia begitu jahat, padahal aku hanya makan soto karena dia tidak pernah memberiku makan yang layak." gumam Nilam disela sela tangisnya.


"Ayo buka pintunya atau ku dobrak sekarang!" teriak Marni lagi membuat Nilam semakin ketakutan hingga menutup kedua telinganya agar tak mendengar apapun lagi.


"Sialan dia tidak membuka pintunya!" umpat Marni, "Coba kau dobrak pintunya!" pinta Marni pada Anjani.


"Haa? Aku Bu? Aku tidak bisa." tolak Anjani merasa tubuhnya tidak sekuat itu untuk mendobrak pintu kamar Nilam.


"Kau ini lemah sekali!"


Mata Anjani melotot, "Jika memang aku lemah, Ibu saja yang mendobrak!" sengit Anjani.


"Kau memerintahku?" Marni tak kalah kesal membuat Anjani akhirnya diam, tak lagi menjawab calon ibu mertuanya itu.


"Ada apa ini?" suara Riki terdengar, tampak Riki baru saja pulang kerja, menatap heran ke arah Marni dan Anjani yang berdiri didepan kamar Nilam.


"Pas sekali kau datang, cepat dobrak pintunya." pinta Anjani pada Riki.


Riki semakin bingung dengan permintaan Anjani, "Untuk apa mendobrak pintunya?"


"Sudah lakukan saja!" bentak Marni membuat Riki tak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan dua wanita yang Ia cintai itu.


Pintu akhirnya terbuka, Marni dan Anjani tersenyum puas akhirnya mereka bisa kembali menghajar Nilam sementara Riki tampak terkejut dengan keadaan Nilam yang memprihatinkan.


"Bangun kau!" Marni menyeret Nilam turun dari ranjang.


"Ampun Bu, perutku sakit sekali, jangan lakukan lagi." pinta Nilam masih menangis dan memegangi perutnya.


"Jadi perutmu sakit ya? kemarilah biar ku bantu agar kau sembuh." kata Anjani menendang perut Nilam hingga membuat Nilam menjerit kesakitan.


"Cukup! Apa yang kalian lakukan!" bentak Riki tak tega melihat Nilam disiksa.


"Jangan membela pelacur kecil ini Riki!" ucap Marni.


"Ya benar pelacur ini tidak pantas dibela!" tambah Anjani.


Riki semakin dibuat bingung dengan apa yang terjadi dan ketiga orang itu langsung terkejut saat melihat darah mengaliri kaki Nilam.


"Sa sakit...."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2