
Senyum Nilam mengembang saat mendengar jika les tambahannya libur hari ini jadi Ia bisa pulang lebih awal setelah melakukan ujian praktek.
"Aku ingin memberikan surprise untuk Kak Vandam." gumam Nilam menunggu taksi untuk pergi ke apartemen Vandam.
Saat taksi berhenti dilampu merah, Nilam melihat ada penjual rujak dipinggir jalan. Melihat rujak entah mengapa rasanya Nilam ingin makan rujak.
"Pak bisa berhenti didepan sebentar, saya mau beli rujak disana sebentar." pinta Nilam pada sopir taksi melihat sebentar lagi lampu sudah hijau.
"Oh siap neng, saya tunggu didepan ya." kata Sopir taksi itu.
Nilam mengangguk dan segera keluar dari taksi. Ia membeli rujak namun hanya meminta mangga muda saja.
Rasanya Nilam sudah ngiler tak sabar ingin segera menikmati rujak yang sedang dibuat oleh Penjual rujak.
"Maminya lagi ngidam ya neng?" tanya Sopir taksi saat Nilam kembali masuk ke dalam taksi.
Nilam melongo mendengar pertanyaan sopir taksi itu, "Ini buat saya pak."
Giliran sopir taksi itu yang melongo, "Aneh, jarang jarang saya ngeliat anak muda suka sama rujak, biasanya rujak dimakan para ibu hamil." kata Sopir itu lalu melajutkan perjalanan.
Seketika Nilam merasa aneh dengan dirinya, biasanya Ia juga tidak suka rujak tapi kenapa melihat rujak tiba tiba Ia ingin seperti ini?
Nilam menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya bahwa semua baik baik saja.
Sesampainya didepan Apartemen, Nilam turun dari taksi dan segera naik ke lantai atas.
Ia menekan angka sandi masuk apartemen dan pintu terbuka.
Saat Nilam akan melepaskan sepatunya, Nilam dikejutkan dengan adanya hells milik wanita.
pikiran Nilam sudah negatif thinking, Ia mempercepat gerakan melepas sepatunya lalu segera masuk ke dalam.
Jantung Nilam memompa cepat saat mendengar suara erangan Vandam dari dalam kamar.
Dengan tangan gemetar, Nilam membuka sedikit pintu kamar dan...
Nilam kembali menutup pintu kamar dengan pelan dan hati hati agar tidak menimbulkan suara.
Saat ini hatinya sangat hancur dan pipinya sudah dipenuhi air mata melihat pria yang pertama kali membuatnya jatuh cinta sedang asyik bergumul dengan gadis yang tak asing untuknya, gadis itu adalah Anjani kekasih dari Riki kakak tirinya.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka tega mengkhianati ku dan kak Riki." gumam Nilam lalu berniat pergi dari sana.
Saking lemasnya tubuh Nilam saat ini, saat berbalik rujak yang Ia beli dipinggir jalan tadi jatuh ke lantai namun Nilam tak mengambil rujaknya, Ia memilih pergi meninggalkan tempat itu sekarang juga.
Hatinya sangat hancur dan bisa bisa Ia mati saat ini juga jika berlama lama disini.
Sebelum naik taksi, Nilam sempat membersihkan wajahnya yang penuh air mata di toilet umum yang ada dilantai dasar. Ia tak ingin terlihat aneh, berjalan sambil menangis dijalanan.
Sesampainya dirumah, Nilam segera mengunci semua pintu rumahnya. Ia kunci dari dalam karena jika hanya menggunakan kunci biasa Nilam bisa menebak jika Vandam tetap bisa masuk ke dalam.
Setelah semua pintu terkunci, Ia berbaring diranjang, Nilam ingin tidur dan melupakan apa yang baru saja Ia lihat.
Dia benar benar tak ingin melihat Vandam lagi, dimanapun.
Nilam kembali menangis terisak, mengingat semua perlakuan Vandam sejak awal mereka bersama.
Diperkosa, hanya dijadikan pelampisan nafsu dan sekarang dikhianati. Rasanya benar benar menyakitkan.
"Kenapa aku harus dipertemukan dengan pria jahat seperti itu, apa salahku?" gumam Nilam lalu kembali menangis.
...****************...
"Apa kau yakin hanya itu, kau tidak ingin lebih?" tanya Anjani kembali menggoda Vandam, Anjani bahkan tak malu melepaskan setengah baju yang Ia pakai hingga terlihat gundukan gunung kembar yang menggoda namun Vandam mencoba menahan dirinya, milik Nilam sudah membuatnya puas.
"Tidak, aku tidak tidur dengan wanita licik sepertimu." kata Vandam lalu memasuki kamar mandi.
Anjani tampak mendengus sebal karena rencananya untuk tidur dengan Vandam gagal. Vandam hanya meminta mulutnya untuk memuaskan junior Vandam agar efek obat perangsang itu hilang.
Vandam sama sekali tidak menyentuhnya meskipun Ia sudah setengah telanjang dan mencoba menggodanya.
Vandam keluar dari kamar mandi, Ia ingin segera pergi menjemput Nilam dari pada harus berlama lama dengan Anjani.
"Keluar dari tempatku sekarang!" usir Vandam.
Anjani menghela nafas panjang, "Kau yakin hanya melakukan ini? Kau tidak ingin lebih?" tawar Anjani lagi.
"Kau pikir kau cantik? Tubuhmu saja tidak seksi dan penuh dengan lemak!" ejek Vandam membuat Anjani marah.
"Dasar brengsek, kau menginaku? Kau bahkan mengerang keenakan saat mulutku memainkan juniormu, apa kau tidak malu?" balas Anjani tak kalah sengit.
__ADS_1
Vandam tersenyum sengit, Ia akui permainan bibir Anjani memang sangat nikmat, Nilam mungkin kalah jika dibandingkan dengan Anjani namun meski begitu, Ia tak ingin mengkhianati Nilam lebih dari ini. Cukup sekali ini itupun karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain.
Setelah mengantar Anjani kembali ke tempat kerjanya, Vandam kembali ke apartemennya lagi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Dan saat kembali masuk, Vandam dikejutkan dengan adanya bungkusan plastik yang tergeletak dilantai apartemennya. Vandam membuka bungkusan itu dan ternyata isinya rujak.
"Apa milik Anjani? Ck dasar menyebalkan, mengotori tempatku saja!" omrl Vandam membuang rujak itu lalu Ia kembali turun kebawah.
Vandam menghentikan mobilnya didepan sekolahan Nilam. Ia sedikit heran karena sekolah sudah sepi padahal seharusnya masih ramai apalagi jam pulang sekolah masih sebentar lagi.
Vandam keluar dari mobil dan menanyakan pada satpam yang berjaga didepan.
"Semua anak anak sudah pulang mas, memang pulang awal karena para guru sedang mengadakan rapat." kata Satpam itu yang langsung membuat Vandam terkejut.
"Apa dia pulang kerumah?" batin Vandam akhirnya kembali memasuki mobil.
Vandam melajukan mobilnya, melewati taman tempat Nilam berjualan namun tidak ada Nilam disana.
Vandam akhirnya pergi kerumah Nilam dan pintu rumah masih terkunci.
"Kemana dia?" gumam Vandam sedikit frustasi lalu menelepon satpam apartemen yang mengetahui tentang Nilam.
"Loh bukannya tadi sudah ke apartemen ya den?" jawab satpam apartemen yang membuat Vandam lagi lagi terkejut.
"Tapi cuma sebentar trus balik lagi, saya juga nggak sempat nanya soalnya Neng jalan cepet."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Vandam mematikan panggilan, jantungnya berdegup sangat kencang bahkan tangannya gemetar saat ini.
Kali pertama Vandam merasakan ketakutan seperti ini.
Vandam mencoba membuka pintu dengan kunci yang Ia bawa namun gagal karena pintu terkunci dari dalam.
Vandam melihat ke sekitar, setelah dirasa sepi Ia akhirnya mendobrak pintu itu. Tidak peduli dengan pintu yang rusak, Ia akan menggantinya nanti yang terpenting sekarang dirinya bisa bertemu dengan Nilam.
Vandam berhasil masuk lalu kembali mendobrak pintu kamar Nilam dan Ia akhirnya melihat gadis yang Ia cintai meringkuk, memeluk dirinya sendiri dan menangis.
"Sayang..."
Bersambung....
__ADS_1
Yang dari kemarin penasaran kenapa Nilam bisa benci sama Vandam, gimana gimana masih penasaran kah? Hehe