
Nilam memandangi pria didepannya itu. Ia sangat ingat jika pria ini yang tadi menolongnya.
"Benar kan, kau pria yang tadi menolongku?" tanya Nilam sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Anda pasti salah Nona, bukan saya- maaf saya harus pergi." kata Pria itu setelah mendapatkan tatapan tajam dari Vandam.
"Eh tunggu, aku belum selesai!" panggil Nilam namun pria itu tak mengubris tetap pergi meninggalkan Vandam dan Nilam.
"Kau mengenalnya?"
Nilam mengangguk, "Dia yang menolongku saat Fandi memaksaku menaiki mobilnya."
"Siapa Fandi?" tanya Vandam pura pura tak tahu meskipun Vandam tahu jika pria bernama Fandi itu adalah putra dari saingan bisnisnya.
"Jangan mengalihkan pertanyaan, sekarang jujurlah saja. Kakak pasti meminta pria tadi untuk membuntutiku kan?"
Vandam tersenyum, "Bukan membuntuti tapi menjaga."
Entah mengapa Nilam merasa jantungnya berdegup sangat kencang saat Vandam mengatakan itu.
"Sekarang ceritakan siapa Fandi itu?" tanya Vandam membuyarkan lamunan Nilam.
"Dia temanku."
"Dia menyukaimu?"
Nilam mengangguk, "Tapi aku tidak menyukainya."
Vandam tersenyum, "Jangan terlalu dekat, dia sedikit berbahaya."
Nilam mengerutkan keningnya, "Berbahaya seperti apa?"
Vandam mendekatkan wajahnya, "Mungkin melakukan hal hal yang dulu sering ku lakukan padamu."
Mata Nilam membelalak mendengar ucapan Vandam, "Aku tidak mau." ucapnya dengan wajah takut.
Vandam tersenyum dan mengelus kepala Nilam, "Tidak akan terjadi, aku akan selalu melindungimu."
Entah perasaan apa ini namun Nilam merasa nyaman dan tenang saat Vandam mengatakan itu padanya.
Nilam akhirnya memeluk Vandam dan tawa Vandam langsung membuncah, "Padahal tadi kau menolak ku."
Nilam merasa malu hingga melepaskan pelukannya namun Vandam tak membiarkan itu terjadi, Vandam menahan tubuh Nilam agar tetap memeluknya.
Kini keduanya berpelukan cukup lama.
Setelah pelukan terlepas, keduanya menjadi canggung.
"Aku harus pulang sekarang kak." pinta Nilam.
"Baiklah, aku antar sekarang."
Keduanya keluar dari club dan langsung memasuki mobil.
"Apa Kakak pernah mendengar kabar dari Kak Riki?" tanya Nilam.
"Terakhir ku dengar dia dipecat."
Nilam terkejut, "Lalu sekarang?"
"Aku tidak tahu lagi, itu sudah 2 tahun yang lalu."
__ADS_1
"Aku merindukan mereka." gumam Nilam.
Vandam tertawa, "Apa kau rindu di siksa oleh mereka?"
Nilam menghela nafas panjang, "Setelah Ayah meninggal, hanya mereka yang ku punya."
"Baiklah, jika kau mau kapan kapan aku bisa mengantarmu pulang untuk menemui mereka."
Nilam menatap ke arah Vandam, "Tapi aku tidak mau merepotkanmu kak."
"Jika tidak mau, pulanglah sendiri."
"Tapi aku takut." akui Nilam.
Vandam tertawa, "Kau membingungkan, apa kau masih takut aku akan melakukan sesuatu padamu?"
Nilam mengangguk,
"Jika begitu, jangan mendekatiku. Kau akan aman."
Nilam menghela nafas panjang, entah mengapa rasanya tidak nyaman saat Vandam mengatakan itu padanya.
"Kakak pasti sudah punya pacar baru?"
Vandam tersenyum, "Kenapa kau ingin tahu? Apa kau cemburu?"
"Tidak tentu saja tidak! Aku hanya bertanya!" sentak Nilam.
"Baiklah baiklah, aku hanya menggodamu saja. Tidak perlu marah." Vandam kembali tertawa.
Kini keduanya sudah sampai didepan toko kue Nilam. Tanpa mengatakan apapun, Nilam turun begitu saja membuat Vandam kembali tertawa.
Baru ingin melajukan mobilnya, Nilam kembali membuka pintu mobil, "Jika Kakak tidak sibuk mampir saja, aku akan membuatkan kopi."
"Aku menawarkan ini karena Kakak sudah baik mau mengantarku, jangan berpikir macam macam!" tambah Nilam lalu kembali menutup pintu mobilnya.
"Kenapa dia jadi mengemaskan seperti itu." gumam Vandam akhirnya turun dari mobil dan ikut masuk ke toko kue Nilam.
"Lho bukannya kamu..." Nisa terkejut saat melihat Vandam memasuki toko karena Ia ingat jika Vandam adalah pria yang terekam di cctv.
Nisa semakin yakin saat melihat pergelangan tangan Vandam yang sudah diperban.
"Dia kakak ku, tidak perlu khawatir." kata Nilam langsung diangguki oleh Nisa.
Vandam duduk disalah satu kursi pelanggan, tak berapa lama kopi buatan Nilam datang bersama beberapa jenis kue.
"Toko mu semakin sukses." puji Vandam.
"Kakak yang memberiku jalan, jika tidak mungkin aku tidak akan memiliki semua ini."
Vandam tersenyum, "Yang aku ingat hanyalah aku yang selalu membuatmu menangis."
Nilam berdecak, "Sudahlah, jangan dibahas lagi masalah itu. Aku bahkan sudah lupa."
"Kau melupakanku?"
"Tidak bukan seperti itu." Nilam jadi gugup.
"Sedih sekali rasanya, dilupakan oleh-"
"Aku mau membantu Nisa, kakak nikmati saja kopi dan kuenya." potong Nilam lalu pergi begitu saja meninggalkan Vandam yang langsung tertawa.
__ADS_1
Hari sudah petang, toko juga sudah tutup namun Vandam masih duduk ditempatnya meskipun kopi dan kuenya sudah habis.
"Aku pulang dulu ya mbak." ucap Nisa lalu keluar dari toko.
Kini tinggalah Nilam dan Vandam yang masih berada di toko itu.
"Kakak tidak pulang?"
"Kau mengusirku?"
"Tidak bukan begitu." balas Nilam tak ingin salah paham "Aku harus naik ke atas untuk mandi dan makan malam."
"Aku ikut, aku juga belum makan malam." kata Vandam penuh percaya diri langsung menaiki tangga tanpa menunggu izin dari Nilam.
Selesai mandi, Nilam mengajak Vandam makan malam dibalkon kamar.
Vandam tampak menikmati makan malamnya karena sudah lama Ia tak makan masakan Nilam.
"Bagaimana kakak bisa mendapatkan kunci pintu balkon kamarku?" tanya Nilam penasaran.
"Dari pemilik tempat ini."
"Ahh iya aku hampir lupa jika Kakak yang membawaku kesini."
Vandam tersenyum, "Tapi aku tidak akan melompat lagi malam ini."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah bertemu denganmu secara langsung seperti ini."
"Lalu jika aku tidak mau bertemu lagi?"
"Aku akan melompat seperti biasa untuk melihatmu." balas Vandam membuat pipi Nilam merona, memerah malu.
"Aku akan mengganti kuncinya."
Vandam tertawa, "Lakukan saja, aku pasti tetap bisa masuk."
Setelah selesai makan malam, Vandam membantu Nilam mencuci piring lalu menemani Nilam belajar hingga tak terasa sudah pukul 10 malam.
"Kakak tidak pulang? Apa kakak tidak bekerja?" heran Nilam melihat Vandam masih bersantai dikamarnya.
"Kau mengusirku lagi."
"Aku tidak mengusir, hanya bertanya." protes Nilam.
Vandam tersenyum, "Aku akan pergi setelah kau tidur."
"Tapi jika Kakak masih disini, aku mungkin tidak akan bisa tidur." kata Nilam.
"Lalu aku harus apa? Mungkinkah aku harus menemanimu berbaring?"
Mata Nilam langsung saja melotot, "Tidak, aku akan tidur sendiri!" kata Nilam lalu berbaring memunggungi Vandam dan tak berapa lama, Nilam sudah terlelap.
"Padahal dia sendiri yang mengatakan tidak bisa tidur jika aku masih disini." gumam Vandam lalu tersenyum geli.
Vandam segera pergi, kali ini Ia tak lewat balkon kamar melainkan lewat pintu utama karena Vandam memiliki semua kunci pintu ditoko kue Nilam.
Vandam memasuki mobilnya, jalanan sudah sepi namun Vandam sempat melihat pengguna motor baru saja melewatinya.
Tanpa curiga, Vandam melajukan mobilnya meninggalkan toko kue Nilam.
__ADS_1
Bersambunggg....