
Nilam baru bangun dari tidurnya, Ia melihat ke arah jam dinding pukul 7 malam. Perutnya sangat lapar membuat Nilam beranjak pergi ke dapur untuk melihat apa yang bisa Ia makan.
Nilam keluar dari kamarnya, rasanya sepi tidak ada satu orangpun disana.
"Jam berapa mereka akan pulang?" batin Nilam lalu menggelengkan kepalanya karena itu bukan urusannya.
"Bagus sekali dapurnya." puji Nilam penuh rasa kagum apalagi melihat kulkas besar 2 pintu yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.
Saat membuka pintu kulkas, lagi lagi Nilam dibuat kagum karena isi kulkas penuh dengan bahan makanan dan makanan siap saji.
"Apa aku boleh makan ini semua?" gumam Nilam lalu tertawa.
Nilam mengambil buah apel dan pisang karena Ia tak ingin makan berat untuk malam ini.
"Apel ini rasanya sangat enak dan manis, beda sekali dengan apel yang sering dibeli Ibu." gumam Nilam lagi mengingat jika Ibunya membeli buah, Ia selalu mendapatkan jatah buah yang sudah hampir busuk.
Setelah menghabiskan apel dan pisang, Nilam masih merasa lapar, Ia kemudian membuka kulkas lagi dan mengambil coklat serta jus.
"Aku bisa gemuk jika makan banyak seperti ini setiap hari." celetuk Nilam lalu tertawa geli.
Selesai makan, Nilam berkeliling di apartemen mewah Arga. Ia membuka pintu balkon dan duduk disana.
"Indah sekali." puji Nilam menatap ke arah kota yang penuh dengan lampu kerlap kerlip juga bintang yang bertebaran dilangit.
Cukup lama Nilam duduk disana, kantuknya pun mulai menyerang membuat Nilam beranjak dari duduknya untuk kembali tidur.
"Aku tidak harus menunggu mereka kan?" gumam Nilam lalu memejamkan matanya.
Sementara itu diclub malam, Vandam terlihat duduk diruangan Arga setelah baru saja menyelesaikan masalah yang terjadi di club.
Mata Vandam sibuk menatap layar ponselnya sambil sesekali mengulas senyum. Saat ini Vandam tengah melihat rekaman cctv yang ada di apartemen. Ia tersenyum lega melihat Nilam bangun dan mau makan malam.
"Kau sangat mencintai gadis itu hingga kau terlihat seperti orang gila." cibir Arga tak sengaja melihat Vandam tersenyum.
Vandam pun segera mematikan ponselnya, "Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa menahan diri." kata Vandam merasa tak enak.
"Tidak masalah, aku mengerti apa yang kau rasakan. Ngomong ngomong sampai dimana tentang Sarah? Kapan aku bisa memilikinya?"
Vandam tersenyum, "Sedikit lagi Tuan, Ayahnya sudah masuk dalam jebakan jadi kita tinggal menunggu."
"Baiklah, aku benar benar sudah tak sabar ingin merasakannya lagi." kata Arga sambil tersenyum nakal.
Vandam keluar dari ruangan Arga, membiarkan Arga sendiri. Ia mencari tempat lalu menghubungi seseorang, "Aku mempunyai pekerjaan untukmu." kata Vandam dengan senyum menyerigai, "Besok pagi kita bertemu ditempat biasa dan aku akan mengatakan apa yang harus kau kerjakan."
Vandam mengakhiri panggilan setelah selesai berbicara dengan seseorang. Ia kembali tersenyum menyerigai.
"Aku akan membalas perbuatan mereka satu persatu."
__ADS_1
...****************...
Pagi ini Nilam bangun awal. Pukul 5 pagi Ia sudah bersiap pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan Tuannya.
"Biasanya apa yang mereka makan untuk sarapan?" gumam Nilam sambil melihat lihat isi kulkas.
"Sandwich." suara seseorang membuat Nilam terkejut dan segera berbalik. Nilam tersenyum mengangguk karena ternyata itu suara Arga.
"Buatkan kami Sandwich dan kopi panas untuk sarapan." pinta Arga mengulang ucapannya.
"Baiklah Tuan." balas Nilam melihat ke sekitar dan hanya ada Arga disana.
"Kau mencari kekasihmu ya? Dia ada urusan sebentar diluar." kata Arga seolah tahu apa yang Nilam pikirkan.
"Ti tidak Tuan, saya- dia bukan kekasih saya."
Arga hanya tersenyum lalu pergi ke kamarnya.
Nilam menghela nafas panjang, "Dia datang tiba tiba, mengejutkan saja."
Nilam segera membuatkan sandwich, beruntung Ia gemar membaca aneka resep jadi Ia bisa tahu cara membuat sandwich meskipun Ia belum pernah membuatnya.
Nilam baru saja selesai membuat Sandiwch dan kopi, Ia menyiapkan dimeja makan. Tak berapa lama Arga keluar dari kamarnya, sudah berganti pakaian, mengenakan kaos hitam dan celana pendek membuat pria itu terlihat semakin tampan.
"Apa yang kau lihat?" tanya Arga membuat Nilam terkejut dan segera memalingkan pandangan.
"Jangan melihat bekas luka di pipi ku, karena aku tidak suka." kata Arga.
Nilam menunduk takut, merasa Ia sudah melakukan kesalahan. "Maafkan saya Tuan."
Nilam ingin beranjak dari dapur, namun Arga menghentikan langkah kakinya, "Apa kau tidak sarapan? Duduklah, sarapan denganku." ajak Arga.
Jantung Nilam berdegup sangat kencang, Ia tak menyangka jika majikannya begitu baik, sangat baik hingga mengajaknya sarapan bersama dimeja makan yang sama pula.
"Tidak Tuan, saya..." Nilam menolak karena merasa tak pantas duduk satu meja dengan Arga.
"Baiklah terserah kau saja." Arga tidak memaksa.
Nilam pergi dari dapur, memilih memasuki kamar. Ia duduk dipinggir ranjang sambil memeganggi jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Apa ini? Kenapa dia sangat baik, aku benar benar takut." batin Nilam.
Baru merasakan tenang sedikit, pintu kamar terbuka, Nilam melihat Vandam masuk ke kamar dengan raut wajah lesu dan mengantuk.
Vandam tak mengatakan apapun, Ia mengambil baju ganti dan langsung memasuki kamar mandi.
"Ada apa dengannya? Aneh sekali." heran Nilam.
__ADS_1
Vandam keluar dari kamar mandi dan melihat Nilam masih duduk ditempatnya. Kini Vandam terlihat sudah segar. Ia berjalan mendekati Nilam dan langsung memeluk gadis itu.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Vandam.
Nilam diam, Ia enggan menjawab Vandam.
"Kau ingin aku merobek mulutmu?"
"Tidak, aku belum sarapan." balas Nilam terdengar takut.
Vandam tertawa, "Kau memang suka sekali diancam." Vandam beranjak dari duduknya lalu mengenggam tangan Nilam, "Dimeja makan ada piring kotor, bersihkan." perintah Vandam.
Nilam melepaskan genggaman tangan Vandam lalu keluar lebih dulu.
Sudah tidak ada Arga juga piring kotor seperti yang Vandam katakan, hanya ada secangkir kopi yang sudah dingin juga sandwich milik Vandam.
"Apa Tuan Arga mencuci piringnya sendiri?" batin Nilam.
Nilam menghela nafas panjang karena Vandam membohonginya, Ia berniat kembali ke kamar namun Vandam menahan tangannya lalu menariknya hingga Ia duduk dikursi samping Vandam.
"Temani aku sarapan!" pinta Vandam memotong sandwichnya menjadi 2 lalu diberikan pada Nilam.
"Aku tidak lapar!"
"Lapar atau tidak, kau harus makan."
"Tapi aku tidak terbiasa sarapan." kata Nilam dingin.
"Mulai sekarang biasakanlah."
Nilam kembali menghela nafas panjang lalu menuruti Vandam, Ia mulai makan sandwich buatannya dan rasanya lumayan juga.
"Rasanya enak." puji Vandam namun tidak membuat Nilam tersenyum bangga.
Selesai makan, Vandam meneguk habis kopinya, "Lain kali buatkan aku kopi pahit jangan kopi seperti ini."
Nilam mengerutkan keningnya tak mengerti,
"Rasanya asin."
Seketika mata Nilam melotot mendengar ucapan Vandam.
"Asin? Jadi milik Tuan juga..."
Vandam hanya tertawa.
Bersambung....
__ADS_1