NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
17


__ADS_3

Nilam membuka pintu rumahnya dan terkejut saat melihat Riki dan kekasihnya Anjani sedang duduk disofa.


"Baru pulang dek?" tanya Riki ramah sementara Anjani terlihat acuh pada Nilam.


Anjani memang tidak terlalu menyukai Nilam, Ia tidak pernah bersikap ramah dengan Nilam.


"Iya kak." balas Nilam dengan suara lesu.


Baru ingin ke belakang, Nilam sudah dihadang oleh Marni.


"Jam segini baru pulang!" omel Marni.


"Maaf Bu, Nilam muter muter biar habis donatnya soalnya hari ini agak sepi." kata Nilam terpaksa berbohong.


"Udahlah Bu, kasihan Nilam capek malah dimarahin." Riki menasehati Ibunya.


Marni mendengus sebal, "Mana uangnya?"


Nilam memgeluarkan uang yang baru Ia ambil dari atm bersama Vandam dan Ia menyerahkan semuanya.


"Kok lebih?"


"Tadi ada yang beli trus nggak ada kembalian sama orangnya dikasih semua."


Marni tersenyum senang, "Sering sering aja kayak gini kalau perlu kamu nggak usah punya kembalian biar dapatnya lebih banyak." kata Marni.


Nilam hanya menghela nafas panjang,


"Kamu masak sana, Mau belanja bahan donat dulu!" kata Marni lalu keluar dari rumah.


Nilam kembali menghela nafas panjang, tubuhnya remuk dan Ia kelelahan namun masih harus memasak untuk makan malam.


"Eh Lo balik?" suara Riki membuat Nilam berbalik untuk melihat siapa yang datang.


Nilam terkejut karena Vandam yang datang kerumahnya.


Vandam membawa satu plastik besar berlogo makanan fastfood.


"Nih makan malam." ucap Vandam meletakan plastik dimeja.


"Nilamm... Nggak usah masak!" teriak Riki padahal Nilam masih berdiri disana.


"Eh krain udah ke dapur." kata Riki lalu tertawa.


Vandam tampak duduk, diam diam mengedipkan mata ke arah Nilam membuat gadis itu mau tak mau tersenyum.


"Nggak apa apa Kak kalau nggak masak? Nanti Ibu marah."


Riki berdecak, "Enggak apa apa, lagian ini dibawain ayam goreng banyak banget." kata Riki yang akhirnya diangguki oleh Nilam.


Nilam segera pergi ke kamarnya untuk istirahat sejenak sebelum Ia mulai membuat adonan donat.

__ADS_1


"Dia pasti sengaja datang karena nggak mau aku masak." batin Nilam penuh percaya diri.


Nilam keluar kamar setelah mendengar teriakan Ibunya. Ia melihat masih ada Vandam dirumahnya, sedang mengobrol bersama Riki dan Anjani.


"Enak kamu ya nggak masak! Udah sana buruan bikin donat!" omel Marni tidak peduli disana ada Vandam dan Anjani yang melihat.


Tanpa mengatakan apapun, Nilam segera membawa bahan donat ke dapur.


Nilam segera memulai membuat donat agar cepat selesai dan dia bisa istirahat.


Saat Nilam sedang sibuk didapur, tiba tiba ada yang mengecup pipinya, sontak membuat Nilam terkejut.


"Kak..." Ucap Nilam saat melihat Vandam menciumnnya, Nilam melihat ke sekitar dan merasa lega karena tidak ada siapapun disana.


"Harusnya kamu ngelawan, ini rumah kamu, bagaimana bisa kamu hanya diam saja saat ditindas seperti itu!" omel Vandam.


Nilam menghela nafas panjang, "Setelah Ayah nggak ada mereka yang sudah biayai sekolah aku, jadi aku nggak mungkin nglakuin itu kak."


Vandam berdecak, "Tinggalkan rumah ini, ikutlah bersamaku!"


Nilam tersenyum masam, "Itu tidak mungkin kak."


"Kau benar benar menyebalkan!" omel Vandam lalu pergi meninggalkan Nilam.


Lagi lagi Nilam hanya bisa menghela nafas panjang.


Semua orang bersiap makan malam tanpa mengajak Nilam yang tengah membuat donat.


Riki terlihat gugup dan merasa tak enak, Riki tahu jika Ia tak mungkin mengaja Nilam mengingat ibunya...


"Tidak Vandam, dia sudah biasa makan terakhir." balas Marni.


"Kenapa harus begitu, bukankah dia juga bagian dari keluarga ini?" tanya Vandam membuat Marni kesal karena Vandam terlalu ikut campur.


"Ya tentu saja dia bagian dari keluarga tapi dia sendiri yang memilih untuk tidak makan malam bersama kami." ungkap Marni yang jelas sekali berbohong.


"Sudahlah untuk apa meributkan masalah ini, lebih baik kita kembali makan." timpal Anjani.


"Aku akan mengajaknya makan bersama kita." kata Vandam lalu beranjak dari duduknya.


Namun baru selangkah berjalan, langkah kaki Vandam terhenti karena ucapan Marni, "Kenapa kau begitu peduli? Apa kau menyukai Nilam?"


Vandam tersenyum, "Terkadang orang peduli bukan karena suka melainkan sadar jika dirinya juga manusia."


Jlebb... Kata kata Vandam terasa menusuk Marni. Vandam berjalan menghampiri Nilam.


"Hentikan pekerjaanmu, ayo makan malam!" ajak Vandam.


Nilam menggelengkan kepalanya, Ia sadar jika tidak diajak oleh Marni jadi Ia tidak mungkin ikut makan malam bersama.


"Tidak kak, nanti saja." tolak Nilam.

__ADS_1


"Nanti sampai lauknya dihabiskan oleh Ibumu agar kau tidak bisa makan malam?"


Nilam terkejut karena Vandam tahu tentang hal itu.


"Tidak Kak, Ibu tidak seperti itu."


Vandam berdecak, kesal dengan Nilam yang masih saja baik dengan Marni padahal Marni sudah jahat padanya.


"Ikut makan atau aku akan mengatakan pada mereka jika kita mempunyai hubungan spesial!" ancam Vandam yang langsung membuat Nilam takut dan akhirnya menuruti Vandam.


Kini Nilam bergabung bersama Marni untuk makan malam. Terlihat jelas jika Marni dan Anjani tidak menyukai kehadirannya.


"Makanlah yang banyak." kata Vandam mengambilkan nasi dan lauk untuk makan.


"Ini terlalu banyak kak." ucap Nilam namun Vandam memaksa.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Marni dengan mata melotot menatap Nilam.


Nilam menggelengkan kepalanya, tak berani menatap ke arah Marni.


"Biarkan dia makan dulu!" sentak Vandam.


"Iya Bu, sudahlah biarkan Nilam makan." Riki ikut menimpali membuat Marni akhirnya diam.


"Aku selesai, rasanya aku sudah tidak nafsu makan!" ucap Anjani meletakan piringnya yang masih banyak nasi.


"Habiskan sayang." pinta Riki namun tak digubris oleh Anjani.


Nilam sadar, sangat sadar jika kehadirannya membuat Marni dan Anjani kesal namun mau bagaimana lagi, Ia tak ingin Vandam membocorkan tentang hubungan mereka.


"Aku juga tidak nafsu makan lagi." kata Marni ikut meletakan piringnya namun di piring Marni hanya tersisa sedikit.


Melihat hal itu, Nilam mempercepat makannya hingga akhirnya Ia menghabiskan nasinya, "Sudah habis, aku akan pergi ke belakang lagi." kata Nilam lalu beranjak dan membawa piring kotornya.


"Jika kau ada rasa dengan gadis itu, sebaiknya kau urungkan saja niatmu." kata Marni pada Vandam.


Vandam mengerutkan keningnya, tak mengerti apa maksud Marni.


"Dia memang cantik tapi dia bukan gadis baik baik, para tetangga sering melihatnya pulang diantar mobil, bahkan kau tahu sendiri waktu itu dia 5 hari tidak pulang kerumah." ungkap Marni lagi.


"Ibu... Sudahlah jangan dibahas lagi." pinta Riki merasa malu dan tak enak.


Vandam hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika Nilam pergi bersama Vandam sendiri jadi Ia tidak akan terpengaruh dengan ucapan Marni yang ingin menjatuhkan Nilam.


"Vandam itu orang baik, aku tidak mau Vandam menyukai gadis yang salah, lagipula aku sudah memiliki rencana untuk Nilam."


"Rencana apa?" tanya Vandam penasaran.


"Aku berniat menjodohkan Nilam dengan Haji maaruf. Nilam akan menjadi istri kelimanya."


Tanpa disadari oleh Marni, Vandam mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2