
Nilam merasa gugup dan bingung karena Ia hanya ingin membuat Vandam emosi. Sama sekali tidak ada niat untuk menemui Arga dan sekarang yang terjadi, Arga sudah berdiri didepannya menatap dirinya heran.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Arga karena Nilam tak kunjung menjawab.
Nilam hanya diam, bingung harus menjawab apa.
"Dia ingin berterimakasih pada Tuan sekaligus mengucapkan salam perpisahan karena hari ini berangkat ke pulau Tuan." kata Vandam yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Nilam.
Seketika suara tawa Arga terdengar, "Kau mengatakan itu seolah kita tidak akan bertemu lagi padahal aku juga akan sering sering ke pulau karena nanti disana juga tempat tinggal ku." jelas Arga.
Mau tak mau Nilam tersenyum untuk meredakan kekikukan yang Ia buat sendiri.
"Saya permisi Tuan." pamit Nilam kembali ke kamarnya.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Arga pada Vandam yang masih berdiri ditempatnya.
"Hanya pertengkaran kecil Tuan, dia memang seperti itu."
Arga tersenyum, "Apa aku nanti juga akan bertengkar sepertimu? Rasanya pasti akan menyenangkan. Aku sudah tak sabar ingin segera memiliki Sarah."
"Saya akan mengusahakan secepatnya Tuan." kata Vandam yang langsung diangguki oleh Arga.
Vandam kembali ke kamarnya, melihat Nilam duduk diranjang sambil memainkan ponselnya. Vandam tersenyum kecil lalu menghampiri Nilam dan mengecup bibir gadis itu.
"Kita berangkat sekarang." ajak Vandam.
Tanpa mengatakan apapun, Nilam beranjak dari duduknya, mengambil tas selempang dan menatap Vandam seolah mengatakan jika aku sudah siap.
Vandam mendekati Nilam, merangkul gadis itu dengan sebelah tangan menyeret koper Nilam. Keduanya keluar bersamaan.
Nilam memasuki mobil Vandam, setelah perjalanan darat hampir 2 jam keduanya sampai di bandara dan menaiki helikopter pribadi.
"Hanya kita berdua?" tanya Nilam merasa heran karena yang Nilam tahu jika penumpang pesawat itu sangat banyak.
"Ya, ini helikopter pribadi milik Tuan."
Mulut Nilam mengangga tak percaya, "Tuan sangat kaya raya."
Vandam tersenyum sinis, "Seharusnya kau cukup sadar diri dengan ini, Tuan tak akan menyukai gadis miskin sepertimu."
Nilam tersenyum seolah tak sakit hati dengan ucapan Vandam, "Ada banyak cerita Tuannya menyukai pembantunya, Tuannya mencintai pembantunya dan Tuannya menikahi pembantunya jadi kenapa aku harus-"
__ADS_1
"Mungkin jika kau masih perawan, kau bisa percaya diri mengatakan itu tapi ingatlah kau bahkan bekas dari anak buah Tuanmu, mana mungkinmu bisa menyukaimu seperti dalam cerita yang kau katakan." potong Vandam lalu tersenyum.
Mata Nilam menatap Vandam penuh kebencian, pria disampingnya itu sudah benar benar menorehkan luka dalam segala hal. Tidak hanya luka hati namun juga batin dan fisiknya terluka karena perbuatan pria itu.
Keduanya akhirnya sampai di pulau terpencil dimana ada rumah yang bak istana disana dan lagi rumah itu dekat pantai, bahkan bisa melihat pantai dari rumah itu.
"Disini kamar kita." kata Vandam membawa Nilam masuk ke sebuah kamar.
"Kenapa harus bersama? Bukankah ada banyak kamar disini?"
"Tentu saja ada banyak tapi aku ingin selalu bersamamu."
"Tapi aku tidak!" tolak Nilam.
"Aku tidak peduli." ucap Vandam lalu mencium bibir Nilam membuat gadis itu terkejut dan tak bisa melakukan perlawanan.
"Rasanya selalu manis, aku menyukainya." gumam Vandam setelah melepaskan bibir Nilam.
Plakkk... Nilam menampar pipi Vandam namun pria itu malah tersenyum dan kembali mencium bibir Nilam.
Nilam berusaha melawan, mendorong pria itu namun usahanya gagal. Vandam benar benar menguasai dirinya apalagi kini Ia malah didorong hingga jatuh ke ranjang, semakin menjadi Vandam menguasainya dan lagi Ia merasa diperkosa oleh pria itu.
Selama 2 hari berturut turut, Vandam tiada henti melampiaskan hasratnya. Pria itu benar benar kejam, tak memikirkan perasaan Nilam.
Nilam hanya diam tak bergeming, Ia memeluk tubuhnya yang kini hanya tertutup selimut.
"Ku harap kau merindukanku." ucap Vandam lalu mengecup pipi Nilam.
"Aku berharap kau tak akan kembali!" balas Nilam tanpa ekspresi.
Vandam tertawa, "Tapi kurasa kau akan kecewa karena aku pasti akan datang lagi untuk menikmati tubuh seksimu."
Nilam mengepalkan tangannya, Ia benar benar benci dengan Vandam.
Pria itu benar benar sudah keterlaluan.
"Lupakan apapun yang terjadi dan menikahlah denganku. Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik." pinta Vandam yang kini sudah rapi mengenakan setelannya.
"Aku tidak sudi!"
Raut wajah Vandam berubah kecewa, "Baiklah, mau memang lebih suka diperlakukan seperti ini." kata Vandam lalu beranjak dari duduknya, "Aku berangkat sekarang." pamit Vandam lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Nilam.
__ADS_1
Setelah Vandam keluar, Nilam masih diam termenung seolah memikirkan sesuatu hingga akhirnya Ia mendapatkan ide, "Aku harus pergi dari sini!"
Nilam pergi mandi dan berganti pakaian, Ia keluar namun tempat ini sangat gelap karena sudah malam.
"Hey kamu mau kemana?" tanya beberapa pria yang mungkin ditugaskan untuk menjaga tempat ini.
"Hanya melihat lihat keluar." bohong Nilam.
"Sudah malam, bahaya takutnya ada binatang buas karena dibelakang sana hutan. Masuk dan kau bisa keluar besok pagi." kata salah satu pria yang akhirnya diangguki oleh Nilam.
Nilam akhirnya masuk dan pergi tidur, Ia akan melanjutkan rencananya besok pagi.
Dan benar saja, pagi bangun tidur, Nilam segera keluar untuk melihat tempat yang Ia tinggali itu.
"Apa kau mau kabur?" tebak salah satu pria penjaga yang melihat Nilam gelisah dipinggir pantai.
"Tidak!"
Pria itu tersenyum, "Jika aku ingin kabur, urungkan saja niatmu itu. Kau hanya bisa keluar dari sini menggunakan helikopter."
"Apa tidak bisa menggunakan kapal itu?" Nilam menunjuk kapal nelayan yang ada dipinggir pantai.
"Tentu saja tidak, butuh waktu seminggu untuk menyebrangi lautan ini dan ditengah laut sana ombaknya sangat besar. Jika kau siap mati pergilah!"
Nilam tentu saja ngeri mendengar cerita penjaga itu, tanpa mengatakan apapun lagi Ia akhirnya kembali ke kamarnya.
"Aku benar benar sudah tidak tahan hidup seperti ini tapi aku juga takut mati." gumam Nilam lalu mengambil ponselnya untuk menghibur diri.
Ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Vandam dan juga beberapa pesan.
Nilam membaca pesan Vandam yang paling bawah,
Jangan coba coba kabur. jika kau kabur, aku akan mengambil kembali uangku pada rentenir itu dan kau akan melihat Riki mati.
Nilam membanting ponselnya diranjang setelah membaca pesan ancaman dari Vandam.
Ia kembali diam, memikirkan cara agar bisa membalas semua perbuatan Vandam padanya.
Pelecehan saat Ia masih sekolah juga perselingkuhan dengan Anjani dan saat ini pemaksaan atas dirinya membuat Nilam muak.
"Aku memang tidak bisa lepas dari mu tapi aku akan membuatmu melepaskan aku."
__ADS_1
Bersambung...