NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
30


__ADS_3

Vandam baru saja sampai di klinik dimana anak buahnya sempat menghubunginya dan memberikan alamat klinik tempat Nilam dirawat.


"Saya minta maaf bos, saya tidak bisa menjaga Nona dengan baik hingga terjadi seperti ini." kata Anak buah Vandam terlihat merasa bersalah.


"Jangan katakan jika..."


"Maafkan Saya Bos."


Tubuh Vandam lemas seketika mendengar pengakuan anak buahnya. Harapannya untuk mengikat Nilam pupus sudah apalagi mengingat Nilam masih salah paham perihal masalah Anjani. Kedepan mungkin akan lebih berat lagi untuk bisa mendapatkan hati Nilam.


"Siapa yang sudah melakukan ini?" tanya Vandam.


"Saya pikir Ibunya dan Anjani Tuan karena saya sempat melihat mereka menghajar Nona didalam rumah."


Vandam mengepalkan tangannya, Ia memastikan akan menghancurkan 2 wanita yang sudah tega membunuh calon bayinya itu.


Setelah berbicara dengan kedua anak buahnya, Vandam memasuki klinik dan langsung melihat Riki yang tengah duduk dikursi panjang. Wajah Riki terlihat shock dengan pandangan mata kosong.


"Bro..." panggil Vandam kala sudah berada didepan Riki.


Riki masih tak menyahut, Ia masih melamun entah apa yang Ia pikirkan.


"Rik..." panggil Vandam sekali lagi dan kali ini Vandam menepuk bahu Riki yang akhirnya membuat Riki sadar dan menatap Vandam.


"Lo? Ngapain disini?" tanya Riki dengan tatapan terkejut.


"Gue tadi kerumah tapi katanya Lo disini makanya gue susul kesini," bohong Vandam padahal Vandam tidak kerumah Riki.


"Siapa yang sakit?"


"Nilam." balas Riki jujur.


"Sakit apa?"


Riki hanya diam.


"Dihajar nyokap Lo lagi?"


Mata Riki menatap Vandam dengan tatapan terkejut, "gue..."


"Emang gila nyokap Lo!" umpat Vandam penuh emosi.


"Ya gimana lagi, Nilamnya juga bandel." bela Riki.


Vandam mengepalkan tangannya, rasanya tak terima saat Riki mengatakan Nilam bandel.


"Dia keguguran dan gue nggak tahu siapa yang udah ngehamilin dia, gue udah gagal jadi kakak." kata Riki kembali duduk dan tertunduk lesu.


Vandam menghela nafas panjang, rasanya juga menyakitkan untuknya. Dirinya sudah bahagia akan segera menikahi Nilam namun keadaannya seperti ini.

__ADS_1


"Jangan bilang sama Nyokap Lo masalah ini!" kata Vandam, "Bisa bisa adik Lo dibunuh sama nyokap Lo!"


Riki mengangguk, "Gue tahu."


"Lo udah masuk?" tanya Vandam.


"Belum, rasanya gue nggak sanggup ngeliat Nilam."


Vandam mengeluarkan dompetnya lalu mengambil uang 100ribuan 2 lembar.


"Mendingan Lo cari makan trus istirahat, Nilam biar gue tungguin." kata Vandam.


"Serius Lo?" Riki menatap Vandam tak percaya.


Vandam mengangguk dan Riki langsung berdiri lalu menepuk bahu Vandam.


"Makasih bro."


Riki akhirnya pergi memberi kesempatan Vandam untuk masuk ke dalam ruangan Nilam.


Vandam berjalan mendekati Nilam dan Ia kembali merasakan sakit hatinya saat melihat Nilam berbaring lemas dengan mata masih terpejam dan wajahnya banyak luka memar bahkan bibirnya terlihat ada darah yang mengering, sepertinya bibir Nilam robek.


Vandam mengepalkan tangannya, Ia berjanji akan membalas perbuatan 2 wanita yang sudah menyiksa Nilam hingga bayinya terbunuh.


"Anjani dan Marni." gumam Vandam.


"Akan ku panggilkan dokter." kata Vandam terlihat senang lalu berlari keluar untuk mencari dokter.


"Semua sudah membaik dan harus istirahat total selama seminggu ini."


"Baiklah Dok, terimakasih." ucap Vandam yang langsung diangguki oleh Dokter itu.


Kini hanya ada Vandam dan Nilam diruangan itu. Vandam kembali duduk, menatap Nilam yang memalingkan wajahnya.


"Lebih baik kau di rawat disini selama seminggu, aku khawatir jika-"


"Sebaiknya kau pergi!" pinta Nilam masih tak menatap Vandam.


"Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu sampai kau sembuh." kata Vandam.


Nilam tersenyum sinis, "Jika begitu lebih baik aku mati saja." kata Nilam dengan suara serak menahan tangis.


"Semua akan baik baik saja, apa yang kau takutkan?" tanya Vandam mencoba meraih tangan Nilam namun dengan cepat Nilam menyentak tangan Vandam.


Nilam menatap Vandam dengan geram, "Apa kau tidak sadar sudah menghancurkan hidupku?"


Vandam terdiam, Ia sadar sangat sadar apa yang Ia lakukan pada Nilam kesalahan fatal. Vandam sudah merusak hidup gadis malang itu karena rasa kesalnya pada Riki namun kini semua berubah, Vandam malah mencintai Nilam.


"Kau memperkosaku berkali kali hingga aku hamil, apa yang harus ku katakan pada Ibu dan Kak Riki?" tanya Nilam yang akhirnya kini menangis, "Kenapa kau bisa sejahat ini padaku, apa salahku padamu?"

__ADS_1


Rasanya dada Vandam sesak dan hatinya nyeri mendengar ucapan serta isakan tangis Nilam.


"Tapi sekarang bayi itu sudah tidak ada." balas Vandam.


Nilam tersenyum sinis, "Lebih baik begitu karena jika adapun aku tidak akan pernah menyentuh bayi itu!"


Vandam menatap Nilam tak percaya, "Apa yang kau katakan?"


"Kenapa? kau marah? Kau membenciku? Itulah yang kurasakan saat ini. Rasanya aku tidak mau melihatmu lagi." kata Nilam mengusap pipinya yang basah dengan air mata lalu menghentikan tangisnya.


"Setelah ini aku akan membawamu ke kota, aku akan menikahimu dan kita akan hidup bersama dikota."


Nilam tertawa hambar, "Kau pikir aku mau? Aku tidak sudi menikah dengan pria sepertimu!"


Vandam mengepalkan tangannya, "Apa kau lupa siapa aku?" tanya Vandam dengan senyuman sinis "Aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ku inginkan."


Nilam kembali menangis mendengar ucapan Vandam. Nilam sudah lelah, sangat lelah, hidup ini melelahkan untuknya.


Nilam melepas infusnya, tak peduli darah mengalir dari pergelangan tangannya membuat Vandam terkejut.


"Apa yang kau lakukan!" sentak Vandam.


"Lebih baik aku mati dari pada harus hidup dengan pria sepertimu!" ucap Nilam.


Vandam panik dan langsung berlari keluar memanggil suster, "Infusnya lepas, tolong pasang kembali." pinta Vandam yang langsung diangguki suster yang berjaga.


Vandam dan Suster terkejut saat masuk dan melihat Nilam mencoba turun dari ranjang,


"Apa yang kau lakukan? Kau dilarang turun dari ranjang!" Suster itu memperingatkan.


"Jika pria itu masih disini, aku akan melakukan apapun yang dilarang!" kata Nilam sambil menunjuk ke arah Vandam.


Suster itu segera menatap ke arah Vandam, "Sebaiknya kau turuti permintaan pasien, akan membahayakan keadaan pasien jika Ia seperti ini."


Vandam merasa kesal namun Ia tidak memiliki pilihan lain, "Kau menang saat ini tapi ingat aku pasti akan mendapatkanmu kembali." kata Vandam lalu keluar dari ruangan Nilam.


Tubuh Nilam lemas seketika bahkan Ia tersungkur dilantai mendengar ucapan Vandam.


Pria itu benar benar sangat egois dan tidak akan membiarkan dirinya pergi.


"Ayo kembali ke ranjangmu."


Suster itu membantu Nilam, "Apa yang terjadi? pria tadi terlihat mengkhawatirkanmu? Apa dia ayah dari bayi yang sempat kau kandung?" tanya Suster itu penasaran.


"Tidak, dia bukan siapa siapa. Dia hanya pria egois. Aku sangat membencinya!"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2