NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
21


__ADS_3

Demi menuruti keinginan Nilam, Vandam rela menahan diri untuk tidak melakukan apapun pada gadis itu.


Meskipun Ia bisa saja memaksa dan mungkin Nilam juga tak akan berani menolak namun entah mengapa hati kecilnya berkata agar Ia berhenti menjadi egois. Vandam tidak boleh memikirkan dirinya sendiri, Ia juga harus memikirkan perasaan Nilam.


Malam ini Ia tak lagi melakukan apapun, Ia tidur sambil memeluk Nilam, ya hanya memeluk.


Dan siang ini Vandam menjemput Nilam. Rencananya Ia ingin mengajak Nilam makan siang setelah itu pergi ke sebuah danau yang tak jauh dari sekolah Nilam. Tempat yang ingin Nilam kunjungi dan Vandam tahu itu setelah membaca buku diary milik Nilam.


"Kita kesini kak?" Nilam terlihat senang saat Vandam menghentikan mobilnya didepan taman dimana didalamnya terdapat danau.


"Hmm, aku ingin bersantai disini." balas Vandam kembali menatap Nilam yang tersenyum lebar, entah mengapa melihat Nilam senang membuat hatinya menghangat.


"Ayo turun." ajak Vandam yang langsung diangguki Nilam.


Keduanya berjalan memasuki area sekitar danau dan Nilam tak henti hentinya memuji keindahan tempat itu.


"Apa kau suka?" tanya Vandam yang langsung diangguki Nilam.


"Sangat suka, bagaimana bisa kak Vandam tahu jika aku ingin kesini?"


Vandam tersenyum, merangkul Nilam lalu menoel hidung Nilam, "Aku tahu apapun yang kau sukai."


Wajah Nilam langsung saja merona mendengar ucapan Vandam, pria itu benar benar sudah membuat Nilam takluk.


Mereka asyik menikmati pemandangan danau hingga tak terasa waktu sudah hampir petang.


"Ayo kita pulang, bukankah kau harus belajar?" ajak Vandam.


"Tapi aku masih ingin disini kak." ucap Nilam dengan suara manja.


"Besok kita kesini lagi, sekarang pulang." ajak Vandam yang akhirnya diangguki oleh Nilam.


Sebelum pulang keduanya mampir untuk makan malam setelah itu Vandam melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Kenapa kesini kak?"


"Kau menginap disini."


Nilam terkejut, "Tapi kak besok aku harus sekolah dan seragam gantiku ada dirumah."


"Aku akan mengantarmu pulang besok pagi." kata Vandam dan tanpa sempat mendengar protes dari Nilam,Vandam segera keluar dari mobilnya.


Nilam menghela nafas panjang dan mau tak mau Ia mengikuti Vandam.


Keduanya masuk ke apartemen, Nilam mandi lebih dulu dimana ada baju ganti yang sudah disiapkan oleh Vandam untuknya.


Selesai mandi, Nilam segera belajar karena besok ada ujian praktek dan Ia belum belajar sama sekali.

__ADS_1


Nilam sedang fokus belajar, tiba tiba Vandam duduk disampingnya lalu memberikan segelas coklat hangat untuk Nilam.


"Terimakasih kak." Nilam menerima coklat hangat itu karena dirinya memang haus dan ingin minum yang manis manis.


Vandam masih duduk disamping Nilam, memperhatikan Nilam belajar.


"Bukan begitu caranya." ucap Vandam lalu meminta kertas dan pulpen.


"Jika seperti itu membutuhkan waktu yang lama jadi seharusnya begini." kata Vandam memperlihatkan caranya pada Nilam.


"Hasilnya sama kan?"


Nilam mengangguk, "Bagaimana bisa kakak tahu tentang ini?" tanya Nilam tak menyangka jika Vandam juga sangat pintar.


"Itu soal yang mudah untuk ku!"


Nilam berdecak, "Mulai kan sombongnya!"


Vandam tertawa lalu mengelus kepala Nilam, membiarkan Nilam kembali melanjutkan belajarnya.


Pukul 10 malam, Nilam baru selesai belajar dan matanya sudah sangat mengantuk, Nilam bahkan menguap berkali kali.


"Sudah mengantuk?"


Nilam mengangguk,


"Ya sudah kita tidur sekarang." balas Vandam membantu Nilam membereskan buku bukunya.


Namun nyatanya hingga beberapa menit keduanya berada diranjang, Vandam tak melakukan apapun malah memeluknya lalu memejamkan mata.


Nilam benar benar tak percaya karena Vandam tak melakukan apapun padanya malam ini.


"Kenapa dia malah jadi aneh seperti ini?" heran Nilam namun akhirnya Ia ikut tidur juga bersama Vandam.


Dan paginya, Nilam bangun setelah merasakan ada yang mencium pipinya.


Nilam tersenyum setelah mengetahui jika itu Vandam.


"Bangunlah, kau akan terlambat ke sekolah." kata Vandam dengan tatapan mata ingin, Vandam bahkan meremas gunung kembar Nilam dengan gemas.


"Kak Vandam ingin?" tanya Nilam mengingat semalam Vandam tidak melakukan apapun padanya.


"Ya, aku sangat ingin tapi aku sedang menahan diriku untuk tidak melakukan itu."


"Kenapa?" tanya Nilam.


"Bukankah itu yang kau inginkan? Lagipula aku tidak ingin melihatmu menangis lagi seperti kemarin." ungkap Vandam.

__ADS_1


Nilam tersenyum, Ia tak menyangka jika Vandam akan menuruti keinginanya.


"Tapi aku tidak bisa berjanji untuk nanti malam," kata Vandam lalu mencium bibir Nilam dengan tangan masih meremas gunung kembar Nilam.


"****, aku bisa gila!" umpat Vandam melepaskan ciumannya.


"Pergilah mandi, aku akan mengantarmu pulang lebih dulu untuk mengambil seragam sekolah." kata Vandam yang langsung dituruti oleh Nilam.


Setelah mengantar Nilam ke sekolah, Vandam berniat kembali ke apartemen, Ia ingin menghabiskan waktunya untuk tidur sebelum nanti menjemput Nilam.


Sebelum sampai diapartemen, Vandam mampir ke minimarket untuk membelikan cemilan kesukaan Nilam.


"Vandam..." panggil suara seseorang yang terdengar tak asing, "Lo belum balik ke kota?"


Vandam berbalik dan terkejut melihat Anjani yang memanggilnya baru saja.


"Bukannya Lo kemarin berangkat liburan? Gimana bisa Lo disini?" tanya Vandam masih terkejut mengingat malam itu Ia yang mengantar Riki, Marni juga Anjani sampai ke bandara.


Anjani tersenyum, "Gue ada kerjaan dadakan jadi balik duluan."


Vandam mengangguk paham, Ia berniat meninggalkan Anjani namun Anjani menahan tangannya.


"Eh Lo baliknya lewat jalan sudirman kan?"


Vandam menganguk,


"Bareng dong, gue harus balik ke kantor nih."


Tanpa curiga, Vandam mengangguk saja membiarkan Anjani ikut bersamanya.


Vandam menunggu Anjani didalam mobilnya dimana gadis itu tengah pergi ke toilet untuk buang air kecil.


Tak berapa lama Anjani akhirnya masuk ke mobilnya.


"Nih buat Lo, sebagai ucapan terimakasih karena udah mau nganterin gue." kata Anjani memberikan segelas boba pada Vandam.


"Kebetulan gue haus." ucap Vandam segera menyedot habis boba yang baru saja diberikan oleh Anjani.


Anjani tersenyum puas melihat Vandam menghabiskan bobanya.


Vandam segera melajukan mobilnya, baru dipertengahan jalan, Vandam merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, rasanya panas dan teramat menyiksa.


"Lo kasih obat perangsang diminuman tadi?" tebak Vandam menatap Anjani kesal.


Anjani malah tertawa, "Iyalah, salah sendiri Lo susah dirayu." Anjani mengakui perbuatannya.


"Sialan Lo!" Vandam kesal dan emosi namun Ia juga tak tahan mengingat semalam Ia sudah menahan diri dan sekarang malah minum obat perangsang ditambah lagi Anjani menggodanya, membuka beberapa kancing kemeja atas hingga terlihat gunung kembar Anjani yang sangat mengemaskan.

__ADS_1


"Gue pasrah deh mau Lo apain dan gue janji nggak akan bilang sama Riki."


Bersambung....


__ADS_2